Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam praktik seni kontemporer. Karya seni tidak lagi terbatas pada medium tradisional seperti lukisan atau patung, tetapi berkembang menjadi sistem kompleks yang melibatkan perangkat keras, perangkat lunak, serta kecerdasan buatan. Salah satu contoh representatif dari pergeseran ini terlihat dalam sebuah instalasi seni robotik yang di pamerkan di Art Basel Miami, sebuah pameran seni internasional bergengsi yang kerap menjadi ruang eksperimen bagi seniman lintas disiplin.
Instalasi tersebut menghadirkan enam robot berbentuk anjing yang menggabungkan unsur robotika, AI, seni visual, dan ekonomi digital. Karya ini menarik perhatian tidak hanya karena aspek estetikanya, tetapi juga karena nilai ekonomi serta pesan kritis yang di sampaikannya terhadap budaya teknologi modern.
Konsep dan Latar Belakang Karya Regular Animals
Instalasi seni bertajuk Regular Animals ini di ciptakan oleh Beeple Studios, studio seni digital yang di pimpin oleh Mike Winkelmann, di kenal luas sebagai Beeple. Studio ini sebelumnya di kenal melalui karya-karya digital berbasis NFT yang menembus pasar seni global.
Dalam Regular Animals, Beeple Studios menghadirkan enam robot anjing dengan wajah tokoh-tokoh berpengaruh di bidang teknologi dan seni. Figur-figur tersebut meliputi Elon Musk, Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, serta dua seniman legendaris dunia, Andy Warhol dan Pablo Picasso. Satu robot lainnya merepresentasikan sang pembuat karya itu sendiri.

Ilustrasi robot anjing Beeple Studios di pameran seni Art Basel, Miami, AS.(Beeple)
Pemilihan figur-figur ini tidak bersifat kebetulan, melainkan mencerminkan relasi antara kekuasaan, kreativitas, dan teknologi dalam masyarakat kontemporer.
Robotika sebagai Medium Ekspresi Artistik
Dalam konteks seni kontemporer, robotika tidak lagi sekadar alat mekanis, melainkan medium ekspresi artistik. Robot-robot dalam instalasi ini di rancang menyerupai makhluk hidup, bergerak secara otonom, dan berinteraksi dengan ruang pameran. Pendekatan ini menantang batas antara objek seni pasif dan entitas aktif yang berpartisipasi dalam proses kreatif.
Material wajah robot di buat dengan detail tinggi agar menyerupai karakter tokoh yang di representasikan. Secara simbolik, bentuk anjing yang secara kultural sering di asosiasikan dengan kesetiaan di padukan dengan wajah figur berkuasa di dunia teknologi, menciptakan ironi visual yang memicu refleksi kritis.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Proses Kreatif
Salah satu aspek paling signifikan dari instalasi Regular Animals adalah pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai bagian dari proses produksi karya. Setiap robot di lengkapi kamera di bagian kepala untuk menangkap citra lingkungan sekitar. Data visual tersebut kemudian di proses menggunakan algoritma AI guna menghasilkan gambar digital.
Hasil pemrosesan AI ini di cetak secara fisik dalam bentuk gambar menyerupai foto polaroid dan di beri label “Excrement Sample”. Proses ini secara sengaja menggunakan metafora biologis untuk mengaburkan batas antara aktivitas mekanis dan proses kreatif yang lazim di asosiasikan dengan makhluk hidup.
Menariknya, setiap robot menghasilkan karakter visual yang berbeda. Robot dengan wajah Picasso, misalnya, menghasilkan citra yang cenderung geometris dan abstrak, sementara robot dengan wajah Mark Zuckerberg menghasilkan visual yang di gambarkan bernuansa fiksi ilmiah. Hal ini menunjukkan bagaimana AI dapat di kondisikan untuk menghasilkan variasi estetika berdasarkan parameter tertentu.
NFT dan Ekonomi Seni Digital
Selain menghasilkan karya fisik, sebagian output visual dari robot-robot ini di verifikasi sebagai NFT (non-fungible token). Dengan demikian, karya seni tersebut hadir dalam dua domain sekaligus, yaitu ruang fisik pameran dan ekosistem digital berbasis blockchain.
Pendekatan ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam ekonomi seni, di mana nilai karya tidak hanya ditentukan oleh objek material, tetapi juga oleh kelangkaan digital, kepemilikan terverifikasi, dan spekulasi pasar. Penjualan keenam robot dengan total nilai mencapai ratusan ribu dolar AS menegaskan kuatnya hubungan antara seni, teknologi, dan kapital.
Implikasi Teoretis dan Budaya
Secara teoretis, Regular Animals dapat dibaca sebagai kritik terhadap kultus individu, dominasi teknologi, dan pergeseran makna kreativitas di era kecerdasan buatan. Dengan menjadikan AI sebagai agen kreatif parsial, karya ini mempertanyakan posisi manusia sebagai satu-satunya subjek pencipta seni.
Instalasi ini juga menyoroti bagaimana seni kontemporer semakin berfungsi sebagai ruang diskursif yang menghubungkan teknologi, budaya populer, dan kekuasaan ekonomi.
Penutup
Karya Regular Animals karya Beeple Studios menunjukkan bagaimana seni kontemporer berkembang melalui integrasi robotika, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital. Instalasi ini tidak hanya berfungsi sebagai objek estetik, tetapi juga sebagai medium refleksi kritis terhadap hubungan manusia, teknologi, dan kreativitas di abad ke-21. Dengan demikian, karya ini menegaskan posisi seni sebagai arena penting dalam memahami transformasi budaya dan teknologi global.