Kecerdasan – Buatan atau artificial intelligence (AI) terus melaju tanpa henti. Teknologi ini tidak hanya memengaruhi cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan mengambil keputusan, tetapi juga membentuk ulang struktur kekayaan global. Dalam beberapa tahun terakhir, industri AI menciptakan peluang ekonomi yang sangat besar. Akibatnya, banyak pendiri startup teknologi berhasil mengakumulasi kekayaan dalam waktu yang sangat singkat.
Di satu sisi, publik mengenal nama besar seperti pendiri perusahaan chip dan platform AI ternama. Namun di sisi lain, gelombang baru miliarder muncul dari startup yang sebelumnya tidak banyak orang kenal. Fenomena ini menunjukkan bahwa AI membuka pintu lebar bagi lahirnya kekuatan ekonomi baru, terutama dari kalangan muda dan inovatif.
Valuasi Startup AI Mendorong Lonjakan Kekayaan
Dalam setahun terakhir, lonjakan valuasi startup berbasis AI terjadi hampir di seluruh sektor. Mulai dari pencarian informasi, robotika, hukum, hingga pengembangan perangkat lunak, investor global berlomba menanamkan modal. Oleh karena itu, saham kepemilikan para pendiri startup berubah menjadi aset bernilai fantastis.
Selain itu, pasar melihat AI sebagai fondasi teknologi masa depan. Kepercayaan tersebut mendorong valuasi perusahaan naik bahkan sebelum produk rilis secara luas. Kondisi ini mempercepat lahirnya miliarder baru yang usianya relatif muda dan latar belakangnya beragam.

Chief Technology Officer OpenAI, Mira Murati dalam sebuah wawancara di acara The Daily Show(YouTube/ The Daily Show) (YouTube/ The Daily Show))
Mira Murati dan Kepercayaan Investor pada Reputasi Individu
Mira Murati menjadi contoh nyata bagaimana reputasi personal memegang peran penting dalam ekosistem AI. Setelah keluar dari OpenAI, ia mendirikan Thinking Machines Lab pada Februari 2025. Meskipun perusahaan tersebut masih tergolong baru, investor langsung memberikan penilaian sangat tinggi.
Valuasi Thinking Machines Lab menembus angka sekitar 10 miliar dolar AS. Angka ini mencerminkan keyakinan pasar terhadap visi Murati dan arah teknologi yang ia kembangkan. Dengan demikian, era AI tidak hanya menghargai produk, tetapi juga kepemimpinan dan rekam jejak pendirinya.
Brett Adcock dan Revolusi Robot Humanoid
Sementara itu, Brett Adcock membangun Figure AI dengan fokus pada robot humanoid berbasis kecerdasan buatan. Ia mendirikan perusahaan tersebut pada 2022. Seiring meningkatnya kebutuhan otomatisasi fisik, minat industri terhadap robot cerdas terus meningkat.
Valuasi Figure AI melonjak tajam dan mendorong kekayaan bersih Adcock hingga puluhan miliar dolar AS. Perkembangan ini menegaskan bahwa AI tidak hanya berkembang di ranah digital, tetapi juga merambah dunia fisik dan manufaktur.
Aravind Srinivas dan Masa Depan Mesin Pencari AI
Aravind Srinivas mendirikan Perplexity sebagai mesin pencari berbasis AI generatif. Dalam waktu singkat, platform ini menarik perhatian pengguna global. Pertumbuhan pengguna yang cepat mendorong valuasi perusahaan mencapai sekitar 20 miliar dolar AS.
Menariknya, Srinivas secara konsisten menekankan visi jangka panjang. Ia menempatkan kualitas informasi dan akses pengetahuan sebagai prioritas utama. Pendekatan ini menunjukkan bahwa sebagian pendiri AI tetap menjaga idealisme di tengah lonjakan valuasi.
Startup Hukum AI dan Realitas Kekayaan “Di Atas Kertas”
Winston Weinberg dan Gabe Pereyra mendirikan Harvey, startup perangkat lunak hukum berbasis AI. Dalam beberapa bulan, valuasi perusahaan melonjak dari 3 miliar dolar AS menjadi sekitar 8 miliar dolar AS. Lonjakan ini mencerminkan besarnya potensi AI dalam sektor profesional.
Namun, para pendiri juga mengingatkan publik tentang sifat valuasi startup. Mereka menilai kekayaan tersebut masih bersifat teoritis. Pernyataan ini menegaskan bahwa status miliarder sangat bergantung pada keberlanjutan bisnis dan kondisi pasar.
Scale AI, Meta, dan Peran Strategis Data
Alexandr Wang membangun Scale AI dengan fokus pada pelabelan data untuk sistem AI. Perusahaan ini tumbuh secara konsisten hingga akhirnya menarik investasi besar dari Meta. Setelah itu, valuasi Scale AI mencapai lebih dari 14 miliar dolar AS.
Selain itu, Meta menunjuk Wang sebagai Chief AI Officer. Langkah ini memperkuat posisinya sebagai aktor penting dalam ekosistem AI global. Keberhasilan Scale AI menunjukkan bahwa infrastruktur data memegang peran krusial dalam perkembangan kecerdasan buatan.
Lucy Guo dan Representasi Perempuan di Industri AI
Lucy Guo juga meraih status miliarder berkat kepemilikan saham awal di Scale AI. Meskipun ia keluar dari perusahaan sejak 2018, nilai saham tersebut terus meningkat seiring pertumbuhan valuasi.
Saat ini, Guo aktif membangun firma modal ventura dan mengembangkan bisnis di sektor ekonomi kreator. Keberhasilannya menambah representasi perempuan di industri AI yang selama ini didominasi pendiri pria.
Generasi Muda dan Lonjakan Kekayaan Super Cepat
Fenomena miliarder AI juga muncul dari generasi sangat muda. Mercor, startup data berbasis AI, berdiri berkat inisiatif Brendan Foody, Adarsh Hiremath, dan Surya Midha. Mereka mendirikan perusahaan ini saat usia masih awal 20-an.
Valuasi Mercor mencapai sekitar 10 miliar dolar AS. Angka tersebut menjadikan para pendirinya sebagai miliarder termuda di era kecerdasan buatan. Selain itu, Cursor di bawah Anysphere menunjukkan pola serupa. Startup AI coding ini melonjak valuasinya hingga 27 miliar dolar AS setelah pendanaan besar pada 2025.
Kesimpulan: AI, Kekayaan, dan Tantangan Keberlanjutan
Ledakan AI menciptakan akselerasi inovasi sekaligus lonjakan kekayaan dalam waktu singkat. Namun, sebagian besar kekayaan tersebut masih bergantung pada valuasi dan kepercayaan pasar. Oleh karena itu, tantangan terbesar para miliarder baru terletak pada kemampuan membangun bisnis berkelanjutan.
Ke depan, industri AI akan terus bergerak dinamis. Siapa pun yang mampu membuktikan nilai nyata teknologi mereka akan bertahan. Dengan demikian, era kecerdasan buatan tidak hanya melahirkan miliarder baru, tetapi juga menentukan ulang standar kesuksesan di dunia teknologi global.