Amerika Serikat (AS) – baru saja memulai operasi untuk menyita kapal tanker minyak yang terhubung dengan Venezuela. Operasi ini terjadi setelah pihak AS berhasil melacak kapal tersebut yang tengah melintasi Samudra Atlantik. Menurut sumber yang mengetahui detail operasi ini, AS meluncurkan upaya penyitaan tersebut setelah kapal tersebut terdeteksi di jalur pelayarannya. Hal ini menggarisbawahi komitmen AS untuk menegakkan sanksi terhadap Venezuela dan kegiatan perdagangan ilegal minyak.

Bella 1: Kapal Tanker dalam Armada Bayangan

Kapal tanker yang awalnya dikenal sebagai Bella 1 mendapat perhatian besar setelah dijatuhi sanksi oleh AS pada tahun 2024. Bella 1 termasuk dalam armada bayangan, kelompok kapal yang digunakan untuk mengangkut minyak ilegal. Dengan bantuan armada ini, Venezuela dapat melanggar embargo internasional dan menjual minyak secara sembunyi-sembunyi. Setelah beberapa waktu, kapal ini mengubah namanya menjadi Marinera dan mulai terdaftar sebagai bagian dari armada kapal Rusia. Di sisi lain, langkah ini memicu perdebatan tentang status hukum kapal tersebut dan menjadi faktor yang memperumit penyitaan oleh pihak AS.

Minyak

Kapal Tanker Bella 2 dikenal beroperasi dalam armada bayangan. Foto/X

Pengejaran oleh Penjaga Pantai AS

Sebelumnya, pada bulan Desember 2025, Penjaga Pantai AS sempat mencoba menyita kapal ini di dekat Venezuela. Namun, kapal tersebut berhasil menghindar dengan berbalik arah dan melarikan diri. Meskipun demikian, AS tidak menyerah dan terus mengejar kapal tersebut. Mereka melacak kapal yang kini berlayar dengan klaim perlindungan dari Rusia. Akhirnya, AS berhasil mengidentifikasi keberadaan kapal saat melintasi pantai Inggris. Ini menunjukkan betapa seriusnya AS dalam mengejar kapal yang terlibat dalam perdagangan ilegal.

Klaim Perlindungan Rusia: Menambah Kerumitan

Pada saat kapal tersebut dikejar, awak kapal mengecat bendera Rusia di lambungnya. Mereka mengklaim bahwa kapal tersebut beroperasi di bawah perlindungan Rusia. Setelah itu, kapal ini muncul dalam daftar kapal resmi Rusia dengan nama baru, yaitu Marinera. Menyusul perubahan tersebut, Rusia mengajukan permintaan diplomatik kepada AS, meminta agar AS menghentikan upaya penyitaan. Namun, meskipun klaim ini dapat membuat situasi lebih rumit, pemerintah AS tetap tidak mengakui status kapal tersebut sebagai milik Rusia. AS bertekad melanjutkan operasi penyitaan, karena mereka memandang kapal itu sebagai bagian dari pelanggaran sanksi yang melibatkan Venezuela.

Penggunaan Aset Militer oleh AS

Untuk mendukung operasi penyitaan, AS memindahkan sejumlah besar aset militer. Antara 3 dan 5 Januari 2026, lebih dari 12 pesawat C-17 AS tiba di pangkalan udara di Inggris. Pangkalan udara Fairford dan Lakenheath menjadi titik pendaratan utama bagi pesawat-pesawat ini. Selain itu, pesawat tempur AC-130 juga terlihat beroperasi di wilayah tersebut. Selain itu, pesawat V-22 Osprey dikerahkan untuk menjalankan misi pelatihan di Inggris. Semua langkah ini menunjukkan kesiapan AS untuk melaksanakan operasi dengan bantuan teknologi dan personel militer.

Kebijakan Blokade terhadap Venezuela

AS telah memperkenalkan kebijakan yang lebih keras terhadap Venezuela dengan memblokir kapal tanker yang mencoba masuk atau keluar dari negara tersebut. Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan “blokade total” pada tahun 2025, bertujuan untuk meningkatkan tekanan terhadap rezim Nicolás Maduro. Kebijakan ini berfokus pada pembatasan akses Venezuela terhadap pasar minyak global, yang merupakan sumber utama pendapatan negara tersebut. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa AS akan terus melaksanakan blokade ini. Menurutnya, kebijakan ini bertujuan untuk mendorong perubahan politik di Venezuela dan mendukung pemerintah sementara yang lebih demokratis.

Penutupan dan Dampak Jangka Panjang

Operasi penyitaan kapal tanker ini menandai upaya AS yang semakin serius dalam menegakkan sanksi internasional. Walaupun kapal tersebut berusaha untuk menghindari pengejaran dengan mengklaim perlindungan Rusia, AS tetap melanjutkan operasi untuk menekan perdagangan ilegal minyak. Langkah ini bukan hanya soal penyitaan kapal, tetapi juga merupakan bagian dari kebijakan AS untuk mendukung transisi politik di Venezuela. Jika berhasil, langkah ini akan memberikan dampak besar bagi ekonomi Venezuela, yang sangat bergantung pada sektor minyak. AS berharap bahwa dengan mengurangi pendapatan dari minyak, Venezuela akan menuju pemerintahan yang lebih stabil dan demokratis.