Ketekunan Dan Konsistensi – Sering kali menjadi pembeda utama dalam persaingan industri teknologi global. Hal tersebut tercermin dari perjalanan Nguyen Vo Thuan, mahasiswa asal Vietnam yang berhasil menembus perusahaan teknologi besar di Amerika Serikat setelah menghadapi ratusan penolakan. Kisah ini menunjukkan bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan bagian dari proses pembentukan kompetensi profesional.

Nguyen Vo Thuan menyelesaikan studi Ilmu Komputer di University of Massachusetts Amherst dengan predikat cumlaude pada musim panas tahun lalu. Universitas tersebut termasuk dalam jajaran perguruan tinggi negeri unggulan di Amerika Serikat. Sejak awal, ia memilih jurusan Ilmu Komputer karena melihat peluang karier yang luas di bidang teknologi dan rekayasa perangkat lunak.

Strategi Membangun Kompetensi Sejak Awal Kuliah

Sejak diterima sebagai mahasiswa, Thuan langsung mengembangkan keterampilan pemrograman secara mandiri. Ia mempelajari berbagai bahasa pemrograman serta rutin mengerjakan latihan soal algoritma dan struktur data yang sering muncul dalam proses rekrutmen perusahaan teknologi. Selain itu, ia menyusun strategi penguatan portofolio agar profil profesionalnya semakin kompetitif.

Namun demikian, upaya awalnya tidak langsung membuahkan hasil. Pada musim panas tahun pertama, ia mengirim sekitar 70 lamaran magang ke berbagai perusahaan di Amerika Serikat. Meskipun telah berusaha maksimal, ia tidak memperoleh satu pun panggilan wawancara. Situasi tersebut mendorongnya mengevaluasi kekurangan dan meningkatkan kualitas pengalaman kerja.

Sebagai langkah perbaikan, ia kembali ke Vietnam dan menjalani magang di perusahaan pengembang situs web dengan kompensasi sekitar Rp2,5 juta per bulan. Selama tiga bulan, ia memperdalam pemahaman mengenai GraphQL, Bootstrap, serta Next.js. Pengalaman ini memperkaya kompetensinya sekaligus memperkuat fondasi teknis yang sebelumnya masih terbatas.

Nguyen Vo Thuan

Ditolak 500 Kali, Mahasiswa Ini Akhirnya Tembus Meta, Amazon, hingga Uber. Nguyen Vo Thuan via VN Express/Nguyen Vo Thuan.

Menghadapi 500 Penolakan dan Titik Balik Karier

Memasuki tahun kedua kuliah, Thuan kembali mencoba peruntungan di Amerika Serikat dengan mengirim sekitar 200 lamaran magang tambahan. Akan tetapi, ia kembali menghadapi kegagalan. Secara total, ia telah mengirim hampir 500 lamaran tanpa hasil signifikan. Meski demikian, ia tidak menghentikan langkahnya.

Titik balik muncul ketika ia memperoleh referensi dari kenalan yang bekerja di Meta. Untuk pertama kalinya, ia mendapatkan kesempatan magang di perusahaan teknologi besar. Sayangnya, perusahaan membatalkan tawaran tersebut karena persyaratan domisili yang belum terpenuhi. Tiga semester awal kuliahnya berlangsung secara daring dari Vietnam akibat pandemi Covid-19, sehingga ia belum memenuhi ketentuan tinggal minimal satu tahun di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut sempat mengguncang mentalnya. Namun, ia menemukan motivasi dari kutipan tokoh Iron Man dalam film Spider-Man: Homecoming. Kutipan tersebut mendorongnya memahami bahwa nilai diri tidak boleh bergantung pada satu peluang. Setelah mengubah perspektif, ia kembali fokus meningkatkan kemampuan dan memperluas peluang.

Diterima di Amazon dengan Gaji Kompetitif

Pada musim rekrutmen berikutnya, ia mengirim hampir 300 lamaran. Kali ini, sekitar 10 perusahaan memanggilnya untuk wawancara, termasuk Amazon. Dalam proses seleksi, ia menghadapi pertanyaan mendalam terkait algoritma, struktur data, hingga studi kasus teknis. Berkat persiapan intensif, ia mampu menjawab seluruh pertanyaan dengan percaya diri.

Dua minggu setelah wawancara, Amazon menerimanya sebagai software engineer intern dengan gaji sekitar 9.000 dolar AS atau setara Rp151 juta per bulan. Selama tiga bulan, ia mengembangkan alat bantu untuk mendukung pengelolaan server bagi para engineer. Selain itu, ia memperdalam pemahaman tentang database dan sistem backend. Kontribusinya mendapat apresiasi positif, sehingga perusahaan mengangkatnya sebagai karyawan tetap setelah lulus pada akhir 2023, di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja di industri teknologi.

Pengembangan Karier dan Keputusan Bergabung dengan Uber

Meskipun telah bekerja di Amazon, Thuan terus mencari tantangan baru. Ia mengikuti proses rekrutmen di berbagai perusahaan teknologi dan bahkan menerima tawaran dari Scale AI dengan nilai kompensasi tahunan yang sangat tinggi. Namun, ia memilih bergabung dengan Uber karena tertarik pada pengembangan sistem terdistribusi.

Proses seleksi Uber berlangsung ketat dan bertahap, mulai dari tes daring, wawancara teknis, simulasi kerja, hingga desain sistem. Setelah lolos seluruh tahapan, ia resmi bergabung sebagai software engineer. Saat ini, ia berfokus memastikan sistem peninjauan dan persetujuan kode berjalan cepat, stabil, dan akurat.

Konsistensi sebagai Kunci Keberhasilan

Perjalanan Nguyen Vo Thuan membuktikan bahwa ketekunan, strategi belajar yang tepat, dan kemampuan beradaptasi dapat membuka peluang di industri teknologi global. Ia menghadapi ratusan penolakan, tetapi tetap menjaga optimisme dan meningkatkan kualitas diri secara konsisten. Oleh karena itu, kisah ini memberikan pelajaran penting bagi mahasiswa dan profesional muda bahwa kesuksesan tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang menuntut ketahanan mental dan komitmen tinggi.