Perhatian Publik – Tertuju pada kondisi infrastruktur di Jorong Nenan, Nagari Maek, Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, setelah sebuah video memperlihatkan seorang guru terjatuh saat berusaha menahan sepeda motor di jalan tanjakan yang rusak. Di waktu yang hampir bersamaan, lagu berjudul Bukik Kosan yang di bawakan seorang petani gambir juga viral di media sosial. Dua peristiwa ini menyoroti persoalan yang sama, yaitu buruknya akses jalan menuju wilayah tersebut.

Kondisi Jalan Nenan yang Memprihatinkan

Guru dalam video viral tersebut bernama Silvatri Reza Vianda. Ia terlihat kesulitan mengendalikan sepeda motor di jalan tanah yang licin dan penuh bebatuan. Medan menanjak dengan kemiringan ekstrem membuat perjalanan sangat berbahaya, terutama saat kondisi basah.

Wali Jorong Nenan, Dedi Rahmad, menjelaskan bahwa kondisi tersebut sudah berlangsung lama. Ia menyebutkan bahwa dari total sekitar 9 kilometer akses menuju Nenan, hanya sekitar 4 kilometer yang sudah beraspal. Sisanya masih berupa jalan tanah yang rusak berat dan sangat sulit dilalui.

Dedi juga menegaskan bahwa beberapa titik jalan memiliki kemiringan hingga 60 derajat. Saat hujan turun, permukaan jalan berubah menjadi licin dan membahayakan pengguna kendaraan.

Akses Sulit bagi Ratusan Warga

Sekitar 800 penduduk yang terdiri dari 217 kepala keluarga tinggal di Jorong Nenan. Mereka bergantung pada satu sekolah dasar dan satu taman kanak-kanak sebagai fasilitas pendidikan utama di wilayah tersebut.

Mayoritas warga menggantungkan hidup dari sektor pertanian gambir. Namun, kondisi jalan yang buruk memengaruhi rantai distribusi hasil panen. Biaya angkut meningkat karena kendaraan harus dimodifikasi agar mampu melewati medan berat.

Perbedaan harga juga menjadi masalah serius. Di Nenan, harga gambir hanya mencapai sekitar Rp30.000 per kilogram, sementara di pusat Nagari Maek bisa mencapai Rp45.000. Selisih harga ini membuat pendapatan petani berkurang secara signifikan.

Lagu “Bukik Kosan” Jadi Simbol Keresahan Warga

Di tengah kondisi tersebut, seorang petani bernama Ajisman menciptakan lagu berjudul Bukik Kosan. Lagu ini berisi ungkapan kekecewaan masyarakat terhadap kondisi jalan yang tidak kunjung membaik meskipun Indonesia sudah lama merdeka.

Ajisman menyampaikan keresahan warga melalui lirik sederhana yang kemudian menyebar luas di media sosial. Lagu tersebut berubah menjadi simbol aspirasi masyarakat yang menginginkan pemerataan pembangunan, khususnya di wilayah pedesaan.

Guru Terjatuh

Silvatri Reza Vianda (37), guru SD 08 Nenan, terjatuh saat melintasi salah satu tanjakan curam di jalur menuju Jorong Nenan, Nagari Maek, Kabupaten Limapuluh Kota. Jalan tanah berbatu yang licin membuat sepeda motor sulit dikendalikan, terutama saat kondisi basah setelah hujan.

Dampak terhadap Pendidikan, Kesehatan, dan Komunikasi

Kondisi jalan yang buruk tidak hanya memengaruhi ekonomi, tetapi juga sektor lain. Akses menuju layanan kesehatan menjadi sangat terbatas. Di Nenan hanya tersedia puskesmas pembantu dengan tenaga bidan. Jika pasien membutuhkan perawatan lebih lanjut, mereka harus menempuh perjalanan sulit menuju fasilitas kesehatan utama, terutama saat musim hujan.

Selain itu, keterbatasan jaringan komunikasi juga menjadi tantangan tersendiri. Warga sering menghadapi kesulitan sinyal sehingga mereka mengandalkan internet satelit untuk kebutuhan komunikasi dasar.

Tanggapan Pemerintah Daerah dan DPRD

Anggota DPRD Limapuluh Kota, Bisron Hadi, menyampaikan bahwa pemerintah daerah sudah beberapa kali mengusulkan perbaikan jalan tersebut. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam realisasi pembangunan.

Ia menjelaskan bahwa perbaikan sekitar 4 kilometer jalan rusak membutuhkan anggaran sekitar Rp10 miliar. Nilai tersebut cukup besar bagi kemampuan fiskal daerah.

Sementara itu, Bupati Limapuluh Kota, Safni, menyampaikan bahwa pemerintah akan memprioritaskan perbaikan pada titik-titik yang paling berisiko terlebih dahulu. Ia menargetkan pekerjaan awal dapat dimulai setelah pencairan dana dari pemerintah pusat pada Mei 2026.

Harapan Warga terhadap Perbaikan Infrastruktur

Bagi masyarakat Nenan, perbaikan jalan bukan sekadar proyek pembangunan biasa. Mereka melihatnya sebagai harapan untuk meningkatkan kualitas hidup, memperlancar akses pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa infrastruktur masih menjadi tantangan besar di beberapa wilayah pedalaman. Perhatian publik yang muncul melalui video viral dan lagu rakyat memberi tekanan moral agar pemerintah segera mengambil langkah konkret.

Kesimpulan

Kisah guru yang terjatuh dan lagu Bukik Kosan mencerminkan realitas yang dihadapi warga Jorong Nenan di Limapuluh Kota. Akses jalan yang rusak berat memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi hingga layanan dasar.

Respons pemerintah daerah menunjukkan adanya rencana perbaikan, meskipun pelaksanaannya masih menunggu proses anggaran. Harapan masyarakat tetap besar agar pembangunan infrastruktur segera terwujud dan memberikan perubahan nyata bagi kehidupan mereka.