Sejarah Tempe Indonesia mencerminkan perjalanan panjang salah satu kuliner khas Nusantara yang berhasil bertahan selama berabad-abad. Masyarakat Indonesia tidak hanya mengenal tempe sebagai lauk sehari-hari, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya yang terus berkembang dari generasi ke generasi. Berbahan dasar kedelai yang di fermentasi, tempe menawarkan cita rasa khas sekaligus kandungan gizi tinggi sehingga banyak negara mulai memproduksi dan mengonsumsinya.
Saat ini, tempe telah menembus pasar internasional dan di produksi di puluhan negara. Selain itu, pemerintah bersama berbagai kalangan akademisi terus memperjuangkan pengakuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Langkah tersebut bertujuan memperkuat identitas tempe sebagai kuliner asli Indonesia sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat dunia.
Jejak Sejarah Tempe Sejak Abad ke-16
Berbagai sumber sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Jawa telah mengenal tempe sejak abad ke-16. Informasi tersebut muncul dalam sejumlah literatur yang mengulas perkembangan pangan tradisional Nusantara.
Salah satu bukti tertua berasal dari Serat Centhini, naskah sastra Jawa yang menggambarkan kehidupan masyarakat pada masa Kesultanan Mataram. Guru Besar Bidang Pangan, Gizi, dan Kesehatan IPB, Made Astawan, menjelaskan bahwa kata “tempe” muncul dalam beberapa jilid naskah tersebut. Fakta ini memperlihatkan bahwa masyarakat Jawa telah mengonsumsi tempe selama lebih dari 450 tahun.
Sejumlah sejarawan juga berpendapat bahwa wilayah Mataram, yang kini berada di Jawa Tengah, menjadi tempat awal berkembangnya tempe. Mereka meyakini istilah “tempe” berasal dari Indonesia dan tidak memiliki hubungan dengan istilah pangan berbahan kedelai lain seperti tauco, tahu, maupun tauge.
Pendapat tersebut sejalan dengan penjelasan Mary Astuti dalam buku Sejarah Perkembangan Tempe (1999). Ia menegaskan bahwa kata “tempe” memiliki asal-usul tersendiri dan tidak berasal dari istilah pangan fermentasi maupun olahan kedelai yang berkembang dalam tradisi kuliner Tionghoa.
Perkembangan Tempe Bersama Masuknya Tahu ke Jawa
Sejarawan Ong Hok Ham menjelaskan bahwa perkembangan tempe berkaitan erat dengan hadirnya tahu di Pulau Jawa pada abad ke-17. Masyarakat Tionghoa membawa teknik pembuatan tahu, kemudian masyarakat lokal mengembangkan berbagai olahan kedelai yang akhirnya melahirkan tempe.
Seiring waktu, masyarakat semakin membutuhkan sumber protein yang murah, mudah di peroleh, dan bernilai gizi tinggi. Kondisi tersebut semakin terasa ketika sistem tanam paksa pada masa kolonial membatasi ketersediaan berbagai bahan pangan.
Dalam situasi tersebut, masyarakat memilih tempe sebagai salah satu sumber protein utama. Proses pembuatannya relatif sederhana, bahan bakunya mudah di temukan, dan hasil fermentasinya mampu menghasilkan makanan yang bergizi.
Selanjutnya, perpindahan penduduk dari Pulau Jawa ke berbagai wilayah Nusantara turut memperluas penyebaran tempe. Akibatnya, hampir setiap daerah mulai mengenal dan mengembangkan olahan tempe sesuai karakter kuliner setempat.

Ilustrasi tempe.
Ragam Olahan Tempe yang Kaya Nilai Budaya
Popularitas tempe mendorong lahirnya beragam hidangan khas daerah. Setiap wilayah menghadirkan kreasi berbeda sesuai tradisi kuliner dan bahan lokal yang tersedia.
Salah satu hidangan paling terkenal ialah jadah tempe dari Yogyakarta. Menu khas ini memadukan jadah berbahan beras ketan dan kelapa dengan tempe bacem yang memiliki cita rasa manis gurih. Jadah tempe bahkan di kenal sebagai salah satu makanan favorit Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Selain itu, masyarakat Banyumas, Jawa Tengah, mengembangkan tempe bongkrek. Mereka membuat olahan ini dengan mencampurkan kedelai dan ampas kelapa sebelum menjalani proses fermentasi. Harga tempe bongkrek tergolong lebih murah di bandingkan tempe biasa sehingga sempat menjadi pilihan masyarakat.
Namun, sejarah juga mencatat sisi kelam dari tempe bongkrek. Pada sejumlah kasus yang terjadi sejak abad ke-19 hingga awal masa kemerdekaan Indonesia, masyarakat mengalami keracunan setelah mengonsumsinya. Beberapa kejadian bahkan menyebabkan banyak korban jiwa.
Karena alasan keselamatan pangan, pemerintah pada masa Orde Lama akhirnya melarang produksi tempe bongkrek agar masyarakat terhindar dari risiko keracunan.
Tempe Kini Menjadi Superfood yang Mendunia
Perjalanan panjang tempe tidak berhenti sebagai bagian dari tradisi kuliner Indonesia. Kini, dunia internasional mengakui tempe sebagai salah satu makanan bergizi yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Made Astawan menjelaskan bahwa tempe termasuk kelompok superfood karena mengandung protein tinggi, serat, vitamin, mineral, serta berbagai senyawa hasil fermentasi yang membantu tubuh menyerap nutrisi dengan lebih baik. Proses fermentasi juga meningkatkan kualitas gizi kedelai sehingga tempe menjadi pilihan pangan yang sangat baik.
Penelitian mengenai tempe tidak hanya di lakukan oleh ilmuwan Indonesia. Banyak peneliti dari Eropa maupun berbagai negara lain turut mengkaji manfaat pangan fermentasi khas Nusantara ini. Mereka menilai tempe sebagai sumber protein nabati yang sangat baik, terutama bagi masyarakat yang menjalani pola makan vegetarian.
Selain kandungan gizinya, tempe juga menawarkan fleksibilitas dalam pengolahan. Masyarakat Indonesia mengolahnya menjadi beragam hidangan seperti tempe goreng, tempe bacem, orek tempe, sambal tempe, hingga berbagai menu modern. Setiap daerah menghadirkan cita rasa khas yang lahir dari penggunaan rempah dan kearifan lokal.
Melihat nilai sejarah, budaya, dan manfaat kesehatannya, pemerintah bersama akademisi terus memperjuangkan pengakuan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Upaya tersebut di harapkan mampu memperkuat posisi tempe sebagai identitas kuliner Indonesia sekaligus memperluas pengakuannya di tingkat global.
Hingga kini, tempe tetap menjadi bukti bahwa makanan sederhana dapat memiliki nilai budaya yang tinggi, manfaat kesehatan yang besar, serta daya tarik yang mampu menembus batas negara. Kombinasi sejarah panjang, inovasi kuliner, dan kandungan gizi menjadikan tempe sebagai salah satu warisan kuliner paling berharga yang di miliki Indonesia.