Isu Greenland – kembali mencuat dalam dinamika politik internasional setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyampaikan keinginannya untuk menguasai wilayah tersebut. Greenland saat ini berada di bawah kedaulatan Denmark sebagai wilayah semi-otonom. Namun demikian, Trump menilai pulau terbesar di dunia itu memiliki nilai strategis tinggi bagi kepentingan Amerika Serikat, terutama dalam konteks keamanan nasional.
Sejak sebelum memulai masa jabatan keduanya, Trump telah menyuarakan gagasan untuk membeli Greenland. Ia menyampaikan keyakinan bahwa Amerika Serikat mampu memberikan keamanan dan kemakmuran yang lebih besar bagi wilayah tersebut. Menurut Trump, luas wilayah Greenland serta posisinya yang strategis menjadikannya aset penting dalam peta geopolitik global, khususnya di kawasan Arktik.
Kepentingan Keamanan Nasional Jadi Alasan Utama Amerika Serikat
Trump berulang kali menekankan bahwa kepentingan Amerika Serikat terhadap Greenland tidak berfokus pada kekayaan mineral semata. Sebaliknya, ia menyoroti meningkatnya aktivitas Rusia dan China di sekitar wilayah Arktik. Dalam berbagai pernyataan publik, Trump menyebut keberadaan kapal-kapal asing di perairan sekitar Greenland sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.
Selain itu, Trump menilai Denmark tidak memiliki kapasitas penuh untuk menjamin keamanan wilayah tersebut. Oleh karena itu, ia menganggap penguasaan Greenland sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas kawasan. Pernyataan ini kemudian memicu reaksi keras dari pemerintah Denmark serta memunculkan kekhawatiran di kalangan negara-negara anggota NATO.

Pemandangan Nuuk di Greenland (Foto: REUTERS/Sarah Meyssonnier)
Penunjukan Utusan Khusus Memperkeruh Hubungan Diplomatik
Ketegangan semakin meningkat ketika Trump menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus untuk Greenland pada Desember 2025. Langkah ini langsung memicu kemarahan pemerintah Denmark. Sebagai respons, Denmark memanggil Duta Besar Amerika Serikat untuk menyampaikan protes resmi.
Trump kembali menegaskan bahwa Amerika Serikat membutuhkan Greenland demi keamanan nasional. Ia bahkan menyampaikan tekad kuat untuk “memiliki” wilayah tersebut. Pernyataan itu memperlihatkan keseriusan pemerintah Amerika Serikat dalam mendorong agenda geopolitik di kawasan Arktik. Akibatnya, hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Denmark mengalami tekanan signifikan.
Eskalasi Retorika Setelah Operasi Amerika Serikat di Venezuela
Situasi semakin memanas setelah Trump melakukan langkah agresif terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada awal Maret 2026. Setelah peristiwa tersebut, Trump kembali menegaskan bahwa Greenland harus berada di bawah kendali Amerika Serikat. Ia menyampaikan pandangan tersebut kepada wartawan saat berada di pesawat kepresidenan Air Force One.
Selain itu, unggahan simbolik dari lingkaran dalam Trump turut memperkuat spekulasi publik. Katie Miller, istri dari penasihat berpengaruh Stephen Miller, mengunggah gambar bendera Greenland berdampingan dengan bendera Amerika Serikat disertai keterangan singkat bernada provokatif. Unggahan ini kemudian memperluas perhatian internasional terhadap isu Greenland.
Denmark dan Greenland Menyatakan Penolakan Tegas
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen secara terbuka mengecam wacana pencaplokan Greenland. Ia menegaskan bahwa tindakan tersebut akan merusak fondasi aliansi NATO. Frederiksen memperingatkan bahwa setiap bentuk agresi terhadap wilayah anggota NATO akan membawa konsekuensi serius bagi stabilitas keamanan global.
Frederiksen juga menekankan bahwa keamanan Eropa sejak akhir Perang Dunia Kedua bergantung pada solidaritas NATO. Oleh karena itu, ia menilai pernyataan Trump sebagai ancaman langsung terhadap tatanan keamanan internasional. Sejumlah pemimpin Eropa kemudian menyatakan dukungan penuh terhadap Denmark dan Greenland.
Sementara itu, Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen menyampaikan sikap tegas melalui media sosial. Ia meminta Trump menghentikan tekanan dan menghormati kedaulatan Greenland. Nielsen menegaskan bahwa Greenland terbuka terhadap dialog dan diskusi, namun hanya melalui jalur diplomatik yang sah serta berdasarkan hukum internasional.
Posisi Strategis Greenland dalam Geopolitik Global
Greenland menempati posisi strategis di kawasan Kutub Utara. Pulau ini menjadi wilayah terbesar di dunia, meskipun jumlah penduduknya sangat kecil. Sekitar 56.000 orang tinggal di Greenland, dengan mayoritas berasal dari suku Inuit. Sebagian besar wilayah Greenland tertutup lapisan es, sementara penduduk terkonsentrasi di pesisir barat daya, termasuk ibu kota Nuuk.
Sebagai wilayah otonomi Denmark, Greenland menampung pangkalan militer Denmark dan Amerika Serikat. Perekonomian wilayah ini bergantung pada sektor perikanan serta dukungan finansial dari pemerintah Denmark. Dalam beberapa tahun terakhir, minat global terhadap Greenland meningkat seiring potensi sumber daya alam seperti mineral langka, uranium, dan besi.
Selain itu, pemanasan global mulai membuka akses terhadap sumber daya tersebut akibat mencairnya lapisan es. Kondisi ini semakin memperkuat posisi Greenland sebagai wilayah strategis dalam persaingan geopolitik global. Oleh karena itu, isu Greenland tidak hanya menyangkut hubungan bilateral, tetapi juga memengaruhi stabilitas dan keamanan internasional secara luas.