Pada Selasa, 24 Maret 2026 – Pasukan Rusia melancarkan serangan drone ke pusat kota Lviv, Ukraina. Serangan ini langsung menyasar kawasan bersejarah yang memiliki nilai budaya tinggi. Akibatnya, sejumlah bangunan penting mengalami kerusakan, termasuk situs yang masuk dalam daftar UNESCO.
Selain itu, laporan awal menunjukkan bahwa api melalap bagian luar beberapa bangunan bersejarah. Para ahli kemudian segera melakukan penilaian untuk mengukur tingkat kerusakan secara menyeluruh. Dengan demikian, insiden ini langsung memicu kekhawatiran global terhadap keselamatan warisan budaya dunia.
Kerusakan pada Biara Bernardine
Salah satu bangunan yang terdampak serius adalah Biara Bernardine. Kompleks ini memiliki nilai sejarah nasional sekaligus internasional. Lebih jauh lagi, pemerintah Ukraina telah memasukkan situs ini dalam daftar properti budaya dengan perlindungan khusus tingkat tinggi.
Biara Bernardine berdiri sejak abad ke-17 dan awalnya berfungsi sebagai bagian dari sistem pertahanan kota. Arsitekturnya memadukan gaya Renaisans dan Barok, sehingga mencerminkan perkembangan seni bangunan Eropa pada masa itu. Oleh karena itu, keberadaan biara ini tidak hanya penting bagi Ukraina, tetapi juga bagi sejarah arsitektur dunia.
Saat ini, bangunan tersebut juga menampung Arsip Sejarah Negara Pusat Ukraina di Lviv. Arsip ini menyimpan dokumen penting dari abad ke-12 hingga abad ke-20. Dengan kata lain, koleksi ini memuat rekam jejak sejarah Ukraina dan sebagian besar kawasan Eropa.

Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke Ukraina pada Minggu (5/10/2025) dini hari waktu setempat. Tampak dalam foto, beberapa tim penyelamat berupaya mencari korban di reruntuhan rumah yang hancur akibat serangan roket Rusia di pinggiran Lviv, Ukraina, Minggu 5 Oktober 2025.
Reaksi Pemerintah dan Dunia Internasional
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, langsung mengecam keras serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa Rusia telah menyerang kota yang memiliki nilai budaya luar biasa. Selain itu, ia mendesak Direktur Jenderal UNESCO, Khaled El-Enany, untuk memberikan respons tegas terhadap tindakan tersebut.
Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga menyampaikan kritik tajam. Ia menilai serangan tersebut sebagai tindakan tidak bermoral. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa skala serangan menunjukkan Rusia tidak memiliki niat untuk mengakhiri konflik.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin kembali menjadi sorotan karena kebijakan militernya. Banyak pihak internasional menilai bahwa serangan terhadap situs budaya mencerminkan strategi yang melampaui target militer.
Perspektif Sejarah dan Hukum Internasional
Sejarawan Iryna Sklokina menekankan pentingnya menjaga warisan budaya selama konflik bersenjata. Ia menjelaskan bahwa konvensi internasional telah menjamin perlindungan terhadap situs budaya, termasuk museum, perpustakaan, dan arsip.
Konvensi Den Haag 1954 secara jelas mengatur perlindungan kekayaan budaya dalam situasi perang. Oleh sebab itu, setiap pihak yang terlibat konflik wajib menjaga dan tidak merusak situs-situs tersebut.
Namun demikian, Sklokina juga mengingatkan bahwa tanggung jawab pelestarian tidak hanya berada pada negara tempat situs berada, tetapi juga pada pihak agresor. Ia menambahkan bahwa komunitas internasional mulai mengaitkan penghancuran budaya dengan indikasi kebijakan genosida, terutama setelah konflik di Balkan.
Indikasi Serangan Terarah terhadap Warisan Budaya
Dalam konteks Ukraina, beberapa kasus menunjukkan pola penghancuran yang terarah. Contohnya termasuk perusakan museum dan institusi budaya yang memiliki nilai simbolis tinggi. Menurut Sklokina, tindakan ini bersifat ideologis karena menargetkan warisan yang bertentangan dengan narasi sejarah tertentu.
Namun, ia juga mengakui bahwa tidak semua kerusakan terjadi secara sengaja. Banyak bangunan mengalami kerusakan akibat penggunaan senjata yang tidak presisi atau pertempuran di garis depan. Selain itu, pembangunan struktur militer seperti benteng juga sering merusak situs arkeologi.
Karena itu, investigasi lebih lanjut perlu menentukan apakah pasukan Rusia secara khusus menargetkan arsip di Biara Bernardine atau tidak.
Skala Serangan dan Dampaknya
Dalam 24 jam terakhir, Rusia mengerahkan ratusan drone ke berbagai wilayah Ukraina. Serangan tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, termasuk fasilitas sipil seperti rumah sakit.
Serangan besar-besaran ini menunjukkan eskalasi konflik yang signifikan. Selain itu, masyarakat sipil terpaksa mencari perlindungan di tempat-tempat aman seperti gereja. Kondisi ini memperlihatkan dampak langsung perang terhadap kehidupan sehari-hari warga.
Kesimpulan
Serangan drone di Lviv tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga mengancam identitas budaya suatu bangsa. Oleh karena itu, perlindungan warisan budaya harus menjadi prioritas dalam setiap konflik bersenjata.
Lebih jauh lagi, komunitas internasional perlu mengambil langkah konkret untuk mencegah penghancuran situs bersejarah. Tanpa upaya tersebut, dunia berisiko kehilangan bagian penting dari sejarah manusia.