Koperasi Merah Putih – Di kawasan Taman Budaya Soetedja memunculkan gelombang penolakan dari kalangan seniman dan budayawan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Para pegiat seni menilai area taman budaya harus tetap fokus untuk aktivitas kesenian, pertunjukan budaya, dan pengembangan kreativitas masyarakat.
Komunitas seni Banyumas langsung bergerak setelah mengetahui adanya pemasangan patok di sisi selatan Gedung Soetedja yang berada di Jalan Pancurawis, Kelurahan Purwokerto Kidul. Lokasi tersebut masuk dalam area taman budaya yang selama ini menjadi pusat kegiatan berbagai komunitas seni di Banyumas.
Koordinator Forum Seniman dan Budayawan Peduli Taman Budaya Soetedja, Rohadi, menegaskan bahwa para seniman tidak mempermasalahkan keberadaan Koperasi Merah Putih. Namun, komunitas seni menolak keras apabila pembangunan berlangsung di kawasan taman budaya.
Menurut Rohadi, para pelaku seni merasa terganggu karena Taman Budaya Soetedja saat ini sedang berkembang pesat. Berbagai kegiatan seni mulai berjalan rutin dan jumlah komunitas yang menggunakan fasilitas tersebut terus bertambah.
Taman Budaya Jadi Pusat Aktivitas Kreatif
Dalam beberapa tahun terakhir, Taman Budaya Soetedja berkembang menjadi ruang penting bagi seniman Banyumas. Komunitas teater, tari tradisional, musik, seni rupa, sastra, hingga pelaku budaya lokal rutin menggelar kegiatan di lokasi tersebut.
Banyak seniman muda juga mulai memanfaatkan taman budaya sebagai tempat belajar, berdiskusi, dan menampilkan karya mereka. Kehadiran ruang budaya tersebut memberi energi baru bagi perkembangan seni di Banyumas.
Karena itu, para pegiat seni menganggap pembangunan koperasi di area taman budaya akan mengurangi fungsi utama kawasan tersebut. Mereka khawatir aktivitas seni dan budaya kehilangan ruang gerak apabila pemerintah mulai mengalihkan area taman budaya untuk kebutuhan lain.
Rohadi menilai ribuan pelaku seni di Banyumas memiliki kepentingan besar terhadap keberadaan taman budaya. Menurutnya, pemerintah seharusnya mendengar suara komunitas budaya sebelum mengambil keputusan terkait pemanfaatan lahan di kawasan tersebut.
Seniman Banyumas Simpan Luka Lama
Penolakan terhadap pembangunan koperasi tidak muncul tanpa alasan. Komunitas seni Banyumas masih menyimpan pengalaman pahit ketika Gedung Soetedja lama di Jalan Gatot Soebroto hilang akibat pembangunan Pasar Manis Purwokerto beberapa tahun lalu.
Saat itu, para seniman terus memperjuangkan keberadaan ruang budaya agar Banyumas tetap memiliki pusat kegiatan seni. Perjuangan panjang tersebut akhirnya melahirkan Taman Budaya Soetedja di lokasi baru.
Karena sejarah tersebut, para pegiat seni merasa sangat kecewa ketika pemerintah kembali menghadirkan kebijakan yang dianggap mengancam keberlangsungan ruang budaya.
Rohadi menegaskan bahwa komunitas seni tidak ingin mengalami kekecewaan yang sama untuk kedua kalinya. Para seniman ingin menjaga Taman Budaya Soetedja sebagai simbol perjuangan dan kebanggaan masyarakat Banyumas.

Pintu masuk Taman Budaya Soetedja, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (26/5/2026).
Komunitas Seni Kritik Minimnya Komunikasi
Selain mempersoalkan lokasi pembangunan, para budayawan juga menyoroti minimnya komunikasi dari pihak pemerintah daerah. Komunitas seni mengaku tidak pernah menerima undangan diskusi ataupun pelibatan resmi dalam pembahasan pembangunan Koperasi Merah Putih.
Kondisi tersebut memunculkan rasa kecewa di kalangan seniman. Mereka merasa pemerintah mengabaikan aspirasi pelaku budaya yang selama ini aktif memanfaatkan kawasan taman budaya.
Bagi komunitas seni Banyumas, taman budaya bukan hanya tempat pertunjukan. Kawasan tersebut juga menjadi ruang edukasi budaya, tempat regenerasi seniman muda, sekaligus pusat interaksi lintas komunitas kreatif.
Karena itu, para pegiat seni meminta pemerintah membuka ruang dialog sebelum mengambil keputusan terkait pemanfaatan area taman budaya.
Forum Seniman Siapkan Gerakan Penolakan
Forum Seniman dan Budayawan Peduli Taman Budaya Soetedja kini mulai menggalang dukungan dari berbagai komunitas seni di Banyumas. Mereka ingin memperkuat gerakan penolakan agar pemerintah membatalkan rencana pembangunan koperasi di kawasan taman budaya.
Selain mengumpulkan dukungan, forum tersebut juga menyiapkan surat keberatan resmi untuk disampaikan kepada pemerintah daerah dan pihak legislatif.
Komunitas seni berharap pemerintah segera mencari lokasi alternatif untuk pembangunan Koperasi Merah Putih. Menurut mereka, Banyumas masih memiliki banyak lahan lain yang lebih tepat tanpa harus mengorbankan ruang budaya.
Seniman Dorong Pengembangan Fasilitas Budaya
Di tengah polemik tersebut, para seniman justru berharap pemerintah memperkuat fasilitas seni di kawasan Taman Budaya Soetedja. Komunitas budaya Banyumas menilai taman budaya masih membutuhkan berbagai fasilitas pendukung agar aktivitas seni berkembang lebih maksimal.
Para pegiat seni mengusulkan pembangunan asrama seniman, ruang pameran, serta fasilitas pendukung pertunjukan budaya sesuai rencana awal pengembangan kawasan.
Mereka percaya fasilitas yang lengkap akan membantu meningkatkan kualitas kegiatan seni sekaligus menarik lebih banyak generasi muda untuk terlibat dalam pelestarian budaya daerah.
Taman Budaya Jadi Simbol Identitas Banyumas
Bagi masyarakat seni Banyumas, Taman Budaya Soetedja memiliki nilai yang sangat penting. Kawasan tersebut mencerminkan identitas budaya lokal sekaligus menjadi bukti perjuangan panjang komunitas seni dalam mempertahankan ruang kreativitas.
Karena itu, para seniman berkomitmen menjaga fungsi taman budaya agar tetap menjadi rumah bagi kegiatan seni dan budaya di Banyumas. Mereka berharap pemerintah daerah menghormati sejarah perjuangan tersebut dan mendukung perkembangan ruang budaya demi masa depan generasi kreatif di daerah.