Lalu lintas Selat Hormuz masih berada jauh di bawah kondisi normal karena pembatasan Iran dan Amerika Serikat serta ancaman keamanan yang terus meningkat. Situasi tersebut membuat perusahaan pelayaran semakin berhati-hati ketika mengirim kapal melalui salah satu jalur energi terpenting di dunia.

Data pelacakan kapal memperlihatkan kurang dari 20 kapal komoditas melewati Selat Hormuz sepanjang akhir pekan. Jumlah tersebut menunjukkan penurunan besar jika dibandingkan dengan aktivitas pelayaran pada situasi normal.

Data awal Kpler yang dikutip Reuters mencatat empat kapal melintasi selat tersebut pada Minggu 23 Agustus 2026 hingga pukul 02.28 GMT. Sehari sebelumnya Kpler mencatat 13 kapal melakukan perjalanan melalui jalur yang sama. Sementara itu pada Jumat 21 Agustus sebanyak 16 kapal melintasi kawasan tersebut.

Jumlah aktual kemungkinan berbeda dari data pelacakan. Sejumlah kapal mematikan perangkat transponder ketika memasuki kawasan Selat Hormuz. Langkah tersebut membuat sistem pelacakan tidak selalu mencatat seluruh pergerakan kapal secara langsung.

Aktivitas Kapal Selat Hormuz Merosot Sekitar 90 Persen

Data mingguan United Kingdom Maritime Trade Operations atau UKMTO turut memperlihatkan penurunan besar aktivitas pelayaran. Dalam tujuh hari hingga 21 Agustus 2026 UKMTO mencatat 89 kapal keluar dari Selat Hormuz. Pada periode yang sama sebanyak 103 kapal memasuki kawasan tersebut.

UKMTO menilai angka tersebut masih jauh dari tingkat lalu lintas normal. Berdasarkan pemantauan Automatic Identification System atau AIS jumlah kapal yang terdeteksi melintas turun sekitar 90 persen dibandingkan kondisi sebelum konflik.

Aktivitas kapal sebelumnya sempat mencapai tingkat tertinggi pada 24 hingga 26 Juni. Namun ancaman keamanan kemudian mendorong sejumlah operator membatalkan perjalanan atau mengubah rute pelayaran.

Beberapa kapal memilih jalur di bagian utara selat setelah rangkaian serangan meningkatkan kekhawatiran terhadap keselamatan awak dan muatan. Perusahaan pelayaran juga harus memperhitungkan risiko tambahan sebelum mengirim kapal menuju kawasan Teluk.

Kondisi tersebut mendapat perhatian karena Selat Hormuz memegang peranan penting dalam perdagangan energi internasional. Jalur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Kapal tanker menggunakan kawasan tersebut untuk mengangkut minyak mentah produk minyak serta gas menuju berbagai pasar dunia.

Kapal Tanker Tetap Mendominasi Pelayaran

Meskipun jumlah kapal turun drastis kapal tanker masih mendominasi lalu lintas Selat Hormuz. UKMTO mencatat jenis kapal tersebut mencakup sekitar 45 persen dari keseluruhan aktivitas pelayaran.

Dari kelompok kapal tanker tersebut sekitar 56 persen mengangkut minyak mentah produk minyak atau bahan kimia. Kapal pengangkut liquefied petroleum gas atau LPG mengambil porsi sekitar 24 persen.

Kpler juga masih menemukan pergerakan kapal pengangkut gas meskipun volumenya terbatas. Dalam tiga hari terakhir delapan very large gas carrier atau VLGC melewati Selat Hormuz.

Enam VLGC memasuki kawasan Teluk tanpa membawa muatan. Sementara itu dua kapal lainnya membawa LPG dari Iran sebelum meninggalkan kawasan Teluk.

Pergerakan kapal minyak mentah juga masih berlangsung. Sebuah very large crude carrier atau VLCC membawa sekitar dua juta barel minyak mentah dari Uni Emirat Arab dan keluar melalui Selat Hormuz pada Kamis 20 Agustus 2026.

Pada Jumat dua VLCC tanpa muatan juga memasuki kawasan Teluk. Satu kapal bergerak menuju Irak sedangkan kapal lainnya menuju Bahrain.

Lalu Lintas Selat Hormuz

Kapal-kapal terlihat mengantre di Selat Hormuz, saat difoto dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026.

Ancaman Serangan Meningkatkan Risiko Pelayaran

Ancaman keamanan menjadi salah satu faktor utama yang menekan lalu lintas Selat Hormuz. UKMTO mencatat 23 insiden serangan proyektil sejak 6 Juli di selat tersebut dan kawasan sekitarnya.

Serangan itu merusak sejumlah bagian kapal mulai dari anjungan hingga ruang mesin dan struktur lainnya. Ancaman tersebut membuat perusahaan pelayaran harus mengevaluasi rute sebelum mengirim armada ke kawasan berisiko.

Sebagian operator memilih menunda perjalanan untuk menghindari potensi serangan. Operator lainnya mengarahkan kapal menjauh dari area tertentu yang mereka nilai memiliki tingkat ancaman lebih tinggi.

Keputusan tersebut turut menekan jumlah kapal yang melewati jalur strategis ini. Pada saat bersamaan ketidakpastian konflik membuat perusahaan semakin sulit memperkirakan kapan aktivitas pelayaran dapat kembali mendekati kondisi normal.

Bab el-Mandeb Juga Mengalami Penurunan Aktivitas

Tekanan terhadap jalur perdagangan energi tidak hanya terjadi di Selat Hormuz. Kpler juga mencatat perubahan aktivitas kapal komoditas di Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan kawasan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Sebanyak 24 kapal komoditas melintasi Bab el-Mandeb pada Minggu 23 Agustus 2026. Jumlah itu turun dari 32 kapal pada Sabtu. Namun angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan Jumat ketika 22 kapal tercatat melintas.

Pada Sabtu dua VLCC memasuki Laut Merah. Salah satu kapal membawa minyak mentah Basrah dari Irak sedangkan VLCC lainnya berlayar tanpa muatan.

Perkembangan di Hormuz dan Bab el-Mandeb menunjukkan jalur pelayaran strategis Timur Tengah belum kembali normal. Kapal pengangkut energi memang masih melakukan perjalanan tetapi intensitasnya tetap terbatas.

Perusahaan pelayaran kini harus menyeimbangkan kebutuhan pengiriman dengan keselamatan kapal awak dan muatan. Selama ancaman serangan pembatasan serta ketidakpastian konflik masih berlangsung lalu lintas Selat Hormuz berpotensi tetap berada di bawah tingkat normal.

Kondisi ini juga membuat perkembangan Selat Hormuz penting bagi pasar energi internasional. Perubahan jumlah kapal yang melintas dapat memengaruhi kelancaran distribusi minyak dan gas sehingga pelaku industri terus mengamati situasi keamanan di kawasan tersebut.