Bisik Serayu Festival 2026 kembali menghadirkan ruang perjumpaan antara seni budaya dan kepedulian terhadap lingkungan di tepian Sungai Serayu, Banyumas, Jawa Tengah. Rianto Dance Studio menginisiasi festival edisi ketiga ini pada 29–30 Agustus 2026 dengan pusat kegiatan di Joglo Gayatri, Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas.
Melalui festival tersebut, Sungai Serayu tidak hanya berperan sebagai latar pertunjukan. Penyelenggara menempatkan sungai sebagai bagian penting dari pesan ekologis sekaligus ruang yang mempertemukan tradisi Banyumasan dengan ekspresi seni dari berbagai negara.
Berdasarkan siaran pers yang diterima redaksi pada Jumat, 28 Agustus 2026, Rianto menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini mengusung misi bertajuk Agresi Budaya. Gerakan tersebut memanfaatkan kekuatan seni secara masif, lantang, dan suportif untuk membangun kembali kesadaran manusia terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam.
Festival kemudian menerjemahkan gagasan tersebut melalui tiga pilar utama. Ketiganya terdiri atas Bisik Air atau Svara Tirta, Pijak Bumi atau Prajna Pertiwi, serta Temu Rasa atau Manunggaling Warga. Tiga konsep itu menjadi landasan berbagai kegiatan yang berlangsung sepanjang festival.
Manten Gethek Menjadi Sorotan Utama
Salah satu agenda yang menjadi daya tarik utama Bisik Serayu Festival 2026 ialah Prosesi Manten Gethek. Pertunjukan berbasis air tersebut membawa penonton memasuki simbolisme hubungan manusia dengan Sungai Serayu melalui pendekatan seni, spiritualitas, dan kosmologi masyarakat Banyumas.
Rianto menjelaskan bahwa Manten Gethek tidak hanya menawarkan tontonan visual. Prosesi itu menggambarkan sebuah “pernikahan suci” yang menyatukan manusia dengan Sungai Serayu. Melalui simbol tersebut, penyelenggara ingin mengingatkan masyarakat bahwa kehidupan manusia memiliki hubungan erat dengan alam dan sumber air yang menopangnya.
Pendekatan ini sekaligus menegaskan posisi Sungai Serayu sebagai bagian dari identitas masyarakat Banyumas. Festival menggunakan seni pertunjukan untuk menyampaikan pesan lingkungan tanpa melepaskan akar tradisi lokal yang telah tumbuh bersama masyarakat.
Falsafah Banyumas Menjadi Fondasi Pesan Festival
Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan festival tersebut. Menurutnya, Banyumas memiliki kekuatan yang tidak hanya bersumber dari kekayaan seni dan panorama alam. Wilayah tersebut juga menyimpan nilai moral yang dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan karakter masyarakat Indonesia.
Siti Mukaromah memandang Bisik Serayu Festival membawa falsafah Banyumas melalui tiga unsur penting, yakni Gunung Slamet, Sungai Serayu, dan karakter Blakasuta. Ketiganya memiliki makna yang melampaui simbol geografis maupun karakter sosial karena turut membentuk landasan etika masyarakat Banyumas.
Ia menjelaskan falsafah Gununge mulang kukuh sebagai ajaran mengenai keteguhan dan integritas. Sementara itu, Serayune mulang mili menggambarkan keluwesan, kerukunan, serta keberlanjutan. Adapun Blakasuta mulang jujur menekankan keberanian dalam menyampaikan kebenaran tanpa meninggalkan tata krama.
Perpaduan ketiga nilai tersebut melahirkan gambaran ideal manusia Banyumas yang memegang prinsip “teguh tanpa angkuh, ngeli tanpa keli, dan blakasuta tanpa gawe lara”. Dengan demikian, festival tidak hanya mengangkat seni sebagai tontonan, tetapi juga menjadikannya sarana untuk memperkenalkan nilai kehidupan yang tumbuh dalam kebudayaan setempat.

Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah bersama peserta Bisik Serayu Festival 2026 di tepi Sungai Serayu, Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Seniman Lintas Negara Meramaikan Tepian Sungai Serayu
Bisik Serayu Festival 2026 juga mempertemukan masyarakat desa yang menjaga akar tradisi dengan warga urban serta seniman nasional dan internasional. Selama dua hari, penyelenggara menghadirkan beragam pertunjukan yang memperluas ruang dialog antara kebudayaan lokal dan praktik seni kontemporer.
Sejumlah penampil mancanegara ikut berpartisipasi. Prancis menghadirkan Florence Boyer, sedangkan Jepang menghadirkan tim Dewandaru Dance Company dan Kulu-Kulu. Dari Singapura, Maya Dance Theater bersama The Diverse Abilities Dance Collective (DADC) turut meramaikan program festival. Penyelenggara juga melibatkan partisipasi dari Australia.
Selain seni pertunjukan, festival menghadirkan kolaborasi fashion show antara Diajeng Teguh Geggo dan Serat Jiwa. Perpaduan berbagai disiplin tersebut memperkuat karakter festival sebagai ruang pertemuan kreatif yang menghubungkan tradisi lokal dengan perspektif seni lintas budaya.
Tokoh Nasional dan Daerah Turut Hadir
Sejumlah tokoh juga dijadwalkan menghadiri Bisik Serayu Festival 2026. Mereka antara lain Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono, serta Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan.
Berbagai komunitas seni dan budaya juga ikut terlibat dalam rangkaian kegiatan. Kehadiran komunitas tersebut memperkuat keterlibatan masyarakat sekaligus membuka ruang interaksi yang lebih luas antara pelaku budaya, seniman, pemerintah, dan warga.
Pada penghujung rangkaian kegiatan, masyarakat Desa Kaliori akan mengambil peran langsung melalui pagelaran ketoprak. Warga desa menjadi pemain dalam pertunjukan penutup tersebut sehingga festival tetap memberikan ruang utama bagi masyarakat yang hidup dan tumbuh di sekitar lokasi penyelenggaraan.
Merawat Serayu untuk Keberlanjutan Budaya dan Alam
Melalui Bisik Serayu Festival 2026, penyelenggara ingin membangun gerakan yang melampaui agenda kesenian tahunan. Mereka berharap festival mampu mendorong masyarakat untuk semakin memahami hubungan antara manusia, kebudayaan, dan lingkungan Sungai Serayu.
Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika pembangunan dan perubahan sosial terus memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitar sungai. Seni kemudian berfungsi sebagai medium untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektif tentang pentingnya merawat alam sekaligus mempertahankan identitas budaya.
Dengan mempertemukan tradisi Banyumas, masyarakat lokal, seniman urban, dan pelaku seni internasional, Bisik Serayu Festival 2026 membawa Sungai Serayu ke dalam ruang dialog yang lebih luas. Festival ini berupaya menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan perlindungan lingkungan dapat berjalan beriringan.
Pada akhirnya, penyelenggara berharap masyarakat tidak sekadar datang untuk menyaksikan pertunjukan. Mereka ingin setiap rangkaian kegiatan menumbuhkan kesadaran untuk menjaga ekosistem Sungai Serayu dan warisan budaya di sekitarnya. Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan alam, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat Banyumas bagi generasi mendatang.