Warga Korea Selatan – Belakangan ramai membeli kantong sampah untuk stok pribadi. Penjualan kantong sampah melonjak drastis, tiga kali lipat dari biasanya, sementara kantong sampah makanan meningkat dua kali lipat. Lonjakan ini dipicu oleh kekhawatiran akibat perang yang terjadi antara Iran dan Israel serta dampak global dari keterlibatan Amerika Serikat.

Menurut laporan Korea Times, Jumat (27/3/2026), permintaan kantong sampah mulai terlihat pada awal Maret 2026, tetapi tanda-tanda penimbunan produk plastik mulai muncul sekitar pertengahan bulan. Penjualan meningkat dua digit sejak 15 Maret, bertepatan dengan kekhawatiran di industri petrokimia bahwa blokade Selat Hormuz dapat mengganggu pasokan minyak. Minyak bumi sendiri merupakan bahan baku utama pembuatan nafta, yang menjadi bahan dasar berbagai produk plastik, termasuk kantong sampah.

Lonjakan Penjualan Kantong Sampah di Toko Swalayan

Jaringan toko serba ada CU mencatat, penjualan kantong sampah makanan dari 15–21 Maret meningkat 153,3 persen dibanding minggu sebelumnya. Penjualan kantong sampah standar melonjak 216,4 persen pada periode yang sama. GS25 mencatat peningkatan penjualan kantong sampah makanan sebesar 20,6 persen dan kantong sampah biasa naik 9 persen. Sementara itu, 7-Eleven dan Emart24 juga melaporkan pertumbuhan penjualan dua digit untuk produk serupa.

Peningkatan permintaan hampir menghabiskan persediaan kantong berukuran 10 liter dan 20 liter, yang paling banyak di gunakan rumah tangga. Beberapa toko hanya memiliki kantong 75 liter atau lebih besar. Beberapa pengecer bahkan mulai membatasi jumlah pembelian per orang untuk mencegah kelangkaan akibat pembelian panik.

Korsel

Kantong berbahan plastik ini biasanya berakhir pada tempat pembuangan sampah sehingga menyebabkan polusi lingkungan semakin meningkat.

Pemerintah Pastikan Pasokan Aman

Menanggapi kepanikan pembelian, Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan menegaskan pasokan kantong sampah tetap aman. Pemerintah menyatakan memiliki stok lebih dari tiga bulan di seluruh negeri. Pembatasan pembelian per orang di terapkan hanya sebagai langkah antisipasi agar pembelian panik tidak meluas. Pejabat kementerian menekankan langkah ini tidak terkait dengan kekurangan pasokan.

Dampak Perang Timur Tengah pada Penerbangan

Selain memicu pembelian kantong sampah, konflik di Timur Tengah berdampak pada sektor penerbangan Korea Selatan. Harga tiket pesawat melonjak, membuat banyak pelancong mempertimbangkan ulang perjalanan luar negeri mereka. Seorang calon pengantin yang berencana berbulan madu ke Spanyol mencatat biaya perjalanan naik dari 1,6 juta won (±Rp18 juta) menjadi 2,4 juta won (±Rp27 juta). Penerbangan ke Australia juga naik dari 1,03 juta won (±Rp11,6 juta) menjadi 1,5 juta won (±Rp16,9 juta).

Portal e-commerce Naver memperingatkan bahwa harga tiket kemungkinan akan naik hingga tiga kali lipat mulai April 2026 akibat kenaikan harga bahan bakar. Mereka menyarankan pelanggan memesan tiket sebelum akhir Maret untuk menghindari biaya tambahan. Tarif rute tertentu di perkirakan naik, misalnya Osaka hingga 36.000 won (±Rp405 ribu), Bangkok 84.000 won (±Rp944 ribu), dan Paris 196.500 won (±Rp2,2 juta). Kenaikan ini mencerminkan harga Mean of Platts Singapore (MOPS), patokan global untuk harga minyak olahan yang digunakan perusahaan Korea, termasuk maskapai.

Perusahaan Travel Menyesuaikan Layanan

Agen perjalanan, seperti Hana Tour dan Mode Tour, melaporkan lonjakan permintaan penerbitan tiket lebih awal. Pelanggan yang rencananya terbang setelah April di arahkan untuk menerbitkan boarding pass lebih awal agar terhindar dari biaya tambahan bahan bakar. Banyak pelanggan memilih strategi ini daripada membatalkan perjalanan, sehingga agen memprioritaskan koordinasi cepat dengan seluruh kantor cabang di negeri itu.

Kesimpulan

Kekhawatiran akibat perang Timur Tengah memicu perilaku pembelian panik di Korea Selatan, terlihat dari lonjakan penjualan kantong sampah dan kenaikan permintaan tiket pesawat. Meski pemerintah menegaskan pasokan aman, masyarakat tetap cemas terhadap dampak geopolitik global. Sektor ritel dan penerbangan menyesuaikan strategi untuk menjaga layanan tetap lancar. Situasi ini mencerminkan bagaimana konflik internasional dapat memengaruhi perilaku konsumen dan sektor ekonomi secara luas, bahkan di negara yang relatif jauh dari lokasi konflik.