Sistem Zodiak China Shio – Selalu menarik perhatian masyarakat, terutama menjelang perayaan Tahun Baru Imlek. Dua belas hewan dalam shio tidak sekadar berfungsi sebagai simbol tahun kelahiran, tetapi juga merepresentasikan karakter dan nilai kehidupan. Namun, satu pertanyaan sering muncul dalam diskusi budaya, yaitu alasan ketiadaan kucing dalam daftar shio. Padahal, manusia telah hidup berdampingan dengan kucing sejak ribuan tahun lalu.
Jawaban atas pertanyaan ini tidak muncul dari catatan sejarah tertulis, melainkan dari legenda kuno yang berkembang dalam tradisi lisan masyarakat Tionghoa. Legenda tersebut mengisahkan persaingan, kecerdikan, dan pengkhianatan yang membentuk urutan shio hingga saat ini. Melalui cerita ini, masyarakat memahami filosofi hidup yang melekat pada setiap hewan shio.
Sayembara Surgawi sebagai Awal Penentuan Shio
Menurut kisah yang tertuang dalam buku Chinese Astrology – Temukan Shio Anda dan Simak Pengaruhnya terhadap Hidup Anda karya Sabrina Liao, asal-usul shio berawal dari keputusan Tuhan di Surga. Pada masa itu, Tuhan ingin menciptakan sistem penanda waktu yang mudah dipahami oleh manusia. Oleh karena itu, Tuhan memerintahkan Dewa Bumi untuk mengadakan perlombaan bagi seluruh binatang.
Perlombaan tersebut memiliki aturan yang sederhana. Dua belas binatang pertama yang berhasil menyeberangi sungai akan mendapatkan kehormatan sebagai simbol dalam kalender. Kabar ini menyebar dengan cepat. Akibatnya, seluruh binatang menyambut tantangan tersebut dengan antusias. Mereka melihat kesempatan ini sebagai bentuk pengakuan abadi dalam kehidupan manusia.

Shio terdiri dari 12 hewan yang melambangkan siklus tahun dalam budaya Tionghoa.
Persahabatan Kucing dan Tikus Sebelum Perlombaan
Dalam legenda ini, kucing dan tikus menjalin hubungan persahabatan yang sangat erat. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama dan saling membantu. Namun, kekhawatiran mulai muncul ketika hari perlombaan semakin dekat. Kucing merasa takut terhadap air karena ia tidak memiliki kemampuan berenang yang baik.
Pada saat yang sama, kerbau menghadapi kendala penglihatan saat harus menyeberangi sungai. Melihat kondisi tersebut, tikus menunjukkan kecerdasannya dengan mengusulkan strategi bersama. Tikus mengajak kucing naik ke punggung kerbau. Dengan cara itu, kucing dapat menyeberangi sungai tanpa menyentuh air, sementara tikus dapat memanfaatkan kekuatan kerbau untuk mencapai garis akhir.
Pengkhianatan Tikus dan Kegagalan Kucing
Kerbau menerima usulan tersebut dengan sikap tulus. Perlombaan pun berlangsung sesuai rencana awal. Namun, ambisi tikus mulai menguasai pikirannya ketika mereka mendekati garis finis. Demi meraih posisi pertama, tikus mengambil keputusan yang menentukan nasib kucing.
Di tengah sungai, tikus mendorong kucing dari punggung kerbau hingga kucing tercebur ke dalam air. Setelah itu, tikus melompat ke depan dan mencapai garis akhir sebagai pemenang pertama. Kerbau menyusul di posisi kedua dengan langkah pasti. Sementara itu, kucing harus berjuang melawan arus sungai hingga akhirnya mencapai garis finis dalam keadaan basah dan kelelahan.
Sayangnya, kuota dua belas pemenang telah terpenuhi. Sejak peristiwa tersebut, kucing kehilangan kesempatan untuk masuk dalam daftar shio. Pada saat yang sama, kisah ini juga menjelaskan awal mula permusuhan antara kucing dan tikus dalam cerita rakyat.
Urutan Dua Belas Hewan Shio dan Maknanya
Perlombaan tersebut menghasilkan dua belas hewan yang kini dikenal sebagai shio. Tikus menempati urutan pertama karena kecerdikan dan keberaniannya mengambil risiko. Kerbau berada di posisi kedua dengan karakter pekerja keras dan tekun. Macan menyusul dengan sifat berani dan kuat. Kelinci melambangkan kelincahan dan kecepatan berpikir.
Naga hadir sebagai makhluk legendaris yang melambangkan kekuatan dan kewibawaan. Ular merepresentasikan daya tarik dan kebijaksanaan. Kuda mencerminkan semangat dan energi tinggi. Domba menunjukkan sisi artistik dan kelembutan. Monyet dikenal karena kecerdasan dan kelincahannya. Ayam melambangkan disiplin dan ketepatan waktu. Anjing mencerminkan kesetiaan. Babi menutup daftar dengan karakter kesabaran dan kehati-hatian.
Persepsi Keliru terhadap Tikus dan Ular
Sabrina Liao juga menyoroti kesalahpahaman masyarakat modern terhadap beberapa shio, terutama tikus dan ular. Banyak orang merasa kecewa ketika mengetahui shio kelahirannya karena asosiasi negatif terhadap hewan tersebut. Padahal, masyarakat Tiongkok kuno memilih hewan-hewan ini berdasarkan nilai praktis dalam kehidupan agraris.
Tikus melambangkan kecerdasan, kemampuan bertahan hidup, dan kepiawaian mengelola sumber daya. Sementara itu, cerita rakyat menggambarkan ular sebagai makhluk yang menarik, bijaksana, dan dermawan. Nilai-nilai ini sangat relevan bagi masyarakat pada masa awal peradaban Tiongkok.
Makna Shio dalam Kehidupan Manusia
Legenda shio tidak hanya berfungsi sebagai cerita pengantar Imlek, tetapi juga menyampaikan pesan moral yang kuat. Tuhan menganugerahkan sifat setiap hewan kepada manusia yang lahir pada tahun yang sama. Oleh karena itu, shio menjadi sarana refleksi diri sekaligus panduan memahami karakter pribadi.
Melalui kisah ini, masyarakat dapat memahami bahwa kecerdikan, kerja keras, dan strategi hidup memiliki konsekuensi. Pada saat yang sama, legenda ini mengajarkan pentingnya kejujuran dan kepercayaan dalam menjalin hubungan. Dengan demikian, cerita shio tetap relevan sebagai warisan budaya yang sarat makna hingga saat ini.