Anjlok! – Harga durian Musang King mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level terendah dalam satu dekade terakhir. Kondisi ini memicu munculnya istilah “tsunami durian”, sebuah gambaran yang menunjukkan derasnya pasokan durian di pasar hingga menekan harga secara ekstrem. Fenomena ini tidak hanya mengubah peta bisnis durian, tetapi juga mengguncang penghasilan petani di Malaysia.
Sebelumnya, Musang King selalu menempati posisi durian premium dengan harga tinggi. Bahkan, konsumen di Indonesia rela mengeluarkan lebih dari Rp100.000 per kilogram demi menikmati tekstur lembut dan rasa khasnya. Namun kini, situasi pasar berubah drastis dan menghadirkan kenyataan yang jauh berbeda.
Penurunan Harga Musang King Terjadi Sangat Cepat
Pada November 2025, pedagang masih menjual durian Musang King dengan harga sekitar RM20 per kilogram atau setara Rp82.000. Namun, hanya dalam waktu satu bulan, harga tersebut langsung turun lebih dari 60 persen. Memasuki akhir Desember 2025, pasar mencatat harga Musang King hanya berkisar RM10 per kilogram atau sekitar Rp41.000.
Penurunan harga yang sangat cepat ini mengejutkan banyak pihak. Selain itu, petani durian merasakan dampak paling besar karena mereka menggantungkan pendapatan harian dari hasil panen. Lebih lanjut, margin keuntungan yang sebelumnya sudah tipis langsung menghilang seiring jatuhnya harga di pasaran.

Foto: Site News
Petani Durian Hadapi Tekanan Finansial Berat
Banyak pemilik kebun durian mengaku tidak siap menghadapi situasi ini. Lin Fu Yuan, salah satu pemilik kebun, menyampaikan bahwa harga RM20 per kilogram pada November saja sudah tidak memberikan keuntungan besar. Oleh karena itu, saat harga jatuh hingga RM10, kerugian langsung menghantam arus keuangan kebun.
Selain itu, Zou Sheng Zhe, petani durian di wilayah Raub, menegaskan bahwa petani penyewa lahan dan investor dengan modal besar menanggung dampak paling berat. Mereka harus tetap membayar sewa lahan, biaya perawatan pohon, serta upah pekerja, meskipun harga jual terus merosot.
Dengan demikian, tsunami durian ini tidak hanya memukul harga, tetapi juga memaksa petani memutar otak agar usaha tetap berjalan.
Permintaan Ekspor Melemah dan Pasokan Melimpah
Faktor utama yang mendorong anjloknya harga Musang King berasal dari melemahnya permintaan, khususnya dari pasar ekspor seperti China. Biasanya, pasar ekspor mampu menyerap produksi durian dalam jumlah besar. Namun kali ini, penurunan permintaan membuat pasokan menumpuk di pasar domestik.
Selain itu, musim liburan sekolah tidak mampu mendorong konsumsi secara signifikan. Akibatnya, pedagang menghadapi kelebihan stok yang terus berdatangan dari kebun. Kombinasi antara pasokan berlimpah dan permintaan yang melambat menciptakan tekanan harga yang sangat kuat di tingkat petani.
Oleh sebab itu, istilah “tsunami durian” tidak hanya menggambarkan harga murah, tetapi juga menunjukkan banjir durian yang memenuhi pasar dalam waktu singkat.
Dampak Tsunami Durian bagi Industri dan Konsumen
Bagi pelaku industri durian, kondisi ini menuntut penyesuaian strategi secara cepat. Banyak petani mulai menunda panen, mencari pasar alternatif, atau mengurangi biaya operasional agar bisnis tetap bertahan. Di sisi lain, sebagian besar pelaku berharap situasi ini hanya bersifat sementara dan harga kembali stabil setelah musim panen puncak berakhir.
Sementara itu, konsumen justru merasakan keuntungan besar. Mereka kini dapat menikmati durian Musang King dengan harga yang jauh lebih terjangkau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, permintaan lokal perlahan meningkat, meskipun belum cukup kuat untuk mengangkat harga ke level normal.
Harapan Pemulihan Harga Musang King ke Depan
Ke depan, pelaku pasar berharap keseimbangan antara pasokan dan permintaan segera tercapai. Jika ekspor kembali pulih dan produksi mulai menurun setelah puncak panen, harga Musang King berpotensi naik secara bertahap. Namun demikian, petani tetap perlu menyiapkan strategi jangka panjang agar tidak terlalu bergantung pada satu pasar saja.
Dengan kondisi ini, tsunami durian Musang King menjadi pelajaran penting bagi industri pertanian. Selain itu, fenomena ini menunjukkan pentingnya diversifikasi pasar dan pengelolaan produksi agar gejolak harga tidak kembali terulang di masa depan.