IFW 2026 – Pendopo kembali menunjukkan komitmennya dalam melestarikan kekayaan wastra Nusantara melalui ajang BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026. Bersama desainer Julia Orlandy, Pendopo memperkenalkan koleksi terbaru bertajuk “Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini”. Yang menghadirkan interpretasi baru terhadap kain Ulos sebagai busana modern.

Sebanyak sembilan rancangan di tampilkan dalam koleksi tersebut. Masing-masing menggabungkan kekayaan filosofi budaya Batak dengan pendekatan desain yang lebih kontemporer. Melalui konsep ini, Ulos tidak hanya di posisikan sebagai kain tradisional yang identik dengan upacara adat, tetapi juga menjadi bagian dari gaya berpakaian modern yang dapat di kenakan dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Filosofi Tondi Menjadi Dasar Inspirasi Koleksi

Koleksi “Nadi di Tondi” lahir dari pemaknaan terhadap konsep Tondi, sebuah filosofi dalam budaya Batak yang melambangkan jiwa, semangat, dan kekuatan batin seseorang. Nilai tersebut kemudian dipadukan dengan makna nadi sebagai simbol kehidupan yang terus mengalir dari satu generasi menuju generasi berikutnya.

Selain itu, proses kreatif koleksi ini juga mendapat inspirasi dari tradisi Mangulosi. Yakni prosesi pemberian kain Ulos sebagai lambang doa, kasih sayang, perlindungan, penghormatan, dan restu kepada seseorang. Nilai-nilai budaya tersebut kemudian di terjemahkan ke dalam desain busana yang lebih modern tanpa menghilangkan identitas aslinya.

Pendekatan tersebut menghasilkan koleksi yang tetap mempertahankan karakter khas Ulos. Namun tampil melalui siluet yang lebih ringan, elegan, dan mudah di padukan untuk berbagai kesempatan.

Mengangkat Beragam Jenis Ulos Sarat Makna

Dalam koleksi ini, Pendopo dan Julia Orlandy menggunakan beberapa jenis kain Ulos yang memiliki filosofi berbeda. Di antaranya adalah Ulos Sibolang Rasta, Sibolang Rasta Marliris, Mangiring, Tutur-tutur, hingga Simarpisoran.

Setiap jenis Ulos di pilih karena memiliki makna simbolis yang mencerminkan nilai kehidupan masyarakat Batak. Filosofi tersebut kemudian di wujudkan dalam sembilan rancangan yang masing-masing mewakili pesan berbeda.

Beberapa di antaranya mengangkat makna Tondi sebagai simbol kekuatan batin. Hamajuon yang menggambarkan kemajuan, Holong sebagai lambang kasih sayang, serta Hasangapon yang merepresentasikan kehormatan. Selain itu, terdapat pula nilai Pardomuan yang melambangkan persatuan dan Horas sebagai doa untuk kesehatan, kesejahteraan, serta kebahagiaan.

Narasi budaya tersebut semakin lengkap melalui representasi Ragidup yang menggambarkan perjalanan hidup manusia. Pasu-pasu sebagai simbol keberkahan, dan Hagabeon yang bermakna keberlanjutan generasi.

Dengan pendekatan tersebut, setiap busana tidak hanya menawarkan estetika visual. Tetapi juga membawa cerita budaya yang memiliki makna mendalam.

Menggabungkan Tradisi dengan Sentuhan Fashion Modern

Keunikan koleksi “Nadi di Tondi” terlihat pada perpaduan unsur tradisional dengan teknik desain modern. Julia Orlandy menerapkan siluet formal yang di padukan dengan detail asimetris, aksen turtleneck, serta konsep ready-to-wear. Sehingga busana lebih fleksibel di kenakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan tailoring modern juga di perkuat melalui penggunaan material semi-wool yang di padukan dengan kain Ulos asli. Sementara itu, dominasi warna khas Ulos di kombinasikan dengan kain hitam polos sehingga menghasilkan tampilan yang lebih elegan dan berkelas.

Melalui konsep tersebut, koleksi ini mampu menghadirkan keseimbangan antara nilai tradisi dengan kebutuhan masyarakat modern yang menginginkan busana praktis tanpa meninggalkan identitas budaya.

Koleksi Ulos modern Pendopo dan Julia Orlandy bertajuk Nadi di Tondi dipamerkan di Indonesia Fashion Week 2026.

Koleksi bertajuk Nadi di Tondi: Denyut Tradisi dalam Jiwa Masa Kini dari kolaborasi Pendopo dan Julia Orlandy di BTN Indonesia Fashion Week (IFW), Kamis (30/7/2026).

Pendopo Dorong Pelestarian Wastra Indonesia

Head of Pendopo, Ni Luh Putu Laura Sarassita, menjelaskan bahwa kolaborasi bersama Julia Orlandy merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Pendopo dalam memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih relevan terhadap perkembangan industri fesyen.

Menurutnya, koleksi ini berangkat dari semangat tradisi Mangulosi yang kemudian di kembangkan menjadi busana yang dapat di kenakan tidak hanya pada acara resmi atau adat, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari.

Laura juga menilai kerja sama dengan Julia Orlandy menghadirkan perspektif baru karena sang desainer selama ini lebih di kenal melalui karya-karya gaun untuk ajang pageant.

Kali ini, Julia mencoba keluar dari zona nyamannya dengan menghadirkan koleksi ready-to-wear yang tetap mempertahankan ciri khas desain elegan. Namun memiliki fungsi yang lebih luas bagi masyarakat.

Pendopo berharap langkah tersebut dapat membuka ruang baru bagi para desainer Indonesia untuk terus mengeksplorasi kekayaan budaya Nusantara melalui karya-karya yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi masa kini.

Mendukung Perajin Lokal dan Keberlanjutan Wastra

Selain menampilkan inovasi desain, Pendopo juga memastikan seluruh kain Ulos yang di gunakan berasal dari hasil tenun para perajin lokal. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung keberlanjutan ekosistem wastra Indonesia.

Keterlibatan pengrajin lokal di nilai penting karena tidak hanya menjaga kualitas kain tradisional. Tetapi juga membantu mempertahankan keterampilan menenun yang telah di wariskan secara turun-temurun.

Melalui kolaborasi ini, Pendopo ingin membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan perkembangan industri mode modern tanpa mengesampingkan kesejahteraan para pengrajin.

Julia Orlandy Ingin Ulos Semakin Dekat dengan Generasi Muda

Julia Orlandy menilai Ulos memiliki peluang besar untuk terus berkembang mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan makna budaya yang terkandung di dalamnya.

Baginya, setiap rancangan dalam koleksi “Nadi di Tondi” lahir dari penghormatan terhadap tradisi yang kemudian di terjemahkan melalui bahasa desain kontemporer agar lebih mudah di terima oleh masyarakat modern.

Ia juga meyakini bahwa dunia fashion memiliki peran penting sebagai media untuk memperkenalkan kembali cerita dan nilai budaya kepada generasi muda. Dengan demikian, warisan tradisional seperti Ulos tidak hanya bertahan sebagai simbol budaya. Tetapi juga menjadi bagian dari identitas gaya hidup masyarakat Indonesia.

Melalui kolaborasi tersebut, Pendopo dan Julia Orlandy berharap semakin banyak masyarakat yang mengenal, menghargai, serta bangga mengenakan wastra Nusantara dalam berbagai kesempatan. Pendekatan ini menjadi bukti bahwa kain tradisional Indonesia mampu bertransformasi mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan filosofi dan nilai budaya yang telah di wariskan selama bergenerasi.