Gunung Kunci – Pemerintah terus memperkuat komitmen pelestarian warisan sejarah Indonesia. Salah satu langkah nyata muncul melalui dorongan Menteri Kebudayaan Fadli Zon agar Benteng Gunung Kunci dan Benteng Palasari di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, memperoleh status cagar budaya tingkat nasional. Melalui penetapan tersebut, pemerintah berharap pelestarian situs sejarah dan kawasan hutan di sekitarnya dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.

Langkah ini tidak hanya berfokus pada perlindungan bangunan bersejarah. Sebaliknya, kebijakan tersebut juga menyasar penguatan ekosistem alam yang menyatu dengan situs budaya. Oleh karena itu, pelestarian lingkungan dan sejarah dapat berjalan seiring dan saling mendukung.

Nilai Ekologis dan Historis Situs Gunung Kunci

Fadli Zon menilai kawasan Benteng Gunung Kunci memiliki ekosistem alam yang sangat terjaga. Berbagai jenis pepohonan langka tumbuh di area tersebut, namun tetap mencerminkan karakter vegetasi endemik lokal. Selain itu, pengelola kawasan pernah menerapkan konsep memorial plant, yaitu penanaman pohon sebagai simbol peringatan sejarah. Gagasan ini memperkuat keterkaitan antara alam dan nilai historis.

Dengan kondisi tersebut, Fadli mendorong agar pemerintah menetapkan Benteng Gunung Kunci sebagai cagar budaya nasional. Menurutnya, status tersebut akan memberikan perlindungan hukum yang lebih kuat sekaligus meningkatkan perhatian publik terhadap nilai sejarah kawasan ini.

Gunung Kunci

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat meninjau Situs Tahura (Taman Hutan Raya) Gunung Kunci – Palasari yang terletak di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. (ANTARA/HO-Kementerian Kebudayaan)

Peninjauan Langsung sebagai Bentuk Komitmen Pelestarian

Dalam kunjungannya ke Situs Tahura Gunung Kunci–Palasari, Fadli menunjukkan komitmen Kementerian Kebudayaan dalam menjaga peninggalan sejarah di Jawa Barat. Peninjauan ini menjadi langkah awal untuk memastikan kondisi lapangan sesuai dengan rencana pelestarian jangka panjang.

Pada kesempatan tersebut, Fadli menjelaskan bahwa Benteng Gunung Kunci mencerminkan bukti nyata sejarah militer kolonial Belanda. Pembangunan benteng ini berlangsung pada tahun 1917, bertepatan dengan periode Perang Dunia Pertama. Struktur benteng menampilkan rancangan kompleks yang mencakup fungsi pemantauan, logistik, serta administrasi militer.

Lebih lanjut, Fadli menilai Benteng Gunung Kunci dan Benteng Palasari membentuk satu kesatuan sistem pertahanan. Keduanya dibangun dalam periode yang sama dan saling melengkapi fungsi strategis.

Benteng Palasari dan Narasi Sejarah Perang Dunia Pertama

Rangkaian kunjungan berlanjut ke Benteng Palasari yang terletak di kawasan Taman Hutan Raya Palasari. Di lokasi ini, Fadli menegaskan pentingnya narasi sejarah sebagai bagian dari pelestarian cagar budaya.

Hasil identifikasi awal menunjukkan keberadaan delapan benteng di kawasan tersebut yang diperkirakan dibangun pada awal abad ke-20. Konteks sejarah ini mengarah pada keterkaitan langsung dengan Perang Dunia Pertama. Oleh karena itu, Benteng Palasari menyimpan nilai historis yang sangat tinggi dan membutuhkan pendekatan pelestarian berbasis riset.

Pentingnya Riset dan Kolaborasi Lintas Sektor

Fadli menekankan perlunya kajian mendalam untuk memahami fungsi dan peran Benteng Palasari pada masa lalu. Proses riset ini mencakup analisis teknik pembangunan, kegunaan ruang, serta aktivitas militer yang pernah berlangsung di dalamnya.

Untuk mencapai hasil optimal, Fadli mendorong kolaborasi lintas sektor antara Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Sumedang, komunitas sejarah, serta masyarakat sekitar. Melalui kerja sama tersebut, narasi sejarah dapat tersusun secara utuh dan akurat.

Potensi Wisata Budaya dan Edukasi Masyarakat

Selain pelestarian, Fadli juga menyoroti potensi pemanfaatan kedua benteng sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah. Dengan narasi yang kuat, kawasan ini dapat menjadi ruang edukasi yang hidup bagi masyarakat. Pada saat yang sama, pengelolaan yang bijak akan menjaga keseimbangan ekosistem hutan di sekitarnya.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep pariwisata berkelanjutan yang tidak hanya mengejar jumlah pengunjung, tetapi juga kualitas pengalaman dan edukasi.

Dukungan Pemerintah Daerah Sumedang

Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menyatakan dukungan penuh terhadap rencana pelestarian Benteng Gunung Kunci dan Benteng Palasari. Pemerintah daerah berkomitmen memelihara situs tersebut dan mengembangkannya sebagai sarana edukasi sekaligus destinasi wisata sejarah bagi masyarakat.

Dukungan ini memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga aset budaya bangsa.

Tahura Gunung Kunci–Palasari sebagai Kawasan Strategis

Kawasan Tahura Gunung Kunci–Palasari menyimpan nilai strategis sebagai kawasan konservasi sekaligus situs sejarah militer kolonial Belanda. Benteng Gunung Kunci pernah berfungsi sebagai penjara dan gudang amunisi, sementara Benteng Palasari menjalankan peran sebagai pos pengintai strategis.

Kini, kedua situs tersebut berkembang sebagai destinasi wisata edukasi sejarah dan budaya. Melalui penetapan sebagai cagar budaya nasional, kawasan ini berpeluang menjadi pusat pembelajaran sejarah yang berkelanjutan sekaligus simbol pelestarian warisan bangsa.