Iqbal Sanggo Menjaga Budaya Sumbawa melalui musik dengan menggabungkan instrumen tradisional dan aransemen modern. Musisi bernama asli Muhammad Iqbal itu menjadikan lagu sebagai ruang untuk mengenalkan kembali bahasa, petuah leluhur, hingga kepedulian terhadap alam kepada generasi muda.
Pria asal Empang, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), tersebut telah berkecimpung dalam dunia musik sejak kecil. Kini, menjelang usia 40 tahun, ia terus menghasilkan karya bernuansa etnik yang dapat dinikmati melalui berbagai platform musik digital.
Salah satu karya terbarunya adalah lagu berdurasi 5 menit 22 detik yang dirilis pada awal 2026 di bawah label Sambava. Dalam karya tersebut, Iqbal berkolaborasi dengan Muhammad Widi Yantoko untuk mengangkat nilai Parenti Kalanis, yakni adat dan petuah leluhur masyarakat Sumbawa.
Selain menghasilkan karya musik, Iqbal aktif mengikuti kegiatan pelestarian budaya. Ia juga beberapa kali menjadi pembicara dalam sarasehan kebudayaan tingkat regional maupun nasional. Sementara itu, aktivitas bermusiknya membawanya tampil dalam berbagai acara di tingkat lokal, nasional, hingga negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia.
Musik Menjadi Jalan Mengenalkan Identitas Tau Samawa
Bagi Iqbal, musik memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar hiburan. Melalui lagu, ia berupaya menjaga identitas Tau Samawa, istilah yang merujuk kepada orang atau penduduk asli Sumbawa.
Perhatian Iqbal terutama tertuju pada keberlangsungan bahasa dan berbagai nilai tradisional. Ia melihat sebagian generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa ibu. Karena itu, ia memasukkan syair Samawa, lawas, serta istilah yang berkaitan dengan filosofi masyarakat setempat ke dalam karya musiknya.
Pendekatan tersebut bertujuan membawa unsur tradisi ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda. Iqbal tidak menempatkan modernisasi dan tradisi sebagai dua hal yang harus bertentangan. Sebaliknya, ia menggabungkan keduanya agar budaya lokal tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.
Instrumen seperti rebana kebo, rebana ode, gendang, serune, suling, semprong, dan gerok tetap menjadi bagian penting dalam musiknya. Namun, Iqbal memadukan bunyi alat-alat tersebut dengan aransemen kontemporer.
Menurut Iqbal, kebudayaan selalu bergerak mengikuti perkembangan masyarakat. Meski demikian, ia menilai perubahan tersebut tidak boleh menghilangkan unsur asli yang membentuk identitas budaya Sumbawa.
Kepedulian terhadap Alam Masuk ke Dalam Lagu
Tak hanya persoalan bahasa dan tradisi, Iqbal juga membawa isu lingkungan ke dalam musik. Ia menaruh perhatian terhadap perubahan kondisi hutan, sungai, dan lahan di Sumbawa.
Kekhawatiran tersebut kemudian ia olah menjadi karya yang berbicara mengenai hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup. Baginya, alam memiliki keterkaitan erat dengan identitas Tau Samawa.
Iqbal memilih menyampaikan pesan itu melalui lagu karena musik lebih mudah menjangkau generasi muda. Dengan cara tersebut, pendengar dapat menikmati karya sekaligus mengenal pesan budaya dan lingkungan yang ia sisipkan di dalamnya.
Saat ini, karya-karya Iqbal telah tercatat secara resmi dalam perlindungan hak cipta di Kementerian Hukum. Musiknya juga tersedia di sejumlah layanan digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube. Ia telah menerima royalti dari distribusi digital tersebut, meskipun jumlahnya belum besar.
