Peringatan Serangan 11 September 2001 tahun ini membawa kembali kisah keberanian para petugas penyelamat dan warga yang membantu orang lain ketika Amerika Serikat menghadapi salah satu tragedi terbesarnya. Presiden AS Donald Trump ikut memberikan penghormatan kepada mereka dalam acara di Ellipse, kawasan dekat Gedung Putih, Selasa (8/9/2026).

Momentum tersebut hadir menjelang seperempat abad sejak tragedi 9/11. Tunnel to Towers Foundation menggelar kegiatan itu dengan menghadirkan petugas tanggap darurat, pejabat pemerintahan, serta anggota Kongres.

Trump menggunakan kesempatan tersebut untuk menegaskan pentingnya menjaga ingatan terhadap orang-orang yang kehilangan nyawa pada 11 September 2001. Ia menyampaikan pesan singkat bahwa Amerika tidak akan melupakan tragedi itu.

Namun, perhatian dalam acara tersebut tidak hanya tertuju pada pidato. Sebuah material bersejarah dari reruntuhan World Trade Center turut hadir sebagai bagian penting dalam kegiatan peringatan.

Material WTC Dibawa Mengelilingi Amerika

Panitia menghadirkan potongan struktur baja yang dahulu menjadi bagian dari Menara Selatan World Trade Center di New York. Baja itu memiliki tinggi sekitar 6,4 meter dengan bobot mendekati 7.700 kilogram.

Program Steel Across America sebelumnya membawa material tersebut berkeliling Amerika Serikat selama beberapa bulan. Perjalanan itu menjadikan potongan struktur WTC sebagai penghubung antara sejarah tragedi dengan masyarakat Amerika saat ini.

Trump memaknai baja tersebut sebagai gambaran kemampuan negaranya untuk bertahan menghadapi teror. Meskipun serangan menghancurkan bangunan dan merenggut ribuan nyawa, menurut Trump, teror tidak dapat memusnahkan kekuatan masyarakat Amerika.

Perjalanan material bersejarah itu selanjutnya akan memasuki New York. Rute perjalanannya memiliki makna khusus karena mengikuti jalur yang berkaitan dengan Stephen Siller.

Siller merupakan petugas pemadam kebakaran New York yang gugur ketika menjalankan tugas pada hari serangan. Dengan membawa baja WTC melalui jalur tersebut, rangkaian peringatan sekaligus mengangkat kembali pengorbanan para petugas penyelamat.

Dua Nama Mendapat Penghormatan Khusus

Trump kemudian mengarahkan perhatian kepada kisah Jeffrey Palazzo dan Welles Crowther. Keduanya memiliki latar belakang berbeda, tetapi sama-sama kehilangan nyawa ketika berupaya membantu orang lain dalam tragedi tersebut.

Palazzo menjalankan tugas sebagai petugas pemadam kebakaran New York. Selain itu, ia tercatat sebagai anggota cadangan Penjaga Pantai Amerika Serikat.

Ia gugur saat melakukan upaya penyelamatan. Untuk menjaga warisan pengabdiannya, Penjaga Pantai AS akan memberi penghormatan melalui sebuah kapal patroli cepat baru di New York.

Trump juga mengangkat kisah Welles Crowther. Sebelum tragedi terjadi, Crowther bekerja sebagai pedagang saham dan aktif sebagai sukarelawan pemadam kebakaran.

Pada 11 September 2001, Crowther membantu sejumlah orang keluar dari World Trade Center. Bandana merah yang ia kenakan kemudian membuat masyarakat mengenalnya sebagai sosok “pria berbandana merah”.

Crowther tidak berhasil keluar dari tragedi tersebut. Namun, tindakan penyelamatannya terus mendapat penghormatan bertahun-tahun kemudian.

Dalam rangkaian acara kali ini, Trump memberikan Presidential Medal of Freedom kepada Crowther. Alison, ibu Crowther, bersama Paige yang merupakan saudara perempuannya, hadir untuk menerima penghargaan itu.

Peringatan Serangan 11 September 2001

Detik-detik menara kembar WTC ditabrak pesawat yang dibajak teroris saat serangan 9/11 berlangsung.

Pengalaman Trump di Kawasan Kehancuran

Selain mengangkat cerita para korban, Trump menceritakan pengalamannya sendiri setelah serangan terjadi. Ia mengaku pernah berada di sekitar area kehancuran dan berdiri tidak jauh dari bangunan yang menimbulkan suara berderit.

Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran bahwa struktur bangunan dapat runtuh. Trump mengatakan dua petugas pemadam kebakaran kemudian membawanya menjauh dari area tersebut.

Meski menceritakan kejadian itu dalam pidatonya, Trump tidak menyebutkan secara terperinci waktu peristiwa tersebut berlangsung.

Sekitar 150 personel tanggap darurat dari New York, Washington, dan Pennsylvania turut mengikuti kegiatan penghormatan. Kehadiran mereka memperkuat fokus acara terhadap jasa para petugas yang menangani dampak tragedi 9/11.

Trump Soroti Kehilangan Besar Cantor Fitzgerald

Nama Howard Lutnick juga muncul dalam pidato Trump. Lutnick, yang kini menjabat Menteri Perdagangan AS, pernah memimpin perusahaan keuangan Cantor Fitzgerald yang memiliki kantor di World Trade Center.

Tragedi tersebut memberikan pukulan besar bagi perusahaan itu. Lutnick kehilangan adiknya, Gary, serta lebih dari 650 karyawan Cantor Fitzgerald.

Trump menyoroti upaya Lutnick setelah serangan. Ia memuji langkah Lutnick dalam membangun kembali perusahaan serta memberikan dukungan kepada keluarga orang-orang yang kehilangan nyawa.

Frank Siller selaku Ketua sekaligus CEO Tunnel to Towers Foundation juga menyoroti makna potongan baja yang hadir dalam acara. Baginya, material dari WTC tersebut mewakili keberanian yang masyarakat dan petugas penyelamat tunjukkan ketika menghadapi situasi luar biasa pada 2001.

Empat Pesawat Mengubah 11 September 2001

Tragedi 9/11 melibatkan pembajakan empat pesawat komersial yang terbang di wilayah timur Amerika Serikat. Para penyerang mengambil alih pesawat hampir dalam rentang waktu bersamaan dan menggunakannya untuk menyerang sejumlah sasaran.

World Trade Center menjadi lokasi serangan pertama. Sebuah pesawat menghantam Menara Utara pada pukul 08.46 waktu setempat. Kemudian, pesawat berikutnya menghantam Menara Selatan pada pukul 09.03.

Kebakaran besar segera melanda kedua gedung. Banyak orang menghadapi kesulitan keluar dari lantai-lantai atas, sedangkan asap tebal memenuhi kawasan sekitar kompleks tersebut.

Kedua menara yang memiliki 110 lantai akhirnya runtuh dalam waktu kurang dari dua jam setelah serangan dimulai.

Para pembajak juga mengarahkan pesawat ketiga menuju Pentagon. Pesawat itu menghantam bagian barat markas militer AS tersebut pada pukul 09.37.

Sementara itu, situasi berbeda terjadi di pesawat keempat. Para penumpang melakukan perlawanan sehingga pesawat akhirnya jatuh di sebuah lapangan di Pennsylvania pada pukul 10.03. Para pembajak diperkirakan menjadikan Gedung Capitol di Washington DC sebagai sasaran.

Serangkaian serangan pada hari itu merenggut 2.977 nyawa, di luar 19 pembajak. New York mencatat sebagian besar korban.

Ingatan 9/11 Tetap Terjaga Setelah Hampir 25 Tahun

Hampir 25 tahun telah berlalu, tetapi tragedi 11 September tetap memiliki tempat besar dalam ingatan masyarakat Amerika Serikat. Peringatan tidak hanya berfokus pada kehancuran World Trade Center, melainkan juga pada manusia yang kehilangan nyawa dan keberanian mereka yang berusaha menyelamatkan sesama.

Potongan baja dari Menara Selatan kini membawa bagian dari sejarah tersebut ke berbagai wilayah Amerika. Sementara itu, penghormatan kepada Palazzo, Crowther, Siller, serta para petugas lainnya kembali memperlihatkan sisi kemanusiaan di balik tragedi besar itu.

Melalui peringatan serangan 11 September, kisah tentang korban, keluarga, dan petugas penyelamat kembali hadir menjelang 25 tahun 9/11. Pesan utama dalam acara tersebut tetap sama: perjalanan waktu tidak menghapus ingatan terhadap orang-orang yang kehilangan nyawa pada hari itu.