Babad Pasir Luhur kembali mendapat perhatian melalui keterlibatan generasi muda Dukuh Cibun, Banyumas. Tiga anak membawakan naskah kuno tersebut di hadapan sekitar 30 tamu dalam sebuah jamuan makan malam. Dengan demikian, masyarakat setempat menunjukkan bahwa anak-anak dapat mengambil peran penting dalam menjaga kesinambungan tradisi.

Penampilan tersebut menjadi bagian dari Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen pada Senin, 10 Agustus 2026. Selain itu, kegiatan tersebut mempertemukan masyarakat dengan akademisi dan pemerhati budaya yang memiliki perhatian terhadap warisan lokal.

Banyumas memiliki perjalanan sejarah panjang sejak berdiri pada 1571. Kini, kabupaten tersebut memiliki sekitar 1,85 juta penduduk. Di sisi lain, perkembangan zaman membawa tantangan tersendiri bagi masyarakat dalam menjaga berbagai peninggalan budaya.

Regenerasi Pembaca Naskah Menjadi Perhatian

Tradisi membaca manuskrip kuno membutuhkan generasi penerus agar tetap bertahan. Namun, masyarakat setempat sempat menghadapi kekhawatiran mengenai keberlanjutan tradisi tersebut setelah Mbah Sikun meninggal dunia.

Mbah Sikun merupakan salah satu sosok yang memiliki kemampuan membaca naskah lama. Oleh karena itu, kepergiannya mendorong berbagai pihak untuk mencari cara dalam membangun generasi pembaca berikutnya.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Nisa Roiyasa, ikut menjalankan upaya tersebut. Ia menelusuri berbagai buku tulisan tangan beraksara Jawa yang berasal dari peninggalan leluhur.

Selanjutnya, Nisa menggunakan hasil penelusuran itu untuk membantu pembinaan kelompok pembaca muda. Langkah tersebut membuka kesempatan bagi generasi baru untuk mengenal tradisi melalui sumber sejarah yang masih tersedia.

Proses pelestarian tentu membutuhkan ketekunan. Meski demikian, dukungan dari berbagai pihak membantu Nisa menjaga semangatnya ketika menghadapi kelelahan.

Menurut Nisa, dukungan teman-temannya datang ketika ia mulai kehilangan tenaga dan motivasi. Karena itu, kerja bersama memiliki peran besar dalam menjaga keberlanjutan kegiatan budaya.

Babad Pasir Luhur Menyimpan Jejak Sejarah Banyumas

Babad Pasir Luhur menjadi salah satu bagian penting dari kekayaan manuskrip Banyumas. J. Knebel mengompilasi naskah tua tersebut di wilayah Banyumas pada 1900.

Naskah tersebut menyimpan bagian dari perjalanan budaya masyarakat setempat. Akan tetapi, pelestarian manuskrip tidak cukup jika masyarakat hanya menyimpannya sebagai benda bersejarah.

Sebaliknya, masyarakat perlu menghadirkan kembali isi naskah melalui kegiatan yang melibatkan generasi berikutnya. Pembacaan babad, pertunjukan budaya, kajian sejarah, dan pendidikan dapat menjadi sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Keterlibatan anak-anak Dukuh Cibun memberikan contoh nyata mengenai proses regenerasi itu. Dengan cara ini, anak-anak tidak sekadar mengenal manuskrip sebagai peninggalan masa lalu. Mereka juga ikut membawa kembali cerita lama ke ruang publik.

Babad Pasir Luhur

Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen.

Anak Dukuh Cibun Pernah Tampil di Jawa Tengah

Anak-anak Dukuh Cibun sebenarnya telah mengenalkan kebudayaan daerah dalam beberapa kesempatan. Pada 2022, mereka mengikuti festival tingkat Jawa Tengah di Kabupaten Semarang.

Dalam kegiatan tersebut, mereka membawakan kisah Raden Kamandaka melalui maca babad dan jemblungan. Selain itu, penampilan tersebut memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenalkan tradisi Banyumas kepada masyarakat di luar daerah.

Pengalaman tampil juga membantu generasi muda membangun hubungan lebih dekat dengan budaya lokal. Dengan demikian, mereka tidak hanya mempelajari cerita, tetapi juga memahami cara masyarakat terdahulu menyampaikan warisan budaya.

Regenerasi memiliki arti penting bagi kelangsungan sebuah tradisi. Sebab, dokumentasi saja tidak akan cukup tanpa kehadiran orang yang mampu mempelajari dan meneruskan pengetahuan tersebut.

Nasirun Kembangkan Serial Babad Banyumas

Upaya menjaga manuskrip Banyumas juga melibatkan Nasirun Purwokartun. Sejak 2014, pelestari Babad Banyumas tersebut telah mengumpulkan sekitar 100 naskah kuno.

Kemudian, Nasirun menerjemahkan 25 naskah dari koleksi yang berhasil ia himpun. Hasil penerjemahan itu berkembang menjadi lebih dari 100 judul dalam Serial Babad Banyumas.

Penerjemahan memberikan manfaat besar bagi masyarakat masa kini. Pasalnya, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk membaca aksara yang terdapat dalam manuskrip lama.

Oleh sebab itu, versi terjemahan dapat membuka akses yang lebih luas terhadap cerita dan informasi sejarah Banyumas. Masyarakat, khususnya generasi muda, dapat mempelajari isi naskah dengan cara yang lebih mudah.

Upaya tersebut juga melengkapi pelestarian melalui pertunjukan budaya. Sementara itu, dokumentasi tertulis dapat menjadi sumber pembelajaran bagi masyarakat yang ingin mendalami sejarah lokal.

Prasasti Cibun Perkuat Komitmen Pelestarian

Kenduren Budaya Dukuh Tjiboen juga menarik perhatian Tedjo dari Perkumpulan Hidora Banyuwangi. Ia menyoroti pentingnya langkah nyata setelah masyarakat menggelar diskusi mengenai pelestarian budaya.

Menurutnya, pembicaraan mengenai tradisi perlu berlanjut menjadi tindakan. Masyarakat dapat menjalankannya melalui pembinaan generasi muda, dokumentasi, pertunjukan, ataupun kegiatan kebudayaan lainnya.

Sebagai bentuk komitmen, para peserta membubuhkan tanda tangan pada Prasasti Cibun. Langkah tersebut menjadi simbol tekad bersama dalam menjaga tradisi lokal.

Kabupaten Banyumas saat ini memiliki 27 kecamatan serta 331 desa dan kelurahan. Dengan kondisi tersebut, setiap wilayah memiliki peluang untuk menggali kekayaan budaya yang tumbuh dalam kehidupan masyarakatnya.

Gerakan masyarakat Dukuh Cibun menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat tumbuh dari lingkungan kecil. Bahkan, sebuah dukuh dapat menjadi ruang penting untuk mengenalkan manuskrip lama sekaligus membangun generasi penerus.

Pada akhirnya, keterlibatan anak-anak membuat Babad Pasir Luhur memiliki kesempatan untuk terus hadir dalam kehidupan masyarakat. Kolaborasi antara warga, akademisi, pelestari naskah, dan generasi muda juga memperkuat upaya menjaga identitas budaya Banyumas.

Dengan demikian, pelestarian tidak berhenti pada kegiatan mengenang masa lalu. Masyarakat Dukuh Cibun justru membawa warisan tersebut menuju masa depan dengan memberikan ruang kepada generasi baru untuk mempelajari dan meneruskannya.