Arab Saudi – Kembali menunjukkan ambisi besarnya dalam mengubah struktur ekonomi nasional. Negara ini mengklaim memiliki cadangan mineral bernilai sekitar US$ 2,5 triliun atau setara Rp 41.943 triliun. Cadangan tersebut mencakup berbagai komoditas strategis seperti emas, seng, tembaga, litium, serta logam tanah jarang termasuk dysprosium, terbium, neodymium, dan praseodymium. Oleh karena itu, sektor pertambangan kini menjadi fokus utama transformasi ekonomi Arab Saudi.

Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, mineral-mineral tersebut juga berperan penting dalam pengembangan teknologi modern. Dengan demikian, Arab Saudi melihat sektor ini sebagai peluang strategis untuk mengurangi ketergantungan pada minyak sekaligus memperkuat posisi geopolitik global.

Pengembangan Sektor Mineral untuk Diversifikasi Ekonomi

Arab Saudi secara aktif mengembangkan sektor mineral sebagai bagian dari visi besar diversifikasi ekonomi. Pemerintah menargetkan pengurangan ketergantungan terhadap minyak yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan negara. Oleh sebab itu, sektor pertambangan ditetapkan sebagai salah satu pilar utama dalam Visi 2030.

Lebih lanjut, sejumlah mineral yang dimiliki Arab Saudi memiliki peran krusial dalam industri kendaraan listrik dan komputasi berteknologi tinggi. Dengan potensi tersebut, Arab Saudi berupaya membangun rantai nilai industri dari hulu hingga hilir. Langkah ini bertujuan menciptakan nilai tambah di dalam negeri sekaligus meningkatkan daya saing global.

Arab Saudi

Foto: Getty Images/iStockphoto/Дмитрий Ларичев

Lonjakan Anggaran dan Lisensi Pertambangan

Sebagai bentuk komitmen nyata, Arab Saudi meningkatkan anggaran eksplorasi pertambangan secara signifikan. Sejak 2021 hingga 2025, anggaran eksplorasi meningkat hingga 595 persen. Selain itu, pemerintah juga mempercepat penerbitan lisensi pertambangan baru bagi perusahaan domestik dan internasional.

Kebijakan ini mendorong masuknya investasi asing serta mempercepat proses eksplorasi dan produksi. Oleh karena itu, Arab Saudi berharap dapat mempersempit jarak dengan negara-negara yang lebih dulu menguasai sektor pertambangan global.

Tantangan Waktu dan Infrastruktur Pengolahan

Meski memiliki potensi besar, pengembangan sektor pertambangan menghadapi tantangan signifikan. Pembangunan fasilitas pengolahan mineral membutuhkan waktu yang panjang. Direktur Eksekutif Securing America’s Future Energy (SAFE), Abigail Hunter, menyebut proses pembangunan pabrik pengolahan memerlukan waktu minimal tiga hingga lima tahun.

Dalam beberapa yurisdiksi, proses tersebut bahkan dapat berlangsung hingga puluhan tahun. Oleh karena itu, Arab Saudi perlu merancang strategi jangka panjang yang matang agar pengembangan sektor ini berjalan efektif dan berkelanjutan.

Reformasi Regulasi dan Insentif Investasi

Untuk mempercepat perkembangan sektor pertambangan, pemerintah Arab Saudi memangkas berbagai hambatan birokrasi. Selain itu, pemerintah juga menurunkan tarif pajak investasi guna menarik minat investor global. Langkah ini bertujuan menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif.

Dengan kebijakan tersebut, Arab Saudi ingin mengejar ketertinggalan dari pemain global di sektor mineral kritis. Oleh karena itu, reformasi regulasi menjadi fondasi penting dalam strategi nasional.

Ambisi Menjadi Pusat Pengolahan Mineral Regional

Dalam kerangka Visi 2030, Arab Saudi menargetkan peran sebagai pusat regional pengolahan mineral penting. Pemerintah tidak hanya berfokus pada eksplorasi, tetapi juga membangun industri pengolahan dan manufaktur, termasuk kendaraan listrik.

Abigail Hunter menilai perkembangan infrastruktur Arab Saudi mendukung ambisi tersebut. Selain itu, posisi geografis Arab Saudi memberikan keuntungan logistik untuk menjalin kemitraan dengan negara-negara di Afrika dan kawasan Selatan global.

Investasi Besar Maaden dan Kemitraan Global

Sebagai langkah konkret, perusahaan tambang milik negara, Maaden, mengumumkan rencana investasi senilai US$ 110 miliar untuk sepuluh tahun ke depan. Perusahaan ini juga membuka peluang kemitraan internasional. CEO Maaden, Bob Wilt, menegaskan pentingnya kolaborasi global untuk mewujudkan ambisi tersebut.

Langkah ini menunjukkan bahwa Arab Saudi tidak bergerak sendiri. Sebaliknya, negara ini mengandalkan kerja sama lintas negara untuk mempercepat penguasaan teknologi dan pasar.

Dinamika Geopolitik dan Tantangan Regional

Transformasi sektor pertambangan Arab Saudi juga menarik perhatian Amerika Serikat dan China. Beberapa tahun lalu, Amerika Serikat sempat mengirim logam tanah jarang dari Arab Saudi untuk dimurnikan di China. Namun, China kemudian memperketat kontrol ekspor mineral tersebut.

Selain itu, Arab Saudi juga menggelontorkan investasi besar di Amerika Serikat, termasuk kerja sama mineral antara Maaden dan MP Materials. Meski demikian, tantangan geopolitik tetap membayangi, terutama terkait hubungan dengan negara-negara Afrika yang juga kaya mineral.

Strategi Kekuasaan Jangka Panjang Arab Saudi

Ketua Critical Minerals Institute Arab Saudi, Melissa Sanderson, menilai transformasi ekonomi ini tidak hanya bertujuan ekonomi. Menurutnya, Arab Saudi ingin meningkatkan pengaruh politik jangka panjang. Dengan memperkuat peran di rantai pasok mineral global, Arab Saudi berupaya menjadi titik tumpu penting dalam dinamika geopolitik dunia.

Oleh karena itu, strategi pertambangan Arab Saudi mencerminkan visi jangka panjang yang menggabungkan ekonomi, teknologi, dan kekuasaan global.