Pemerintah Provinsi DKI Jakarta – Menyiapkan perayaan Hari Raya Nyepi pada 19 Maret 2026 dengan pusat kegiatan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Pemerintah daerah menghadirkan pawai ogoh-ogoh serta pemasangan penjor sebagai bagian dari rangkaian perayaan. Langkah ini menghadirkan nuansa budaya Bali di ruang publik ibu kota sekaligus mempertegas komitmen inklusivitas antarumat beragama.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, menyampaikan bahwa pemerintah provinsi ingin menghadirkan pengalaman berbeda dalam perayaan Nyepi tahun ini. Ia menegaskan bahwa panitia akan memasang penjor di kawasan Bundaran HI, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Selain itu, pawai ogoh-ogoh akan meramaikan area tersebut sebagai simbol pembersihan diri menjelang Nyepi.
Komitmen Kesetaraan Perayaan Hari Besar Keagamaan
Lebih lanjut, Pramono Anung menekankan prinsip kesetaraan dalam penyelenggaraan hari besar keagamaan di Jakarta. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah melayani seluruh umat tanpa membedakan latar belakang agama. Oleh karena itu, pemerintah provinsi secara konsisten memfasilitasi perayaan berbagai hari besar seperti Natal, Imlek, Ramadhan, Idul Fitri, hingga Nyepi.
Pendekatan ini memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global yang menghormati keberagaman. Selain itu, kebijakan tersebut mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam merayakan tradisi keagamaan di ruang publik. Dengan demikian, ruang kota tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai ruang ekspresi budaya dan spiritual.

Sejumlah anak mengarak ogoh-ogohÊsaat mengikuti pawai di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (22/3/2025).
Rangkaian Kegiatan Nyepi dalam Empat Klaster
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyusun rangkaian perayaan Nyepi 2026 ke dalam empat klaster utama. Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekda Provinsi DKI Jakarta, Suharini Eliawati, menjelaskan bahwa panitia membagi kegiatan ke dalam klaster keagamaan, sosial kemasyarakatan, festival budaya dan pendidikan, serta kegiatan silaturahmi pasca-Nyepi.
Pada klaster keagamaan, umat Hindu akan melaksanakan Melasti, Tawur Agung Kesanga, Nyepi, dan Ngembak Geni. Sementara itu, klaster sosial dan kemasyarakatan akan menghadirkan kegiatan berbasis partisipasi publik. Selain itu, festival budaya dan pendidikan akan menampilkan parade ogoh-ogoh yang menjadi daya tarik utama masyarakat luas. Setelah Hari Raya Nyepi, umat Hindu juga akan mengikuti Dharma Santi sebagai momentum mempererat tali persaudaraan.
Melalui pembagian klaster tersebut, panitia memastikan setiap kegiatan berjalan terstruktur dan terkoordinasi dengan baik. Dengan strategi ini, pemerintah daerah mampu mengelola arus pengunjung sekaligus menjaga ketertiban selama perayaan berlangsung.
Lokasi dan Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
Panitia menyebarkan lokasi kegiatan di beberapa wilayah Jakarta untuk memperluas partisipasi umat. Untuk upacara Melasti, umat Hindu akan berkumpul pada 15 Maret 2026 di Pura Segara, Jakarta Utara. Kegiatan ini akan melibatkan umat Hindu dari seluruh wilayah DKI Jakarta sebagai bentuk penyucian diri sebelum memasuki rangkaian utama Nyepi.
Selanjutnya, panitia akan menyelenggarakan Tawur Agung Kesanga pada 18 Maret 2026 di Pura Aditya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur. Upacara ini memiliki makna penting dalam tradisi Hindu karena umat memohon keseimbangan alam dan harmoni kehidupan sebelum memasuki hari hening.
Puncak perayaan akan berlangsung pada 19 Maret 2026 di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Pada momentum tersebut, masyarakat akan menyaksikan pawai ogoh-ogoh dan pemasangan penjor yang memperindah kawasan ikonik ibu kota. Pemerintah daerah menargetkan perayaan ini tidak hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang memperkaya identitas Jakarta.
Makna Strategis Perayaan Nyepi di Ruang Publik Jakarta
Perayaan Nyepi di Bundaran HI menghadirkan simbol kuat tentang harmoni keberagaman di Jakarta. Pemerintah provinsi menginisiasi langkah ini untuk memperluas pemahaman lintas budaya serta meningkatkan toleransi antarumat beragama. Selain itu, penyelenggaraan kegiatan di ruang publik strategis mendorong interaksi sosial yang positif di tengah masyarakat urban.
Dengan menghadirkan ogoh-ogoh dan penjor di pusat kota, pemerintah DKI Jakarta menegaskan komitmen terhadap inklusivitas dan kesetaraan. Kebijakan ini juga memperlihatkan bagaimana pemerintah daerah mengintegrasikan nilai spiritual dan budaya ke dalam lanskap perkotaan modern.
Secara keseluruhan, perayaan Hari Raya Nyepi 2026 di Bundaran HI tidak hanya menjadi momentum religius bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi simbol kolaborasi dan persatuan masyarakat Jakarta dalam bingkai keberagaman.