Wisata EdukasiAshfa Madu Borobudur di kawasan Borobudur, Magelang, terus menarik perhatian wisatawan yang ingin merasakan pengalaman liburan sekaligus belajar. Lokasi ini menghadirkan konsep wisata yang menggabungkan aktivitas rekreasi dengan edukasi budidaya lebah madu secara langsung di lapangan.

Pada Jumat, 15 Mei 2026, kawasan parkir wisata tampak ramai oleh deretan VW wisata berwarna-warni yang mengantar rombongan pengunjung. Ratusan wisatawan datang silih berganti, lalu langsung memasuki area wisata edukasi madu. Banyak dari mereka membawa pulang botol madu sebagai oleh-oleh khas setelah mengikuti rangkaian kegiatan di lokasi tersebut.

Suasana ramai terlihat di berbagai sudut area wisata. Anak-anak dan orang dewasa mengikuti penjelasan pemandu mengenai kehidupan lebah, proses produksi madu, serta peran lebah dalam menjaga keseimbangan alam. Aktivitas tersebut menciptakan pengalaman belajar yang terasa lebih hidup dibandingkan sekadar membaca teori.

Wisata Keluarga Dapat Pengalaman Edukasi Langsung

Agung, wisatawan asal Lampung, memilih Ashfa Madu sebagai destinasi liburan keluarga setelah melihat informasi dari media sosial. Ia membawa anak dan keluarganya untuk menikmati pengalaman wisata yang berbeda dari destinasi biasa.

Selama kunjungan, Agung mengikuti penjelasan pemandu mengenai cara kerja koloni lebah. Ia mengajak anak-anaknya mendekati kotak lebah agar mereka dapat melihat langsung aktivitas serangga penghasil madu tersebut. Anak-anak menunjukkan rasa ingin tahu tinggi ketika melihat lebah keluar masuk sarang.

Agung menyebut pengalaman itu memberi nilai tambah karena anak-anak mendapatkan pengetahuan baru tentang alam. Ia menilai wisata edukasi seperti ini memberi manfaat ganda, yakni hiburan dan pembelajaran. Ia juga menyampaikan keinginan untuk kembali berkunjung pada kesempatan lain karena merasa pengalaman tersebut sangat berkesan.

Perjalanan Qozin Purnama Membangun Usaha Madu

Pengembangan wisata edukasi ini tidak lepas dari perjalanan panjang Qozin Purnama yang memulai usaha budidaya lebah sejak kecil. Ia mengenal dunia perlebahan sejak duduk di bangku sekolah dasar dan mulai belajar merawat lebah pada kelas empat SD.

Qozin terus menekuni budidaya lebah hingga menyelesaikan pendidikan STM. Ia kemudian memilih fokus mengembangkan usaha madu keluarga dan membangun usaha mandiri pada tahun 2013. Pada masa awal, ia mengemas madu kaliandra dalam botol kecil dan memasarkan produk tersebut secara langsung ke toko obat serta swalayan di wilayah Magelang.

Ia mengerjakan hampir semua proses sendiri, mulai dari perawatan lebah, panen madu, hingga distribusi produk. Ia juga menjalani proses yang tidak mudah karena modal usaha masih terbatas dan fasilitas produksi masih sederhana.

Ashfa Madu Borobudur

Pemilik Ashfa Madu Borobudur, Qozin Purnama, memamerkan sarang madu.

Transformasi Usaha Menuju Wisata Edukasi

Perubahan besar mulai terjadi pada tahun 2017 ketika wisatawan VW tour mulai mengunjungi lokasi produksinya. Awalnya hanya sekitar 10 kendaraan wisata datang setiap akhir pekan. Para wisatawan tidak hanya membeli madu, tetapi juga mencoba pengalaman unik seperti terapi sengat lebah yang dipercaya membantu meredakan kelelahan.

Seiring meningkatnya minat pengunjung, Qozin mengembangkan konsep wisata edukasi di lokasi usahanya. Ia memanfaatkan potensi alam di kawasan lereng Menoreh, tepatnya di Giri Tengah, belakang Candi Borobudur, sebagai pusat budidaya lebah.

Qozin kemudian memperluas kerja sama dengan peternak lebah lain di wilayah Magelang dan sekitar lereng Merapi. Ia membangun jaringan dengan sekitar 50 peternak untuk memenuhi permintaan madu yang terus meningkat dari wisatawan dan pasar.

Dukungan Pembiayaan dan Perkembangan Usaha

Perkembangan usaha Ashfa Madu juga mendapat dorongan dari akses pembiayaan usaha mikro. Qozin memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia untuk memperluas kapasitas usaha.

Ia pertama kali mengajukan pinjaman kecil pada tahun 2017 senilai Rp3 juta untuk menambah kotak lebah. Setelah usaha berkembang, ia kembali mengajukan pembiayaan yang lebih besar pada tahun 2018 hingga mencapai Rp300 juta. Dana tersebut ia gunakan untuk membeli lahan dan membangun kawasan wisata edukasi madu yang lebih representatif.

Perkembangan infrastruktur tersebut mengubah usaha rumahan menjadi destinasi wisata yang lebih tertata dan menarik bagi pengunjung.

Sistem Budidaya Lebah dan Produksi Beragam Jenis Madu

Saat ini, Ashfa Madu memproduksi berbagai jenis madu seperti madu kaliandra, kopi, rambutan, multiflora, lanceng, hingga madu pahit insulin. Setiap jenis madu berasal dari sumber nektar bunga yang berbeda sehingga menghasilkan rasa dan karakter yang unik.

Qozin mengatur sistem budidaya lebah dengan metode penggembalaan. Ia memindahkan koloni lebah dari satu lokasi ke lokasi lain sesuai musim bunga. Ia menjaga lebah tetap berada di satu area sekitar satu bulan sebelum memindahkannya ke lahan berikutnya.

Ia juga menyewa lahan sekitar Rp500.000 per hektar per bulan untuk mendukung sistem tersebut. Cara ini membantu lebah mendapatkan sumber nektar yang optimal sepanjang tahun.

Hasil panen kemudian masuk ke proses pengemasan dalam botol 250 mililiter agar mudah dibawa wisatawan sebagai oleh-oleh. Harga madu bervariasi, mulai dari sekitar Rp110.000 hingga Rp290.000 per botol, tergantung jenisnya.

Pertumbuhan Pengunjung dan Dampak Ekonomi Lokal

Ashfa Madu Borobudur kini menerima sekitar 500 wisatawan setiap minggu. Jumlah pengunjung meningkat drastis saat akhir pekan panjang dan musim liburan sekolah. Aktivitas wisata ini memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar karena membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan permintaan produk lokal.

Perjalanan Ashfa Madu menunjukkan bagaimana usaha berbasis alam dan edukasi dapat berkembang menjadi destinasi wisata unggulan. Inovasi, kerja keras, dan kolaborasi dengan peternak lokal membantu mengubah usaha sederhana menjadi pusat wisata edukasi yang terus berkembang di kawasan Borobudur.