Penyebab Banjir Bandang Nepal masih menjadi fokus penelitian para ilmuwan setelah bencana dahsyat menerjang wilayah utara negara tersebut pada Rabu (26/8/2026). Air bercampur lumpur, batu, dan berbagai material lain meluncur dengan kekuatan besar hingga menghancurkan bangunan, jalan, jembatan, serta kendaraan di sejumlah kawasan dekat perbatasan Nepal-China.

Kepolisian Nepal mencatat 157 orang meninggal akibat bencana tersebut. Sementara itu, otoritas China melaporkan sedikitnya tiga korban jiwa di wilayah Tibet. Dengan demikian, jumlah korban meninggal dari kedua wilayah mencapai sedikitnya 160 orang.

Selain korban jiwa, Nepal menghadapi laporan ratusan orang hilang. Nepal Tourism Board mencatat 403 orang belum ditemukan, termasuk 341 warga negara asing. Kawasan yang terdampak memang mencakup sejumlah lokasi yang kerap menjadi tujuan para pendaki dan peziarah.

Rekaman yang beredar melalui media sosial memperlihatkan besarnya kekuatan aliran tersebut. Gelombang air membawa lumpur, batu, dan material lainnya hingga menerjang permukiman di sekitar perbatasan Nepal dan Tibet.

Bencana terutama menghantam kawasan sekitar Sungai Bhote Koshi, Trishuli, dan Narayani. Kondisi geografis berupa lembah dalam dan aliran sungai yang melintasi pegunungan membuat wilayah tersebut menghadapi dampak yang sangat besar.

Longsoran Besar Menjadi Dugaan Utama

Para ilmuwan belum menetapkan penyebab banjir bandang Nepal secara pasti. Namun, mereka saat ini menaruh perhatian besar pada dugaan longsoran masif di kawasan pegunungan Himalaya.

CNN melaporkan bahwa kawasan perbatasan Nepal-China di sebelah utara Kathmandu mengalami guncangan sekitar pukul 08.37 waktu setempat. United States Geological Survey (USGS) pada awalnya mencatat peristiwa tersebut sebagai gempa bermagnitudo 4,4.

Namun, USGS kemudian melakukan analisis lebih lanjut dan menemukan indikasi berbeda. Lembaga tersebut menyimpulkan bahwa gempa bumi tidak menghasilkan guncangan itu.

Sebaliknya, longsoran dalam skala sangat besar diduga menghasilkan getaran yang menyerupai aktivitas seismik. Kekuatan getaran tersebut bahkan setara dengan gempa bermagnitudo 5,2.

Temuan ini mengubah dugaan awal mengenai urutan kejadian. Gempa tidak memicu longsoran, tetapi pergerakan material dalam jumlah sangat besar justru menciptakan getaran yang alat pemantau sempat baca seperti gempa bumi.

penyebab banjir bandang Nepal

Cuplikan gambar ini diambil dari rekaman UGC yang di sediakan oleh Kepolisian Nepal, memperlihatkan air banjir yang menerjang rumah-rumah di sepanjang Sungai Bhote Koshi setelah terjadi banjir bandang di Kabupaten Rasuwa pada 26 Agustus 2026. Banjir besar melanda Kabupaten Rasuwa di bagian utara Nepal pada 26 Agustus, merusak jalan dan infrastruktur listrik sementara pihak berwenang bergegas menilai skala kerusakan.

Bongkahan Gletser Diduga Jatuh ke Lembah

Sekelompok ilmuwan internasional menduga bongkahan besar gletser terlepas dari lereng pegunungan sebelum jatuh menuju lembah. Campuran es dan batu kemudian meluncur menuju Sungai Lhende Khola.

Sungai tersebut merupakan anak Sungai Bhote Koshi yang mengalir dari China menuju Nepal melewati lembah-lembah dalam. Material longsoran kemungkinan terus bertambah ketika bergerak menuruni pegunungan.

Daniel Shugar, ahli geologi dari University of California yang ikut dalam kelompok ilmuwan tersebut, menyoroti besarnya volume air dalam rekaman bencana. Para peneliti masih berusaha menjelaskan bagaimana longsoran mampu menghasilkan aliran dengan volume sebesar itu.

Salah satu teori menyebut campuran batu dan es meluncur dengan kecepatan tinggi, lalu mengangkut sedimen selama bergerak menuju bagian yang lebih rendah. Material di kawasan pegunungan juga kemungkinan telah mengandung banyak air karena wilayah Himalaya saat ini memasuki musim monsun.

Kombinasi tersebut dapat memperbesar volume longsoran secara drastis. Ketika material memasuki sungai, aliran kemudian berkembang menjadi banjir besar yang menyapu kawasan di sepanjang jalurnya.

Pencairan Gletser Himalaya Ikut Menjadi Perhatian

Para peneliti juga mempelajari kondisi Himalaya yang semakin hangat sebagai faktor yang mungkin meningkatkan kerentanan kawasan tersebut.

Nepal berada di kawasan Hindu Kush Himalaya yang menyimpan ribuan gletser. Kenaikan suhu mempercepat pencairan gletser dan berpotensi mengurangi kestabilan lereng pegunungan.

Suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat pencairan salju dan es. Air hasil pencairan kemudian dapat masuk ke celah gletser maupun batuan. Proses tersebut berpotensi melemahkan struktur pegunungan dan meningkatkan risiko pergerakan material.

Walaupun demikian, ilmuwan belum menyatakan perubahan iklim sebagai penyebab langsung bencana kali ini. BBC melaporkan bahwa para peneliti masih menyusun rangkaian kejadian untuk memahami bagaimana longsoran bermula hingga akhirnya berkembang menjadi banjir yang sangat merusak.

Karena itu, penelitian lebih lanjut tetap di perlukan sebelum para ahli dapat menentukan hubungan antara kondisi gletser, peningkatan suhu, dan bencana tersebut secara lebih pasti.

Hujan Deras Di nilai Bukan Pemicu Utama

Selain longsoran dan pencairan gletser, para ilmuwan turut memeriksa kemungkinan hujan lebat sebagai pemicu. Namun, bukti sementara membuat faktor ini memiliki kemungkinan lebih kecil sebagai penyebab utama banjir bandang.

Analisis CNN terhadap data satelit dan stasiun cuaca tidak menemukan hujan deras secara luas di sekitar lokasi bencana selama sepekan terakhir. Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa peristiwa lain di kawasan pegunungan memegang peranan lebih besar.

Meski begitu, Nepal dan kawasan Himalaya saat ini berada dalam periode monsun, yaitu musim dengan curah hujan tertinggi sepanjang tahun. Hujan selama musim monsun serta pencairan salju dalam beberapa bulan terakhir kemungkinan telah meningkatkan debit sungai.

Kondisi sungai yang lebih penuh dapat memperbesar dampak ketika longsoran membawa es, batu, tanah, dan sedimen dalam jumlah sangat besar ke aliran air. Material tersebut kemudian dapat mendorong air sungai dan menciptakan gelombang destruktif menuju kawasan yang berada di bagian hilir.

Untuk saat ini, longsoran besar yang kemungkinan melibatkan bongkahan gletser menjadi salah satu dugaan terkuat mengenai penyebab banjir bandang Nepal. Namun, para ilmuwan masih perlu mengumpulkan dan menganalisis lebih banyak bukti untuk memastikan rangkaian kejadian yang mengubah longsoran di Himalaya menjadi bencana dengan ratusan korban meninggal dan hilang.