OnePlus – kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan yang menyebut perusahaan berpotensi menghentikan operasionalnya di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara di Eropa. Apabila informasi tersebut benar, langkah ini akan menjadi salah satu perubahan paling besar dalam sejarah OnePlus sejak pertama kali hadir sebagai produsen smartphone dengan konsep perangkat flagship berharga terjangkau.
Hingga kini, perusahaan belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai kabar tersebut. Meski begitu, berbagai laporan dari media teknologi internasional membuat spekulasi mengenai masa depan OnePlus di pasar global semakin berkembang.
Rumor Penutupan Operasi di Pasar Barat
Kabar mengenai kemungkinan hengkangnya OnePlus dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa pertama kali di ungkap oleh media asal Jerman, WinFuture. Informasi tersebut kemudian ramai di beritakan kembali oleh berbagai media teknologi internasional seperti Android Police, GSMArena, Droid-Life, hingga The Verge.
Dalam laporan tersebut di sebutkan bahwa Oppo, selaku perusahaan induk OnePlus. Di perkirakan akan mengumumkan kebijakan baru yang berkaitan dengan operasional merek tersebut dalam waktu dekat.
Namun hingga artikel ini di tulis, OnePlus masih belum memberikan konfirmasi maupun bantahan resmi terhadap rumor tersebut. The Verge juga melaporkan bahwa pihak perusahaan belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait isu yang sedang beredar.
Kondisi tersebut membuat berbagai spekulasi terus berkembang, terutama mengenai arah strategi bisnis OnePlus di pasar internasional.
Rumor Restrukturisasi Sudah Beredar Sejak Awal Tahun
Isu mengenai perubahan besar di tubuh OnePlus sebenarnya bukan pertama kali muncul pada tahun ini. Sejak awal tahun, perusahaan telah beberapa kali di kaitkan dengan berbagai laporan mengenai restrukturisasi bisnis.
Pada Januari, sejumlah media di Amerika Serikat melaporkan bahwa OnePlus tengah melakukan penataan ulang operasional secara menyeluruh. Menanggapi kabar tersebut, perusahaan menegaskan bahwa seluruh aktivitas di Amerika Utara. Termasuk layanan purna jual dan pembaruan perangkat lunak, tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Meski demikian, rumor serupa kembali mencuat beberapa bulan berikutnya. Pada Maret, OnePlus kembali disebut sedang mengurangi eksistensinya di sejumlah pasar internasional. Selanjutnya pada April, muncul laporan yang menyebut beberapa eksekutif OnePlus di kawasan Eropa dan Inggris memilih meninggalkan perusahaan.
Saat itu, pihak OnePlus menjelaskan bahwa mereka tengah melakukan evaluasi terhadap strategi regional dan pengembangan produk di berbagai wilayah sebagai bagian dari penyesuaian bisnis.

OnePlus 15 rilis di China pada Senin (27/10/2025)
Integrasi dengan Oppo Semakin Erat
Selain rumor mengenai penutupan operasional, OnePlus juga di kabarkan akan mengalami perubahan besar dari sisi perangkat lunak. Sejumlah laporan menyebut Oppo berencana menyatukan sistem operasi seluruh mereknya menggunakan ColorOS.
Jika kebijakan tersebut benar diterapkan, OxygenOS yang selama ini menjadi identitas perangkat OnePlus di perkirakan akan di hentikan. Langkah tersebut di nilai sebagai bagian dari upaya konsolidasi bisnis agar pengembangan perangkat lunak menjadi lebih efisien.
Sebenarnya, integrasi antara OnePlus dan Oppo telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Kedua perusahaan di ketahui telah menggabungkan tim riset dan pengembangan, sekaligus menyelaraskan basis kode antara OxygenOS dan ColorOS.
Dengan demikian, kemungkinan penyatuan sistem operasi bukanlah sesuatu yang sepenuhnya mengejutkan bagi para pengamat industri teknologi.
China dan India Disebut Tetap Menjadi Prioritas
Meski beredar kabar mengenai penghentian operasional di pasar Barat, laporan WinFuture menyebut OnePlus masih akan mempertahankan keberadaannya di China dan India.
Namun, posisi OnePlus di perkirakan berubah menjadi salah satu lini produk di bawah Oppo, bukan lagi sebagai merek global yang berdiri secara mandiri seperti selama ini.
Sampai sekarang belum ada informasi pasti apakah perubahan strategi tersebut juga akan memengaruhi distribusi produk OnePlus di kawasan lain, termasuk Asia Tenggara. Oleh karena itu, konsumen di wilayah tersebut masih menunggu kepastian mengenai kelanjutan pemasaran maupun dukungan produk pada masa mendatang.
Perjalanan OnePlus Sebagai “Flagship Killer”
OnePlus didirikan pada 2013 dan mulai menarik perhatian pasar global setelah meluncurkan OnePlus One pada 2014. Smartphone tersebut hadir dengan slogan “Never Settle” dan menawarkan spesifikasi kelas atas dengan harga yang jauh lebih kompetitif di bandingkan perangkat premium dari Samsung maupun Apple.
Strategi tersebut membuat OnePlus cepat memperoleh basis penggemar yang loyal di berbagai negara. Dalam beberapa tahun berikutnya, perusahaan terus menghadirkan perangkat dengan performa tinggi, desain premium, serta pengalaman perangkat lunak yang ringan melalui OxygenOS.
Namun seiring berkembangnya industri smartphone, OnePlus semakin terintegrasi dengan Oppo dalam berbagai aspek bisnis. Apabila rumor penghentian operasional di Amerika Serikat dan Eropa benar-benar terealisasi. Maka keputusan tersebut akan menjadi titik balik terbesar dalam perjalanan OnePlus sekaligus menandai berakhirnya ekspansi global merek yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.