Tumbuh di Lingkungan Seni Sejak Sekolah Dasar
Perjalanan Iqbal Sanggo bersama musik bermula sejak masa kanak-kanak. Ayahnya merupakan guru sekaligus seniman yang mendirikan sanggar seni di Empang. Lingkungan keluarga tersebut membuat Iqbal terbiasa dengan pertunjukan, syair Samawa, serta instrumen tradisional sejak usia sekolah dasar.
Salah satu pengalaman yang masih ia ingat terjadi pada 1993. Saat masih duduk di kelas III SD, Iqbal ikut tampil sebagai pemusik pengiring tari tradisional ketika Lady Diana berkunjung ke Pulau Moyo, Kecamatan Labuhan Badas, Kabupaten Sumbawa.
Pengalaman mengikuti berbagai kegiatan seni bersama ayahnya kemudian membentuk kemampuan musikal Iqbal. Ia mempelajari sejumlah instrumen, termasuk gendang dan serune.
Setelah menyelesaikan SMA, Iqbal melanjutkan pendidikan ke Universitas Mataram di Pulau Lombok. Pada 2006, ia mulai mencoba menciptakan lagu. Awalnya, kegiatan tersebut hanya berangkat dari kegemarannya bernyanyi dan bermain musik.
Dorongan dari orang-orang di sekitarnya kemudian membuat Iqbal lebih serius. Seorang budayawan sekaligus gurunya meminta agar salah satu karya tersebut mendapat penyempurnaan komposisi dan aransemen sehingga dapat mengikuti perlombaan.
Upaya itu membuka jalan baru. Pada 2009, Iqbal meraih penghargaan tingkat nasional sebagai pencipta lagu daerah. Sepanjang perjalanan bermusiknya, ia menyebut telah memperoleh tiga penghargaan.
Sambava Membawa Warna Baru Musik Sumbawa
Iqbal memilih pendekatan etnomusikal dalam mengembangkan karya. Ia tetap mempertahankan karakter musik Sumbawa, tetapi memasukkannya ke dalam format yang lebih dekat dengan musik populer.
Pilihan tersebut sempat mendapatkan penolakan dari sejumlah senior seni di Sumbawa. Karya Iqbal dianggap keluar dari pakem karena ia tidak hanya mengandalkan syair tradisional. Ia menulis lirik dan nada sendiri sekaligus menggabungkan instrumen etnik dengan aransemen modern.
Meski menghadapi penolakan, Iqbal tetap meneruskan konsep tersebut. Kemudian lahirlah album pertama Sambava. Karya dari album itu mendapat respons dari kalangan mahasiswa dan digunakan sebagai pengiring berbagai tarian kontemporer.
Popularitas Sambava juga berkembang di lingkungan mahasiswa asal Sumbawa yang menempuh pendidikan di Lombok, Malang, Yogyakarta, Jakarta, serta sejumlah kota lainnya. Nama karya tersebut kemudian melekat pada kelompok musik Iqbal hingga akhirnya mereka menggunakan Sambava sebagai nama band.
Dalam perkembangannya, karya Iqbal semakin banyak hadir dalam kegiatan masyarakat. Pemerintah daerah juga pernah memakai musik ciptaannya sebagai latar untuk sejumlah program, termasuk kegiatan promosi MXGP di Sumbawa. Selain itu, sejumlah pertunjukan tari Sumbawa menggunakan musik hasil karyanya sebagai pengiring.
Di luar aktivitas bermusik dan kebudayaan, Iqbal bekerja di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) serta aktif sebagai politikus Partai Demokrat.
Bagi Iqbal, keuntungan finansial bukan satu-satunya ukuran keberhasilan karya. Ia lebih menempatkan penerimaan masyarakat terhadap musik etnik Sumbawa sebagai bentuk apresiasi. Melalui pertemuan dengan seniman muda, pertunjukan, dan lagu-lagunya, ia ingin bahasa, budaya, serta perhatian terhadap alam Sumbawa terus hadir dalam kehidupan generasi berikutnya.