China – baru-baru ini memperketat pembatasan ekspor material strategis, termasuk bahan-bahan yang berpotensi di gunakan untuk kepentingan militer. Salah satu dampak dari kebijakan ini akan sangat di rasakan oleh industri otomotif Jepang yang bergantung pada pasokan logam tanah jarang (rare earth) dari China. Pasokan bahan baku yang terbatas dapat mengganggu rantai pasok global, terlebih lagi bagi Jepang yang mengandalkan sekitar 70 persen pasokan rare earth dari China. Kebijakan baru ini berpotensi memukul manufaktur Jepang dan memengaruhi pasar global.
Gangguan Pasokan Dapat Pengaruhi Basis Industri Jepang
Pembatasan ekspor yang di terapkan China pada material langka berisiko mengguncang basis industri Jepang, khususnya sektor otomotif. Material seperti dysprosium dan yttrium, yang termasuk dalam kategori rare earth menengah dan berat, sangat vital untuk berbagai komponen industri, termasuk motor listrik dan kendaraan listrik. Tanpa pasokan yang stabil, pabrikan otomotif Jepang akan kesulitan menjaga kelancaran produksi.
Ketergantungan Jepang terhadap China semakin jelas dengan data yang menunjukkan bahwa meski Jepang berhasil mengurangi ketergantungan impor sejak 2009, namun pasokan material langka tetap terpusat di China. Dengan China menguasai lebih dari 90 persen kapasitas pemurnian rare earth global, ketergantungan ini sangat besar, yang pada gilirannya menambah kerentanannya terhadap perubahan kebijakan ekspor China.

Logam tanah jarang adalah komoditas strategis dunia, rare earth sangat dibutuhkan untuk baterai listrik.(Dok. Gotion)
Dampak Langsung pada Industri Otomotif Jepang
Industri otomotif Jepang, yang memproduksi banyak kendaraan untuk pasar global, berada dalam posisi rentan terhadap pembatasan ini. Sebelumnya, sektor otomotif sudah merasakan dampak dari kebijakan China terkait ekspor rare earth. Saat China memberlakukan prosedur baru, Suzuki Motor terpaksa menghentikan produksi model Swift akibat kekurangan pasokan material. Kondisi ini menunjukkan betapa mudahnya gangguan pasokan memengaruhi kelancaran operasional pabrik-pabrik otomotif di Jepang.
Seiji Sugiura, seorang analis di Tokai Tokyo Intelligence Laboratory, menjelaskan bahwa pembatasan pasokan dapat memaksa pabrikan otomotif untuk menghentikan operasi pabrik, tergantung pada merek dan model mobil yang di produksi. Menurutnya, produksi mobil Jepang akan menghadapi tantangan besar jika pasokan bahan baku terbatas.
Perusahaan seperti Mitsubishi juga mengantisipasi potensi dampak lanjutan. Mitsubishi telah menyatakan bahwa mereka tengah memantau perkembangan kebijakan baru China untuk menilai dampaknya terhadap bisnis dan aktivitas usahanya.
Keterkaitan Rare Earth dengan Teknologi Tinggi
Rare earth memainkan peran kunci dalam berbagai teknologi tinggi, mulai dari kendaraan listrik, turbin angin, hingga komponen industri lainnya. Unsur-unsur seperti dysprosium dan yttrium sangat penting dalam menjaga performa motor listrik, terutama pada suhu tinggi. Tanpa pasokan yang stabil, sektor-sektor yang bergantung pada teknologi ini berisiko mengalami gangguan produksi. Oleh karena itu, industri global yang bergantung pada bahan-bahan ini akan langsung merasakan dampaknya.
Perkiraan Kerugian Ekonomi bagi Jepang
Menurut Takahide Kiuchi, seorang ekonom dari Nomura Research Institute, gangguan ekspor rare earth selama tiga bulan dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi Jepang. Kiuchi memperkirakan kerugian mencapai 660 miliar yen, atau sekitar 0,11 persen dari produk domestik bruto (PDB) Jepang. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh kebijakan China terhadap perekonomian Jepang.
Kesimpulan: Ketergantungan dan Risiko Global
Pembatasan ekspor material langka oleh China menambah ketidakpastian dalam rantai pasok global, terutama bagi Jepang. Dengan ketergantungan yang besar terhadap rare earth, Jepang berisiko menghadapi penurunan produksi, baik di sektor otomotif maupun sektor-sektor lainnya yang mengandalkan bahan baku ini. Ke depannya, industri global juga harus mengantisipasi dampak dari kebijakan ekspor ini. Mengingat bahwa China menguasai sebagian besar pasokan global, perubahan kebijakan dapat mengguncang industri teknologi tinggi dan manufaktur di seluruh dunia.