Hujan deras – Kembali memicu banjir di Kabupaten Serang, Banten, dan membawa dampak langsung bagi warga Desa Baros, Kecamatan Baros. Pada Minggu siang, genangan air mengepung Kampung Polokiong dan menciptakan kondisi darurat di sebuah klinik pengobatan tradisional. Sebanyak 20 pasien tidak dapat meninggalkan lokasi karena air menutup seluruh akses keluar kampung.

Sejak pagi hari, hujan turun dengan intensitas tinggi tanpa jeda signifikan. Air hujan kemudian mengalir dari wilayah yang lebih tinggi menuju permukiman warga. Kondisi ini dengan cepat mengubah jalan kampung menjadi genangan luas yang sulit di lalui. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi pasien yang tengah menjalani perawatan.

Air Naik Cepat dan Menutup Akses Jalan

Sekitar pukul 12.00 WIB, air mulai memasuki rumah warga dan tempat praktik pengobatan tradisional. Tinggi air mencapai lutut orang dewasa dan bertahan selama berjam-jam. Jalan utama kampung tidak lagi dapat di lalui, baik oleh kendaraan maupun pejalan kaki.

Pemilik klinik, Hendri, menjelaskan bahwa banjir datang lebih cepat dari perkiraan. Ia menyebutkan bahwa wilayah tersebut jarang mengalami banjir dengan ketinggian seperti ini. Karena itu, para pasien tidak sempat mengantisipasi kondisi darurat dan akhirnya terjebak di dalam bangunan klinik.

Banjir

Pasien klinik tradisional terjebak banjir di Baros, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (11/1/2026). (ANTARA/Desi Purnama Sari)

Pasien Bertahan di Tengah Genangan

Sebanyak 20 pasien berada di lokasi saat banjir menggenang. Mereka menjalani pengobatan tradisional ketika air mulai naik. Hendri berupaya memastikan keselamatan seluruh pasien sambil menunggu bantuan datang. Namun, hingga beberapa jam setelah banjir terjadi, belum ada tim evakuasi yang tiba di lokasi.

Akses jalan yang tertutup air menjadi kendala utama. Warga sekitar juga tidak dapat memberikan bantuan maksimal karena kondisi lingkungan yang sama-sama terendam. Situasi ini mendorong Hendri dan warga setempat meminta perhatian segera dari instansi terkait agar proses evakuasi dapat berlangsung dengan aman.

Drainase Buruk dan Kontur Tanah Rendah Jadi Pemicu

Banjir di Kampung Polokiong tidak terjadi tanpa sebab. Wilayah ini memiliki kontur tanah yang lebih rendah di bandingkan area Pasar Baros. Ketika hujan deras mengguyur kawasan sekitar, air dari wilayah yang lebih tinggi langsung mengalir ke permukiman warga.

Saluran gorong-gorong yang menghubungkan kawasan pasar dengan kampung juga mempercepat aliran air masuk. Saat debit air meningkat, saluran tersebut tidak mampu menampung volume air secara optimal. Akibatnya, air meluap dan menggenangi rumah warga, fasilitas umum, serta tempat usaha.

Puluhan Rumah dan Fasilitas Umum Terdampak

Banjir tidak hanya mengurung klinik pengobatan tradisional. Di Kampung Polokiong RT 06/RW 01, air merendam 33 rumah warga. Rumah-rumah tersebut di huni oleh 58 Kepala Keluarga dengan total 174 jiwa. Selain itu, genangan air juga memasuki Kantor Desa Baros dan mengganggu aktivitas pelayanan masyarakat.

Di lokasi tersebut, banjir turut berdampak pada kelompok rentan. Enam orang lanjut usia dan 24 anak-anak ikut terdampak genangan air. Kondisi ini meningkatkan urgensi penanganan karena kelompok tersebut membutuhkan perlindungan lebih cepat.

Kampung Siliwung Ikut Tergenang

Banjir juga menjangkau Kampung Siliwung RT 01/RW 05. Meski dampaknya tidak sebesar di Kampung Polokiong, air tetap merendam satu rumah yang di huni oleh dua Kepala Keluarga atau enam jiwa. Warga di lokasi ini tetap bersiaga karena potensi hujan susulan masih ada.

Harapan Warga dan Langkah Ke Depan

Peristiwa banjir di Desa Baros kembali menegaskan pentingnya perbaikan sistem drainase dan pengelolaan aliran air berbasis wilayah. Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap saluran air, terutama di kawasan dengan kontur tanah rendah.

Selain itu, warga juga menginginkan respons yang lebih cepat saat bencana terjadi. Dengan langkah mitigasi yang tepat dan kesiapsiagaan yang lebih baik, risiko banjir di Kecamatan Baros dapat ditekan dan keselamatan warga dapat terjaga secara berkelanjutan.