Menteri Kebudayaan – Fadli Zon, menggelar dialog bersama tim konservasi dari Archaeological Survey of India di Kantor Kementerian Kebudayaan di Senayan, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas langkah lanjutan dalam kerja sama konservasi serta pemugaran kompleks Candi Prambanan.
Diskusi ini menjadi bagian penting dari strategi pemerintah Indonesia dalam menjaga dan memperkuat pelestarian warisan budaya nasional. Selain itu, dialog tersebut juga memperlihatkan komitmen kedua negara dalam memperluas kolaborasi internasional pada bidang konservasi situs sejarah.
Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon menegaskan bahwa upaya pelestarian kawasan Prambanan harus mempertimbangkan konteks lanskap budaya yang lebih luas. Dengan demikian, kebijakan konservasi tidak hanya berfokus pada struktur candi utama, tetapi juga memperhatikan keseluruhan lingkungan sejarah yang saling terhubung.
Lanskap Budaya Prambanan dan Situs Sekitarnya
Kawasan Candi Prambanan tidak berdiri sebagai situs tunggal dalam sejarah Nusantara. Kawasan tersebut terhubung erat dengan berbagai situs lain di sekitarnya, seperti Candi Sewu dan Candi Plaosan.
Ketiga kompleks candi tersebut membentuk satu kesatuan lanskap budaya yang mencerminkan interaksi tradisi Hindu dan Buddha pada masa lampau. Oleh karena itu, pendekatan konservasi yang komprehensif perlu mencakup keseluruhan kawasan tersebut.
Selain itu, integrasi pendekatan lanskap budaya membantu para ahli memahami hubungan historis antarbangunan serta pola pengembangan kawasan keagamaan pada masa klasik di Nusantara. Dengan perspektif tersebut, proses konservasi dapat berjalan secara lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Temuan Awal Tim Konservasi Internasional
Tim dari Archaeological Survey of India melakukan kunjungan lapangan awal di kawasan Prambanan sebelum dialog berlangsung. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, tim menemukan bahwa sejumlah candi perwara memerlukan upaya konservasi tambahan.
Candi perwara merupakan bangunan pendamping yang mengelilingi candi utama. Struktur tersebut memiliki fungsi religius dan arsitektural yang penting dalam kompleks candi Hindu. Oleh karena itu, keberadaan serta kondisi bangunan perwara mempengaruhi keutuhan struktur kawasan secara keseluruhan.
Selanjutnya, tim ASI merekomendasikan penggunaan metode anastylosis dalam proses pemugaran. Metode ini memanfaatkan kembali batu asli yang ditemukan di area situs untuk membangun kembali struktur candi yang mengalami kerusakan. Pendekatan tersebut memungkinkan rekonstruksi bangunan dengan tingkat keaslian yang tinggi.
Dalam praktiknya, tim konservasi menggunakan sebagian besar material asli yang masih tersedia. Sementara itu, penambahan batu baru hanya dilakukan secara terbatas untuk menjaga stabilitas struktur bangunan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat melakukan dialog bersama tim pemugaran dari Archaeological Survey of India (ASI) di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta.
Tantangan Teknis dalam Proses Pemugaran
Meskipun metode anastylosis memiliki keunggulan dalam menjaga keaslian struktur candi, proses penerapannya tetap menghadapi sejumlah tantangan teknis. Tim ASI menyoroti kondisi batu arsitektur yang tersebar di berbagai area situs.
Sebaran material tersebut menyebabkan proses identifikasi batu menjadi lebih kompleks. Para ahli harus melakukan dokumentasi detail terhadap setiap elemen arsitektur sebelum menyusunnya kembali ke posisi yang tepat.
Selain itu, tim konservasi perlu mengelompokkan batu berdasarkan tipologi, ukuran, serta fungsi strukturalnya. Tahapan tersebut membutuhkan ketelitian tinggi karena kesalahan identifikasi dapat mempengaruhi keakuratan rekonstruksi bangunan.
Oleh sebab itu, tim ASI mengusulkan tahap awal pekerjaan yang berfokus pada dokumentasi menyeluruh terhadap struktur candi dan komponen batu yang tersedia di lokasi. Dokumentasi ini akan menjadi dasar penting dalam perencanaan pemugaran selanjutnya.
Rencana Proyek Percontohan Konservasi
Untuk memastikan metode kerja yang paling efektif, tim konservasi mengusulkan pelaksanaan proyek percontohan atau pilot project. Dalam tahap ini, tim akan melakukan pemugaran pada satu atau dua candi perwara terlebih dahulu.
Langkah tersebut memberikan kesempatan bagi para ahli untuk menguji pendekatan teknis yang direncanakan. Selain itu, tim juga dapat mengevaluasi berbagai tantangan yang muncul selama proses konservasi berlangsung.
Setelah proyek percontohan selesai, hasil evaluasi akan menjadi dasar pengembangan metode konservasi yang lebih luas. Dengan pendekatan bertahap tersebut, proses pemugaran di kawasan Prambanan dapat berjalan secara lebih sistematis dan terukur.
Dukungan Pemerintah terhadap Kolaborasi Internasional
Menanggapi paparan dari tim ASI, Fadli Zon menyampaikan apresiasi terhadap pengalaman internasional lembaga tersebut dalam konservasi situs sejarah. ASI telah menangani berbagai proyek pemugaran penting di sejumlah negara.
Fadli juga menegaskan bahwa pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama internasional untuk memperkuat pelestarian situs warisan budaya nasional. Melalui kolaborasi tersebut, pemerintah berharap proses konservasi candi perwara di kawasan Prambanan dapat berlangsung lebih cepat tanpa mengabaikan prinsip pelestarian.
Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan pemanfaatan teknologi modern dalam proses konservasi. Pendekatan digital, termasuk kecerdasan buatan, dapat membantu para ahli mengidentifikasi serta menyusun kembali komponen batu candi secara lebih efisien.
Peran ASI dalam Konservasi Warisan Dunia
Archaeological Survey of India merupakan lembaga arkeologi India yang berdiri sejak tahun 1861. Lembaga ini mengelola ribuan monumen bersejarah di India, termasuk berbagai situs yang masuk dalam daftar warisan dunia.
Selain melakukan konservasi di dalam negeri, ASI juga aktif memberikan dukungan teknis pada proyek pemugaran internasional. Lembaga tersebut telah berkontribusi dalam konservasi situs sejarah di berbagai negara seperti Kamboja, Laos, Vietnam, Uzbekistan, dan Mongolia.
Pengalaman internasional tersebut menjadi salah satu alasan utama Indonesia menggandeng ASI dalam upaya pelestarian kawasan Candi Prambanan.
Kesimpulan
Kerja sama antara Indonesia dan India dalam konservasi kawasan Prambanan mencerminkan komitmen bersama dalam menjaga warisan budaya dunia. Dialog antara pemerintah Indonesia dan tim ASI membuka peluang pengembangan metode konservasi yang lebih efektif dan berbasis penelitian ilmiah.
Melalui pendekatan lanskap budaya, proyek pemugaran tidak hanya memulihkan struktur bangunan candi, tetapi juga menjaga nilai sejarah yang terkandung di dalam kawasan tersebut. Dengan dukungan teknologi modern serta kolaborasi internasional, upaya pelestarian warisan budaya di Indonesia dapat berkembang secara lebih berkelanjutan.