Indonesia’s Horse Racing (IHR) – Paku Alam Cup 2026 kembali menghadirkan semangat baru bagi dunia pacuan kuda Indonesia. Kejuaraan yang berlangsung di Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ini tidak hanya menyuguhkan persaingan sengit antarjoki dan kuda terbaik, tetapi juga menghidupkan kembali kecintaan masyarakat terhadap olahraga berkuda.
Kolaborasi antara Pordasi, Sarga.co, dan Kadipaten Pakualaman menghadirkan konsep yang lebih dekat dengan publik. Ketiga pihak tersebut ingin menjadikan pacuan kuda bukan sekadar olahraga kompetitif, melainkan bagian dari gaya hidup, hiburan, dan identitas budaya yang mampu menarik perhatian lintas generasi.
Melalui IHR Paku Alam Cup 2026, Yogyakarta kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu daerah yang memiliki sejarah panjang dalam tradisi berkuda di Indonesia.
Kelas Lokal DIY Dorong Kebanggaan Masyarakat
Salah satu daya tarik utama dalam ajang ini hadir melalui kelas lokal DIY. Kadipaten Pakualaman mengusulkan kategori tersebut sebagai bentuk dukungan nyata terhadap perkembangan komunitas pacuan kuda di Yogyakarta.
Ketua Komisi Pacu Pengurus Pusat Pordasi, Muchammad Munawir, menjelaskan bahwa kelas lokal memberikan kesempatan lebih luas bagi pemilik kuda asal DIY untuk tampil di arena kompetisi bergengsi.
Seluruh peserta dalam kategori ini berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Para pemilik membawa kuda-kuda terbaik mereka untuk menunjukkan kualitas sekaligus menjaga eksistensi pacuan kuda di tingkat daerah.
Lima kuda turut meramaikan persaingan dalam kelas lokal tersebut, yaitu Berkah Sari, Tarzan, Masih Rindu 99, Belova, dan Putra Audy. Kehadiran mereka membuktikan bahwa masyarakat Yogyakarta masih memiliki antusiasme tinggi terhadap olahraga pacuan kuda.
Kelas lokal juga membuka ruang bagi komunitas untuk saling berinteraksi, berbagi pengalaman, dan memperkuat jaringan pelaku olahraga berkuda di DIY.
Perebutan Piala Paku Alam Tambah Prestise Kejuaraan
Selain kelas lokal, IHR Paku Alam Cup 2026 menghadirkan pertandingan bergengsi melalui kelas terbuka Handicap 2.000 meter. Pada kategori ini, para peserta memperebutkan Piala Paku Alam yang memiliki nilai historis dan simbolis tinggi.
Panitia menerapkan aturan khusus terhadap trofi tersebut. Seorang peserta berhak membawa pulang piala sebagai milik pribadi apabila berhasil meraih kemenangan sebanyak tiga kali secara berturut-turut.
Aturan tersebut mendorong setiap tim untuk mempersiapkan strategi terbaik, meningkatkan kualitas latihan, serta menjaga performa kuda secara konsisten. Persaingan pun berlangsung semakin menarik karena setiap peserta mengejar prestasi sekaligus kehormatan.

Peserta Indonesia’s Horse Racing (IHR) Paku Alam Cup 2026 tengah berlomba merebutkan posisi pertama di lintasan pacuan kuda Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta, Minggu (14/6/2026).
IHR Hadir dengan Konsep Sport Entertainment
Chief Executive Officer Sarga.co, Nugdha Achadie, menyampaikan bahwa IHR Paku Alam Cup 2026 merupakan seri keempat dari delapan kejuaraan dalam kalender Indonesia’s Horse Racing tahun ini.
Menurut Nugdha, IHR mengusung konsep sport entertainment experience yang memadukan unsur olahraga, budaya, dan hiburan dalam satu rangkaian kegiatan.
Pengunjung tidak hanya menyaksikan adu cepat para kuda di lintasan. Mereka juga menikmati atmosfer festival yang lebih hangat, atraktif, dan ramah keluarga. Pendekatan tersebut membuka peluang lebih besar untuk menarik minat generasi muda terhadap dunia pacuan kuda.
Konsep ini sekaligus memperluas citra pacuan kuda sebagai hiburan modern tanpa meninggalkan akar tradisi yang telah tumbuh selama bertahun-tahun.
Ratusan Kuda dari Berbagai Provinsi Ramaikan Kompetisi
IHR Paku Alam Cup 2026 mencatat partisipasi yang cukup besar. Sebanyak 155 ekor kuda dari berbagai daerah ikut bersaing dalam 18 kelas balapan.
Para peserta datang dari Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, hingga Sulawesi Utara.
Keikutsertaan berbagai provinsi menunjukkan bahwa pacuan kuda masih memiliki basis penggemar dan komunitas yang kuat di Indonesia. Kompetisi seperti ini juga membuka kesempatan bagi para pelaku industri untuk memperluas jejaring, bertukar pengalaman, dan meningkatkan kualitas pembinaan atlet maupun kuda pacu.
Pakualaman Jaga Tradisi Berkuda agar Tetap Relevan
Perwakilan Puro Pakualaman, Nyi Mas Lurah Adyaksa Putri, mengingatkan bahwa tradisi berkuda telah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Kadipaten Pakualaman.
Sejak 2013, Pakualaman rutin menghadirkan kompetisi pacuan kuda modern sebagai bentuk pelestarian budaya. Pandemi Covid-19 sempat menghentikan agenda tersebut. Namun, semangat untuk menjaga tradisi tidak pernah surut.
Melalui kerja sama dengan Sarga.co dan Pordasi, Pakualaman menghadirkan wajah baru pacuan kuda yang lebih segar, modern, dan dekat dengan generasi masa kini.
IHR Paku Alam Cup 2026 akhirnya tidak hanya menciptakan persaingan di lintasan. Kejuaraan ini juga menghubungkan warisan budaya dengan inovasi, memperkuat kebanggaan daerah, serta menghidupkan kembali optimisme terhadap masa depan pacuan kuda Indonesia.
Pacuan kuda bukan sekadar adu kecepatan. Olahraga ini menyimpan sejarah, semangat sportivitas, dan identitas budaya yang layak mendapat tempat istimewa di tengah perkembangan industri olahraga nasional.