Festival Muria Raya menghadirkan model kegiatan kebudayaan yang menghubungkan karya seni dengan kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Muria. Pada penyelenggaraan keenamnya, FMR membawa musisi dan seniman dari Indonesia, Prancis, hingga Jepang untuk berinteraksi dengan warga melalui pertunjukan, residensi, pembelajaran, serta eksplorasi tradisi.
Penyelenggara menjalankan FMR #6 sepanjang 5-30 Agustus 2026. Alih-alih memusatkan seluruh agenda pada satu lokasi, mereka membawa rangkaian kegiatan melintasi beberapa desa di kawasan Muria. Desa Menawan di Kudus menjadi titik awal, kemudian perjalanan bergerak menuju Desa Japan dan berakhir di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, Pati.
Pola perjalanan tersebut mengikuti gagasan pradaksina atau perjalanan mengitari Gunung Muria. Festival telah menggunakan pendekatan ini sebagai bagian dari identitasnya sejak penyelenggaraan pertama pada 2020.
Ketua Yayasan Festival Muria Raya Brian Trinanda K. Adi menghubungkan perjalanan tersebut dengan upaya merawat persaudaraan masyarakat di wilayah Muria Raya. Kandidat doktor Amsterdam School for Cultural Analysis (ASCA), University of Amsterdam itu juga memandang perjalanan tersebut memiliki dimensi spiritual.
Musisi Prancis Membawa Pengalaman Gamelan ke Muria
Salah satu warna internasional terlihat ketika belasan musisi Compagnie Kotekan asal Prancis hadir dalam pembukaan FMR #6 di Desa Menawan. Mereka berkolaborasi dengan Gayam 16 Yogyakarta untuk menghadirkan komposisi yang mempertemukan gamelan dengan saxophone, trombone, dan terompet.
Jean-Pierre “Pawak” Goudard memimpin kolaborasi tersebut. Musisi sekaligus komponis dari Compagnie Kotekan itu memiliki hubungan panjang dengan gamelan yang bermula ketika ia belajar di Bali sekitar tahun 2000.
Pengalaman tersebut kemudian ia bawa pulang ke Prancis. Goudard memperkenalkan gamelan kepada lingkungan terdekatnya dan mengajak musisi, sahabat, serta murid untuk ikut mempelajarinya.
Presiden Compagnie Kotekan Sarah Andrieu menjelaskan dalam keterangan tertulis pada 1 September 2026 bahwa karakter gamelan memungkinkan banyak orang terlibat dalam proses penciptaan bersama.
Pembukaan di Menawan tidak hanya menampilkan kolaborasi tersebut. Komunitas Tari Caping Kalo dari Kudus turut mengambil bagian dalam agenda festival.
Seniman Jepang Berinteraksi Langsung dengan Warga
Pertukaran kebudayaan dalam FMR #6 juga berkembang melalui kehadiran Yuta Kuroki. Seniman Jepang yang berasal dari keluarga penari Kagura itu mengikuti residensi dan membangun interaksi dengan seniman maupun masyarakat setempat.
Yuta membawa Kijin Kagura yang berasal dari Shiiba, Miyazaki. Kehadirannya tidak berhenti pada pementasan kesenian Jepang karena program residensi menempatkannya dalam proses kolaboratif bersama masyarakat Muria.
Interaksi tersebut terlihat semakin kuat ketika festival bergerak ke Desa Japan pada 21 Agustus 2026 melalui Tumapaking Cakra Manggilingan.
Di desa itu, kegiatan kebudayaan menyentuh kelompok usia muda. Shafira Onky Parasmita berbagi pengetahuan mengenai tembang macapat dengan anak-anak dan remaja setempat. Ia juga menggarap bagian musik dalam kolaborasi antara Yuta dengan murid sekolah dasar.
Seniman lokal Cucu Khabib Yahya memperkaya kegiatan melalui wayang kulit Bedhol Kayon dan Tari Bujang Ganong. Pertemuannya dengan seniman lain memberinya cara pandang lebih luas mengenai fungsi kesenian sebagai sarana pembelajaran dan komunikasi.
Pengaruh festival juga menjangkau pemuda desa. M. Choirul Anam memperoleh wawasan tentang dokumentasi sejarah lokal. Pengalaman itu mendorongnya untuk menelaah keadaan sosial serta lingkungan di sekitarnya.
Tradisi Gamelan Bertemu Eksperimen Material Kaca
FMR #6 tidak hanya mempertemukan kebudayaan dari wilayah geografis berbeda. Festival ini juga menyediakan ruang untuk mengembangkan tradisi melalui eksperimen material.
