Pemerintah Peru – Kembali melanjutkan proyek pembangunan Bandara Internasional Chinchero yang akan melayani kawasan Machu Picchu. Setelah tertunda selama puluhan tahun akibat persoalan pendanaan dan kasus korupsi, proyek ini kini memasuki tahap percepatan konstruksi. Pemerintah menargetkan penyelesaian bandara pada akhir 2027. Dengan hadirnya fasilitas baru tersebut, wisatawan dapat memangkas waktu perjalanan menuju situs warisan dunia itu secara signifikan.

Bandara Internasional Chinchero akan berdiri di pinggiran kota bersejarah Chinchero, kawasan Andes yang memiliki nilai budaya tinggi. Lokasi ini memungkinkan wisatawan terbang langsung tanpa harus transit lama di Lima maupun Cusco. Oleh karena itu, akses menuju Machu Picchu akan menjadi lebih cepat dan lebih praktis. Pemerintah memperkirakan bandara tersebut mampu menampung hingga delapan juta penumpang setiap tahun. Selain itu, kapasitas tersebut berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan hingga dua kali lipat dibandingkan angka saat ini.

Langkah percepatan pembangunan ini memicu respons beragam. Di satu sisi, pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata menyambut proyek tersebut dengan optimisme. Namun di sisi lain, sejumlah kelompok masyarakat menyuarakan kekhawatiran serius terhadap dampak budaya dan lingkungan.

Dampak Ekonomi dan Potensi Lonjakan Wisatawan

Para pendukung proyek menilai pembangunan bandara baru akan mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Mereka menyoroti peluang kerja di sektor konstruksi, perhotelan, transportasi, serta layanan wisata. Selain itu, peningkatan arus wisatawan diyakini akan memperluas kesempatan usaha bagi masyarakat lokal.

Machu Picchu sendiri mencatat lebih dari 1,5 juta kunjungan pada 2024. Angka tersebut menunjukkan tingginya minat wisatawan global terhadap situs peninggalan Inca abad ke-15 ini. Dengan kehadiran bandara baru, pemerintah memperkirakan lonjakan jumlah wisatawan mulai tahun depan. Akses yang lebih mudah tentu akan menarik lebih banyak pelancong internasional maupun domestik.

Saat ini, wisatawan harus menempuh perjalanan panjang untuk mencapai Machu Picchu. Sebagian besar pelancong terbang ke Lima terlebih dahulu, lalu melanjutkan penerbangan domestik ke Cusco. Setelah itu, mereka harus menggunakan kereta api atau bus menuju Aguas Calientes, kemudian melanjutkan perjalanan darat sekitar 25 menit atau mendaki menuju lokasi benteng. Alternatif lain menawarkan jalur pendakian selama empat hari melintasi Andes. Rute panjang tersebut memang menghadirkan pengalaman petualangan, tetapi juga menuntut waktu dan biaya yang tidak sedikit.

Dengan demikian, bandara baru akan mengubah pola perjalanan wisata secara signifikan. Wisatawan dapat menghemat waktu berjam-jam sekaligus mengurangi kompleksitas perjalanan.

Machu Picchu

Machu Picchu, Peru, Amerika Selatan. Dok. Victor He, Unsplash

Ancaman terhadap Warisan Budaya dan Lingkungan

Meskipun proyek ini menjanjikan manfaat ekonomi, sejumlah arkeolog, sejarawan, serta komunitas adat menyampaikan penolakan tegas. Mereka menilai pembangunan bandara berisiko merusak lanskap budaya yang telah bertahan selama berabad-abad. Lembah Suci di sekitar Chinchero menyimpan jalan Inca, teras pertanian, jaringan irigasi, serta struktur kuno yang masih digunakan hingga kini. Aktivitas konstruksi dan pembersihan lahan dapat mengancam keberadaan warisan tersebut.

Selain itu, para kritikus menyoroti rencana jalur penerbangan yang melintasi kawasan arkeologi Ollantaytambo. Mereka khawatir kebisingan dan getaran pesawat akan mengganggu stabilitas struktur kuno. Kekhawatiran tersebut semakin menguat karena Machu Picchu selama ini telah menerapkan pembatasan kunjungan harian melalui sistem reservasi ketat. Para arkeolog menilai lonjakan wisatawan akan memberikan tekanan tambahan pada reruntuhan yang rapuh.

Tidak hanya itu, para konservasionis juga menyoroti dampak terhadap lingkungan dan tradisi agraris setempat. Sejak pengumuman proyek bandara, sejumlah keluarga petani jagung di sekitar Chinchero mulai menjual lahan mereka. Pembangunan hotel dan fasilitas pendukung wisata berpotensi menggantikan lahan pertanian tradisional. Selain perubahan tata ruang, lalu lintas udara dan kendaraan juga akan mengubah karakter kawasan Andes yang selama ini relatif tenang.

Kekhawatiran lain muncul dari aspek ketersediaan air. Daerah aliran Danau Piuray memasok hampir setengah kebutuhan air kota Cusco. Proyek bandara berpotensi meningkatkan tekanan terhadap sumber daya tersebut. Sementara itu, sistem pengelolaan limbah di wilayah tersebut telah menghadapi beban berat dan belum memiliki infrastruktur daur ulang memadai.

Tantangan Akses dan Dinamika Lapangan

Selain isu pembangunan, akses menuju Machu Picchu kerap menghadapi gangguan sosial dan insiden transportasi. Pada Januari 2024, warga setempat memblokir jalur kereta sebagai bentuk protes terhadap sistem tiket baru. Akibatnya, wisatawan tidak dapat mengunjungi situs tersebut selama beberapa hari. Selain aksi protes, kecelakaan transportasi juga pernah menghambat perjalanan wisatawan. Insiden tabrakan kereta pada akhir 2025 bahkan menimbulkan korban jiwa dan puluhan luka-luka.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa akses menuju Machu Picchu tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada stabilitas sosial dan keselamatan transportasi. Oleh karena itu, pembangunan Bandara Internasional Chinchero menghadirkan peluang sekaligus tantangan besar. Pemerintah Peru kini menghadapi tugas penting untuk menyeimbangkan pertumbuhan pariwisata dengan perlindungan warisan budaya dan keberlanjutan lingkungan.