Ratusan Ribu Warga Iran Berkumpul Di Teheran pada Jumat (18/9/2026) ketika pemerintah memperlihatkan besarnya dukungan terhadap program sukarelawan pertahanan di tengah konflik yang masih berlangsung. Kerumunan memenuhi kawasan pusat ibu kota dalam sebuah pawai yang mempertemukan warga sipil, unsur militer, serta pejabat tinggi negara.
Pemerintah mengaitkan kegiatan tersebut dengan kampanye Janfaday-e Iran. Program itu membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pelatihan militer terbatas dan membantu sistem pertahanan nasional.
Suasana pawai memperlihatkan kuatnya nuansa patriotik. Peserta membawa bendera Iran dan sebagian mengenakan pakaian tempur. Warga yang berada di sepanjang jalur turut menyambut rombongan ketika mereka melintasi pusat Teheran.
Iran menggelar mobilisasi tersebut setelah perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel berlangsung selama beberapa bulan. Konflik bermula setelah kedua negara melancarkan serangan terhadap Iran pada Februari 2026.
Program Pertahanan Warga Menarik Banyak Pendaftar
Pemerintah Iran telah mempromosikan Janfaday-e Iran melalui media pemerintah selama beberapa hari sebelum pawai berlangsung. Otoritas mengajak warga yang berminat untuk mendaftarkan diri sebagai sukarelawan.
Program tersebut tidak hanya mengumpulkan peserta. Pemerintah juga berencana membekali mereka dengan kemampuan dasar militer, termasuk latihan menggunakan senapan serbu.
Jenderal Hassan Hassanzadeh, Komandan Garda Revolusi di Teheran, menyampaikan bahwa jumlah warga yang telah mendaftarkan diri mencapai lebih dari 600.000 orang. Menurut perkiraannya, jumlah peserta yang mengikuti pelatihan nantinya dapat melewati angka satu juta.
Sementara itu, media pemerintah Iran memperkirakan jumlah peserta yang hadir dalam pawai Jumat pagi menembus 300.000 orang. Angka itu berasal dari pihak Iran dan belum mendapatkan verifikasi independen.
Para sukarelawan nantinya berfungsi sebagai kekuatan tambahan yang mendukung Garda Revolusi Iran dan milisi Basij.
Hossein Taeb, kepala baru Basij, menyebut konsep pertahanan tersebut akan melibatkan masyarakat dalam skala luas. Pemerintah Iran juga berencana membawa kegiatan serupa ke kota-kota lain.
Pejabat Tinggi Iran Hadiri Pawai di Teheran
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut hadir menyaksikan kegiatan tersebut. Sejumlah petinggi pemerintahan dan komandan militer mendampinginya.
Di tengah kerumunan, sebagian peserta menyuarakan penolakan terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ada pula peserta yang menginjak bendera kedua negara tersebut.
Marzieh Afaghi, perempuan berusia 24 tahun yang datang bersama suami dan anaknya, menyampaikan sikapnya terhadap ancaman AS. Ia menegaskan bahwa dirinya ingin menunjukkan rakyat Iran tidak takut menghadapi tekanan terhadap negaranya.
Aksi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pertemuan para sukarelawan. Iran sekaligus menjadikannya ruang untuk menunjukkan perlengkapan pertahanan kepada masyarakat.

Para wanita yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran membawa senapan saat parade bergaya militer Janfada, atau Pengorbanan untuk Iran, yang diselenggarakan pemerintah di Teheran, Iran.
Iran Tampilkan Drone dan Sistem Pertahanan Udara
Berbagai perangkat militer muncul sepanjang kegiatan. Iran antara lain memperlihatkan baterai pertahanan antipesawat.
Anggota perempuan Garda Revolusi juga terlihat berada di sekitar kendaraan yang membawa senapan mesin. Selain itu, Iran menghadirkan drone yang sebelumnya memiliki kaitan dengan operasi terhadap kapal di Selat Hormuz.
Kawasan Selat Hormuz menjadi salah satu titik penting selama konflik berlangsung. Gangguan keamanan di jalur tersebut memengaruhi aktivitas pengiriman minyak dan gas alam dari kawasan Teluk.
Pada hari berlangsungnya pawai, pemerintah Iran mengumumkan serangan terhadap Trend, kapal tanker minyak berbendera Togo. Iran menuding kapal tersebut melakukan upaya ilegal ketika hendak melewati Selat Hormuz.
Pusat Operasi Maritim Inggris atau UKMTO melaporkan proyektil mengenai sebuah kapal tanker dan menyebabkan kebakaran. Awak kapal kemudian mampu memadamkan api tersebut.
Data UKMTO juga menunjukkan rata-rata 24 kapal per hari melintas dengan fasilitasi militer AS di lepas pantai Oman selama tujuh hari terakhir. Walaupun kapal masih bergerak melalui kawasan itu, volume lalu lintas pelayaran secara keseluruhan tetap sekitar 90 persen di bawah tingkat sebelum perang.
Konflik Berlangsung Bersamaan dengan Tekanan Dalam Negeri
Selain menghadapi persoalan keamanan, Iran menanggung tekanan ekonomi selama perang. Blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran serta sanksi baru Washington ikut memperberat situasi.
Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk terus mengangkat pesan persatuan nasional. Kampanye sukarelawan menjadi salah satu cara pemerintah memperluas keterlibatan masyarakat dalam menghadapi konflik.
Situasi politik dalam negeri Iran sebelumnya juga mengalami gejolak. Pada Januari 2026, persoalan ekonomi memicu gelombang demonstrasi nasional. Tuntutan massa kemudian berkembang melampaui masalah ekonomi.
Menurut kelompok aktivis, respons aparat terhadap demonstrasi tersebut menyebabkan lebih dari 7.000 orang meninggal. Mereka juga menyebut aparat menahan puluhan ribu orang.
Beberapa bulan kemudian, pemerintah menyampaikan angka yang jauh lebih besar mengenai keterlibatan masyarakat dalam program sukarelawan. Pada Mei 2026, pejabat Iran mengklaim lebih dari 30 juta orang telah mendaftarkan diri melalui formulir daring maupun pertemuan publik. Jumlah penduduk Iran sendiri sekitar 90 juta jiwa.
Associated Press menyatakan belum dapat memastikan secara independen kebenaran klaim 30 juta pendaftar tersebut.
Pawai terbaru di Teheran kini memperlihatkan langkah Iran memperluas jaringan sukarelawan pertahanannya. Pemerintah menggabungkan pelatihan warga dengan kekuatan Garda Revolusi dan Basij ketika konflik eksternal, tekanan ekonomi, serta dinamika politik domestik terus berlangsung.