Campus League Badminton Semarang memberikan pengalaman baru bagi tim badminton Universitas Hasanuddin (Unhas) yang datang dari Makassar untuk menguji kemampuan menghadapi persaingan antarkampus dari wilayah lain. Berbekal prestasi yang cukup kuat di Sulawesi, Unhas membawa ambisi untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menambah pengalaman bertanding di luar daerah.

Selama berkompetisi di Sulawesi, tim badminton Unhas kerap meraih prestasi dan mampu bersaing dengan berbagai perguruan tinggi. Catatan tersebut membuat mereka cukup percaya diri ketika memutuskan berangkat menuju Semarang.

Namun, atmosfer kompetisi yang mereka temui ternyata berbeda. Pemain harus menghadapi lawan yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya, karakter permainan baru, serta tekanan pertandingan yang lebih besar. Situasi tersebut membuat Unhas mendapatkan gambaran mengenai tingkat persaingan yang harus mereka hadapi ketika keluar dari lingkungan kompetisi regional.

Jovan Euginio, mahasiswa semester tujuh yang menangani tim badminton Unhas sebagai pelatih, mengakui timnya terbiasa mendapatkan hasil positif ketika mengikuti pertandingan di Sulawesi. Pengalaman di Semarang kemudian membuka perspektif baru mengenai kualitas lawan dari daerah lain.

Tiga Nomor Unhas Terhenti pada Hari Pertama

Unhas mengandalkan Muhammad Alvian dan Andi Dhiya ‘Us Syam dalam Campus League Badminton Regional Semarang di Polytron Stadium. Keduanya mengikuti nomor tunggal putra sekaligus membentuk pasangan untuk bertanding pada nomor ganda putra.

Pada pertandingan tunggal, Andi menghadapi wakil Universitas Islam Indonesia. Andi harus mengakui keunggulan lawannya setelah pertandingan berakhir dengan skor 4-15 dan 7-15.

Sementara itu, Alvian berhadapan dengan pemain Universitas Negeri Semarang. Ia juga belum berhasil mengamankan kemenangan dan menyelesaikan pertandingan dengan skor 7-15 dan 5-15.

Kesempatan terakhir Unhas hadir melalui nomor ganda putra. Alvian dan Andi turun bersama menghadapi pasangan UIN Sunan Ampel Surabaya. Wakil Unhas kembali harus menghentikan perjuangan setelah mencatat skor 8-15 dan 7-15.

Hasil tersebut membuat seluruh nomor yang Unhas ikuti berakhir pada hari pertama. Tidak ada wakil mereka yang berhasil melanjutkan perjalanan menuju putaran berikutnya.

Jovan menjelaskan bahwa tim sebenarnya memasang target untuk mencapai sekitar babak delapan besar. Kepercayaan tersebut muncul setelah mereka meraih gelar dalam kompetisi internal Unhas di Makassar.

Akan tetapi, kondisi pertandingan menghadirkan tantangan yang lebih besar. Menurut Jovan, rasa gugup memengaruhi mental pemain ketika memasuki lapangan. Kualitas para peserta dari regional Jawa juga melampaui perkiraan awal tim.

Campus League Badminton Semarang

Pebulu tangkis Universitas Hasanuddin Andi Dhiya ‘Us Syam dan Muhammad Alvian saat berlaga di Campus League Badminton Regional Semarang.

Datang ke Semarang untuk Mencari Tantangan Baru

Hasil pertandingan memang belum sesuai harapan, tetapi Unhas memiliki tujuan lebih luas ketika mengikuti Campus League Badminton Semarang. Mereka ingin keluar dari lingkungan pertandingan yang sudah familier dan mengukur kemampuan menghadapi pemain dengan pengalaman berbeda.

Ketika bertanding di Makassar, pemain Unhas sudah mengenal kondisi lapangan maupun karakter sejumlah lawan. Karena itu, tim memilih menjajal kompetisi di Pulau Jawa agar memperoleh pengalaman yang belum banyak mereka dapatkan di daerah sendiri.

Keputusan tersebut membutuhkan persiapan serius. Unhas menjadi satu-satunya wakil Sulawesi dalam kompetisi regional tersebut. Tim harus menyelesaikan berbagai urusan administrasi sekaligus menyiapkan transportasi, penginapan, konsumsi, dan kebutuhan lainnya.

Jovan memperkirakan rombongan beranggotakan empat orang membutuhkan biaya sedikitnya Rp15 juta untuk menjalani perjalanan tersebut.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas memberikan dukungan terhadap kebutuhan utama tim. Pihak fakultas menanggung biaya penerbangan dan penginapan, sedangkan anggota tim menggunakan sebagian dana pribadi untuk memenuhi kebutuhan lain seperti konsumsi.

Dukungan tersebut membantu para pemain mendapatkan kesempatan menjajal persaingan antarkampus di luar Sulawesi.

Jam Terbang Menjadi Bahan Evaluasi Utama

Pengalaman di Semarang juga memberikan bahan evaluasi penting bagi Unhas. Jovan menilai kemampuan teknis para pemain sebenarnya masih memungkinkan mereka untuk bersaing. Namun, tim perlu meningkatkan kepercayaan diri dan pengendalian mental ketika menghadapi tekanan pertandingan.

Performa saat latihan tidak selalu muncul dengan kualitas serupa ketika pemain memasuki pertandingan resmi. Terlebih lagi, menghadapi lawan asing dapat memberikan tekanan tambahan. Kehilangan beberapa poin secara beruntun juga berpotensi mengganggu konsentrasi dan kepercayaan diri pemain.

Karena itu, Jovan ingin memberikan lebih banyak kesempatan bertanding kepada pemainnya. Unhas perlu memperbanyak jam terbang sekaligus menghadapi lawan dengan karakter permainan yang semakin beragam.

Andi juga melihat faktor pengalaman sebagai salah satu pembeda. Menurutnya, pemain di Pulau Jawa memiliki lebih banyak peluang untuk menjalani pertandingan maupun latihan tanding dengan lawan berkualitas. Intensitas tersebut membantu mereka membangun kemampuan menghadapi kompetisi yang semakin ketat.

Sulawesi juga memiliki kesempatan latihan tanding, tetapi Andi menilai lingkungan badminton di Jawa menawarkan jumlah pemain kompetitif yang lebih besar. Bahkan, beberapa pemain memiliki kualitas yang mampu mengarah ke tingkat internasional.

Unhas Ingin Kembali Lebih Kuat pada Edisi Berikutnya

Meski belum memperoleh kemenangan pada penampilan pertamanya, Unhas tidak menjadikan hasil Campus League Badminton Semarang sebagai alasan untuk berhenti mencoba. Tim justru memperoleh pengalaman langsung mengenai standar persaingan dan aspek yang perlu mereka tingkatkan.

Dalam satu tahun ke depan, Unhas berencana memperbaiki kualitas latihan, menambah pengalaman bertanding, serta membangun mental pemain agar lebih siap menghadapi tekanan.

Jovan memastikan timnya memiliki keinginan untuk kembali mengikuti Campus League pada edisi berikutnya. Hasil di Semarang menjadi motivasi untuk membuktikan bahwa Unhas mampu berkembang dan bersaing lebih jauh, bukan hanya mencatat prestasi di Makassar.

Semangat tersebut menjadi modal penting untuk mempersiapkan perjalanan selanjutnya. Bagi Unhas, kekalahan pada kesempatan pertama bukan akhir dari perjalanan. Mereka memilih membawa pulang pengalaman, mengevaluasi kekurangan, dan menyiapkan diri untuk kembali dengan kemampuan yang lebih matang.