Gatotkaca atau Gamelan Total Kaca menjadi salah satu contohnya. Karya tersebut menggunakan limbah kaca sebagai bahan pengembangan instrumen musik.
Proses penciptaannya melibatkan riset organologi. Pengembang Gatotkaca melebur limbah kaca menggunakan tungku khusus sebelum membentuk material tersebut menjadi bagian instrumen.
Eksperimen itu membuka pendekatan berbeda terhadap gamelan. Pengetahuan mengenai instrumen tradisional bertemu dengan karakter kaca yang jarang menjadi pilihan material dalam pembuatan alat musik tersebut.
Selain proyek itu, FMR mempertemukan lebih banyak pelaku seni melalui Artists and Experts in Residence. Jejaring program tersebut mencakup Yuta Kuroki, Gempur Sentosa, Pepep D.W., Welda Sanavero, dan Jawara Squad.

Penampilan musik dengan gamelan dan biola yang dimainkan Compagnie Kotekan dalam rangkaian Festival Muria Raya.
Filosofi Lingkaran Mengiringi Perjalanan Festival
Konsep Tepuk Gelang memberikan landasan simbolis bagi perjalanan FMR. Brian Trinanda K. Adi menggambarkan dua ujung yang saling bertemu hingga menghasilkan bentuk lingkaran.
Filosofi tersebut merepresentasikan persaudaraan antarmanusia sekaligus hubungan manusia dengan alam. Karena itu, perjalanan dari satu wilayah menuju wilayah lain tidak hanya berfungsi sebagai perpindahan lokasi pertunjukan.
Festival memanfaatkan perjalanan sebagai cara untuk mempertemukan warga, seniman, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Setiap desa kemudian mengambil peran dalam membentuk keseluruhan proses kebudayaan.
Pendekatan tersebut membuat masyarakat tidak hanya menempati posisi sebagai penonton. Interaksi dengan seniman memungkinkan warga ikut belajar, berdiskusi, berkarya, serta mengenali kembali sejarah dan lingkungan mereka.
Dukuh Dombyang Jadi Titik Akhir Rangkaian FMR #6
Perjalanan FMR #6 mencapai bagian akhir di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, Pati, pada 29-30 Agustus 2026. Penyelenggara merangkum berbagai proses sebelumnya melalui Gelar Cakra Manggilingan.
Agenda itu menampilkan hasil dari program residensi, Bala-Bala Muria, dan karya para kolaborator. Sejumlah kelompok serta seniman dari berbagai daerah Indonesia mengisi kegiatan pada malam 29 Agustus.
Pada 30 Agustus, rangkaian berlanjut dengan keterlibatan Komunitas Mantra Gula Kelapa, Temu Cakap Desa, dan SVRNSA.
FMR juga membawa sebuah penanda bernama Prasastu dalam perjalanannya. Prasastu berupa batu dengan pahatan Aksara Waja. Kehadirannya mewakili ikatan persaudaraan yang terbentuk antara festival dan masyarakat.
Festival Berkembang Bersama Masyarakat Muria
Tim Media Festival Muria Raya Maliyana Nur Rahma memandang FMR sebagai kegiatan yang melampaui konsep pertunjukan. Menurutnya, proses kebudayaan dalam festival tumbuh melalui keterlibatan masyarakat desa.
Setiap tahapan membuka kesempatan untuk menciptakan hubungan baru. Festival menjadi tempat bertemunya pengalaman seniman dengan pengetahuan masyarakat sekaligus menyediakan ruang untuk meneruskan kebudayaan menuju masa depan.
Perjalanan enam edisi FMR memperlihatkan pola tersebut melalui bentuk kolaborasi yang beragam. Musisi Prancis mengembangkan gamelan bersama seniman Indonesia. Seniman Jepang membawa tradisinya untuk berinteraksi dengan warga Muria. Eksperimen Gamelan Total Kaca kemudian menunjukkan kemungkinan pengembangan instrumen melalui material yang berbeda.
Dengan pendekatan tersebut, Festival Muria Raya tidak menempatkan tradisi sebagai sesuatu yang hanya perlu dipertontonkan. Festival memberi kesempatan kepada berbagai pihak untuk mengolah pengetahuan budaya melalui interaksi nyata.
Pertemuan dari desa ke desa akhirnya membentuk inti perjalanan FMR. Seniman membawa pengalaman mereka sementara masyarakat menghadirkan pengetahuan lokal dan lingkungan tempat kebudayaan hidup. Dari proses itulah kolaborasi baru muncul dan hubungan antarmasyarakat terus berkembang.