Warga Tambora – Ketersediaan air bersih masih menjadi persoalan serius bagi sebagian warga perkotaan. Kondisi tersebut kembali muncul di kawasan Jembatan Besi, Jakarta Barat. Warga setempat menghadapi gangguan distribusi air bersih yang berlangsung cukup lama. Aliran air dari PAM Jaya sering tidak mengalir, debit air sangat kecil, dan kualitas air menurun secara signifikan.

Seiring berjalannya waktu, persoalan ini semakin meresahkan. Warga tidak hanya mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan harian, tetapi juga harus menanggung beban ekonomi tambahan. Oleh karena itu, masalah air bersih di Jembatan Besi tidak lagi sekadar gangguan teknis, melainkan telah berubah menjadi persoalan sosial yang memerlukan perhatian serius.

Dampak Proyek Galian terhadap Distribusi Air

Warga Jembatan Besi mengaitkan gangguan distribusi air dengan proyek galian jalan yang berlangsung di sekitar permukiman. Sejak proyek tersebut berjalan, tekanan air PAM mengalami penurunan drastis. Selain itu, aliran air sering terhenti secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan.

Dalam praktiknya, kondisi ini mempersulit aktivitas rumah tangga. Warga tidak dapat mengandalkan air PAM untuk kebutuhan dasar seperti memasak, mandi, dan mencuci. Bahkan, ketika air mengalir, kualitasnya sering keruh dan mengeluarkan bau tidak sedap. Oleh sebab itu, kepercayaan warga terhadap kualitas layanan air bersih semakin menurun.

Krisis air

Salah satu warga RT 003/RW 003 Jembatan Besi, Harijani (64), mengeluhkan air PAM di rumahnya sering mati total dan hanya mengalir sesekali dengan debit yang sangat kecil, Kamis (8/1/2026). ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi

Pengalaman Warga dalam Menghadapi Kelangkaan Air

Salah satu warga RT 003/RW 003 Jembatan Besi, Harijani, menggambarkan situasi yang ia alami selama beberapa bulan terakhir. Menurutnya, aliran air PAM di rumahnya kerap mati total dalam waktu lama. Ketika air mengalir, volumenya sangat minim dan tidak mencukupi kebutuhan harian.

Selain itu, Harijani juga menyoroti kualitas air yang menurun. Air yang keluar sering tampak keruh dan berbau. Kondisi ini membuat air tidak layak digunakan untuk memasak maupun konsumsi. Dengan demikian, warga harus mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Beban Ekonomi dan Sosial Akibat Gangguan Air

Akibat gangguan tersebut, warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan setiap hari. Harijani memilih membeli air pikulan untuk keperluan memasak. Sementara itu, untuk mandi dan mencuci, ia mengambil air dari musala terdekat. Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis air bersih tidak hanya berdampak pada kenyamanan, tetapi juga pada stabilitas ekonomi rumah tangga.

Lebih jauh lagi, situasi ini menciptakan ketergantungan pada sumber air alternatif yang belum tentu berkelanjutan. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut berpotensi memperlebar kesenjangan akses air bersih di wilayah perkotaan. Oleh karena itu, penanganan cepat dan tepat sangat diperlukan.

Harapan Warga terhadap Perbaikan Layanan Air

Warga Jembatan Besi berharap pihak terkait segera mengambil langkah konkret. Mereka menginginkan perbaikan distribusi air yang menyeluruh serta peningkatan kualitas air PAM. Air bersih merupakan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat. Tanpa akses yang memadai, aktivitas harian warga akan terus terganggu.

Selain itu, warga juga berharap adanya koordinasi yang lebih baik antara pelaksana proyek galian dan penyedia layanan air. Dengan koordinasi yang efektif, gangguan distribusi air dapat diminimalkan. Oleh sebab itu, perencanaan infrastruktur harus mempertimbangkan dampak langsung terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Pentingnya Manajemen Infrastruktur Perkotaan

Kasus di Jembatan Besi mencerminkan tantangan pengelolaan infrastruktur perkotaan di kota besar seperti Jakarta. Pembangunan fisik sering berjalan tanpa pengawasan dampak terhadap layanan publik. Akibatnya, masyarakat harus menanggung risiko dari proses pembangunan tersebut.

Melalui pendekatan yang lebih terintegrasi, pemerintah daerah dan penyedia layanan publik dapat mencegah gangguan serupa di masa depan. Perencanaan proyek infrastruktur harus melibatkan analisis risiko terhadap distribusi air bersih. Dengan demikian, pembangunan kota dapat berjalan seiring dengan perlindungan hak dasar warga.

Kesimpulan

Gangguan distribusi air bersih di Jembatan Besi, Tambora, menunjukkan pentingnya pengelolaan layanan publik yang berkelanjutan. Proyek galian jalan yang tidak terkoordinasi telah memicu krisis air bagi warga. Akibatnya, masyarakat harus mengeluarkan biaya tambahan dan mencari sumber air alternatif.

Oleh karena itu, pihak terkait perlu segera memperbaiki sistem distribusi dan kualitas air PAM. Selain itu, pemerintah harus memastikan setiap proyek infrastruktur berjalan dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap kebutuhan dasar warga. Dengan langkah tersebut, akses air bersih yang layak dan berkelanjutan dapat kembali dinikmati oleh masyarakat Jembatan Besi.