Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Papua-Papua Pegunungan di bawah Kementerian Pekerjaan Umum mengambil langkah cepat dalam menangani longsor yang menutup akses Jalan Trans Papua ruas Jayapura–Wamena. Sejak awal kejadian, BBPJN langsung mengerahkan tim teknis beserta peralatan berat ke lokasi terdampak. Langkah ini bertujuan untuk membuka kembali akses jalan serta membantu proses evakuasi kendaraan yang tertimbun material longsor.
Selain itu, kondisi geografis Papua yang memiliki karakter tanah labil dan curah hujan tinggi mendorong perlunya respons terkoordinasi dan terukur. Oleh karena itu, BBPJN tidak hanya fokus pada perbaikan fisik jalan, tetapi juga mengutamakan keselamatan pengguna jalan dan petugas lapangan.
Koordinasi Awal dan Inventarisasi Kerusakan
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pembangunan Jalan Trans Papua, Febryan Nurdiansyah, menjelaskan bahwa pihaknya langsung membangun koordinasi lintas sektor sejak laporan longsor diterima. Tim teknis BBPJN bergerak menuju lokasi meskipun akses jalan terputus total akibat timbunan material longsor.
Selanjutnya, tim lapangan melakukan inventarisasi menyeluruh terhadap titik-titik kerusakan. Proses ini bertujuan untuk memastikan jenis penanganan yang tepat sesuai dengan kondisi medan. Febryan menegaskan bahwa identifikasi lokasi kerusakan menjadi tahap krusial sebelum alat berat mulai bekerja secara maksimal.

Tampak kendaraan yang tertimbun longsor di Jalan Trans Papua Jayapura-Wamena/ Doc. Humas Polda Papua.
Fokus Evakuasi Kendaraan dan Keselamatan Sopir
Di samping pemetaan kerusakan, BBPJN memprioritaskan bantuan kepada para sopir yang terjebak di sekitar lokasi longsor. Tim lapangan aktif memberikan pendampingan serta memastikan kondisi para pengemudi tetap aman. Setelah itu, BBPJN menyiapkan strategi untuk menarik dan mengevakuasi kendaraan yang tertimbun material longsor.
Namun demikian, hingga proses pendataan selesai, pihak BBPJN belum dapat memastikan jumlah kendaraan yang terdampak. Tim masih bergerak menuju beberapa titik yang sulit dijangkau karena kondisi jalan yang belum stabil. Meskipun begitu, alat berat sudah siaga untuk segera melakukan penarikan kendaraan begitu situasi memungkinkan.
Peran Kepolisian dalam Proses Evakuasi
Sejalan dengan upaya BBPJN, Kepolisian Daerah Papua melalui Polres Yalimo turut berperan aktif dalam pengamanan dan evakuasi. Kepala Bidang Humas Polda Papua, Kombes Pol Cahyo Sukarnito, menyampaikan bahwa aparat kepolisian terus memantau proses pembersihan material longsor sejak Senin pagi.
Lebih lanjut, pihak kepolisian menjalin kerja sama dengan perusahaan terkait untuk mempercepat proses evakuasi kendaraan. Meskipun demikian, kepolisian tetap mengedepankan faktor keselamatan personel. Kondisi tanah yang masih labil serta cuaca yang belum stabil meningkatkan risiko longsor susulan di lokasi kejadian.
Imbauan Penundaan Perjalanan bagi Masyarakat
Dalam rangka mencegah risiko yang lebih besar, Polda Papua mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat dan pengguna jalan Trans Papua. Aparat meminta masyarakat menunda perjalanan dari arah Jayapura maupun Wamena hingga kondisi dinyatakan aman.
Selain itu, kepolisian mengingatkan agar masyarakat tidak mendekati area longsor. Curah hujan yang masih tinggi berpotensi memicu pergerakan tanah lanjutan. Polda Papua berkomitmen menyampaikan informasi terbaru terkait pembukaan kembali akses jalan setelah pihak berwenang memastikan keamanan jalur tersebut.
Dampak Hujan Deras terhadap Infrastruktur Jalan
Sebelumnya, hujan deras yang turun sejak Sabtu sore hingga Minggu dini hari memicu longsor besar di ruas Jalan Trans Papua Jayapura–Wamena. Akibat kejadian ini, arus transportasi darat di jalur tersebut terhenti total. Material longsor menutup badan jalan, sementara beberapa kendaraan tertimbun dan puluhan kendaraan lainnya terjebak di sepanjang ruas jalan.
Bahkan, arus sungai yang meningkat menyebabkan satu unit truk roda enam hanyut di kawasan Kali Kil. Kondisi ini menunjukkan bahwa cuaca ekstrem memberikan dampak signifikan terhadap infrastruktur transportasi di wilayah Papua. Oleh sebab itu, penanganan berkelanjutan dan mitigasi risiko bencana menjadi kebutuhan mendesak guna menjaga konektivitas antarwilayah.