Tradisi Maulid Perahu kembali memeriahkan kawasan wisata Rammang-rammang, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, melalui parade puluhan perahu tradisional jolloro yang berlayar di Sungai Puteh. Masyarakat setempat mempertahankan tradisi ini sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus upaya melestarikan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Selain menghadirkan suasana religius, kegiatan tersebut juga memperkuat daya tarik wisata budaya yang mampu memikat wisatawan domestik maupun mancanegara.
Perayaan yang berlangsung di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, pada Sabtu (13/9/2025) itu melibatkan berbagai unsur masyarakat. Pemerintah desa menggandeng lembaga adat, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta sejumlah komunitas lokal untuk menyukseskan acara tahunan tersebut. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga tradisi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Maros kepada khalayak yang lebih luas.
Puluhan Perahu Jolloro Ramaikan Sungai Puteh
Sebanyak 61 perahu tradisional jenis jolloro ikut ambil bagian dalam prosesi Maulid Perahu tahun ini. Seluruh perahu berlayar menyusuri Sungai Puteh yang membelah kawasan karst Rammang-rammang. Panorama alam yang eksotis berpadu dengan hiasan warna-warni di setiap perahu sehingga menciptakan pemandangan yang memikat perhatian para pengunjung.
Para pelaku wisata yang sehari-hari beroperasi di kawasan Rammang-rammang turut menghias perahu mereka dengan berbagai ornamen khas Maulid. Janur kuning, daun pisang, hingga kertas warna-warni menghiasi setiap sudut perahu sehingga suasana perayaan terasa semakin semarak.
Ketua Lembaga Adat dan Budaya Masyarakat Salenrang, M. Nasir, menjelaskan bahwa seluruh peserta merupakan pelaku wisata di kawasan Rammang-rammang. Mereka secara sukarela ikut mempersiapkan perahu agar tampil menarik selama prosesi berlangsung.
Bakul Daun Lontar Menjadi Ciri Khas Tradisi
Keunikan Tradisi Maulid Perahu di Rammang-rammang tidak hanya terlihat dari parade perahunya. Warga juga mempertahankan penggunaan bakul maulid yang dibuat dari anyaman daun lontar. Mereka mengisi bakul tersebut dengan aneka makanan tradisional dan telur berwarna-warni sebagai bagian dari simbol perayaan.
Menurut M. Nasir, penggunaan bakul berbahan daun lontar menjadi pembeda di bandingkan tradisi Maulid di sejumlah daerah lain di Sulawesi Selatan. Banyak masyarakat kini memakai ember sebagai wadah hantaran, sedangkan warga Rammang-rammang tetap mempertahankan bentuk tradisional yang di wariskan oleh para leluhur.
Pada penyelenggaraan tahun ini, sekitar 100 bakul maulid ikut di bawa di atas puluhan perahu yang berlayar di Sungai Puteh. Kehadiran bakul-bakul tersebut semakin memperkuat nuansa budaya yang kental dalam prosesi Maulid Perahu.

Foto: Tradisi Maulid Perahu di kawasan Rammang-rammang Maros.
Tradisi Budaya yang Terus Dijaga
Masyarakat Rammang-rammang memandang Maulid Perahu sebagai tradisi yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan kebersamaan. Setiap tahun mereka bergotong royong menyiapkan berbagai kebutuhan acara, mulai dari menghias perahu hingga menyusun rangkaian prosesi.
Semangat kebersamaan itu tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga menjadi sarana mengenalkan identitas budaya lokal kepada generasi muda. Dengan demikian, tradisi ini tidak berhenti sebagai acara seremonial, melainkan terus hidup dalam kehidupan masyarakat setempat.
Selain menjaga nilai religius, warga juga memanfaatkan momentum ini untuk memperkenalkan potensi wisata Rammang-rammang yang terkenal dengan bentang alam karstnya. Kombinasi antara tradisi budaya dan keindahan alam membuat kawasan tersebut semakin menarik bagi wisatawan.
Pemkab Maros Siapkan Maulid Perahu Sebagai Agenda Tahunan
Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, mengapresiasi pelaksanaan Tradisi Maulid Perahu yang berlangsung meriah. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki potensi besar untuk memperkuat citra Rammang-rammang sebagai destinasi wisata budaya unggulan.
Pemerintah Kabupaten Maros pun berencana memasukkan Maulid Perahu ke dalam agenda tahunan resmi daerah. Langkah itu di harapkan mampu meningkatkan promosi wisata sekaligus menarik lebih banyak wisatawan dari berbagai negara.
Dengan dukungan pemerintah, penyelenggaraan acara ini berpeluang berkembang menjadi festival budaya berskala lebih besar. Selain meningkatkan kunjungan wisata, kegiatan tersebut juga dapat memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat sekitar.
Wisatawan Mancanegara Terpesona
Perayaan Tradisi Maulid Perahu juga menarik perhatian wisatawan asing. Salah seorang pengunjung asal Australia, Loise, mengaku sangat terkesan setelah mengikuti iring-iringan puluhan perahu jolloro di kawasan Rammang-rammang.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi momen pertama yang sangat berkesan karena ia dapat menyaksikan secara langsung tradisi unik yang di padukan dengan panorama alam karst yang menawan. Ia juga mengapresiasi kreativitas masyarakat dalam menghias setiap perahu sehingga tampil begitu indah.
Loise berharap tradisi ini terus di pertahankan dan semakin di kenal oleh wisatawan internasional. Ia menilai Maulid Perahu memiliki daya tarik budaya yang kuat serta layak menjadi salah satu atraksi wisata unggulan Indonesia. Keindahan alam Rammang-rammang yang berpadu dengan kearifan lokal memberikan pengalaman berbeda bagi siapa pun yang datang berkunjung.
Melalui pelestarian Tradisi Maulid Perahu, masyarakat Rammang-rammang tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat posisi kawasan tersebut sebagai destinasi wisata budaya yang memiliki nilai religius, sejarah, dan keindahan alam dalam satu kesatuan yang harmonis.