Sony Honda Mobility (SHM) – Hasil kolaborasi dua raksasa Jepang, akhirnya mengakhiri perjalanan merek kendaraan listrik Afeela. Keputusan ini muncul setelah Honda melakukan restrukturisasi besar pada awal Maret 2026. Perusahaan tersebut langsung membatalkan tiga proyek kendaraan listrik yang sebelumnya dirancang khusus untuk pasar Amerika Serikat.
Langkah tersebut bukan keputusan kecil. Honda menghadapi potensi kerugian hingga 16 miliar dolar AS akibat perubahan arah bisnis ini. Oleh karena itu, perusahaan memilih fokus pada strategi yang lebih realistis dan adaptif terhadap kondisi pasar global.
Selain itu, SHM tidak lagi memiliki fondasi kuat untuk melanjutkan pengembangan Afeela. Perubahan internal Honda membuat proyek tersebut kehilangan dukungan utama yang sebelumnya menjadi tulang punggung kolaborasi.
Tekanan Tarif dan Persaingan Global
Keputusan menghentikan Afeela tidak terjadi tanpa alasan. Kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat saat itu memberikan tekanan signifikan pada industri otomotif, khususnya kendaraan listrik.
Di sisi lain, produsen mobil listrik asal China terus memperluas pengaruh mereka dengan harga kompetitif dan teknologi yang semakin matang. Kondisi ini memperketat persaingan di pasar global, termasuk di Amerika Serikat.
Akibatnya, produsen Jepang seperti Honda harus menyesuaikan strategi mereka agar tetap relevan. Mereka tidak hanya menghadapi tekanan biaya, tetapi juga perubahan preferensi konsumen yang semakin cepat.
Nasib Afeela dan Rencana yang Tertunda
Sebelumnya, SHM merencanakan peluncuran sedan Afeela 1 pada akhir 2026. Mobil ini diposisikan sebagai kendaraan premium dengan harga awal sekitar 90.000 dolar AS atau setara Rp1,5 miliar.
Namun, perubahan strategi membuat rencana tersebut tidak lagi memungkinkan. SHM memang sempat menyatakan akan tetap memanfaatkan teknologi dan aset tertentu dari Honda. Meski begitu, tanpa dukungan penuh, pengembangan produk menjadi sulit untuk dilanjutkan.
Saat ini, masa depan usaha patungan tersebut masih belum jelas. Ratusan karyawan yang bekerja di Tokyo dan California juga menunggu kepastian terkait kelanjutan proyek ini.

Tampilan dua mobil Afeela. Dalam foto ini kiri Afeela 1, kanan prototipe Afeela 2026.
Evaluasi Masa Depan Sony Honda Mobility
SHM menyampaikan bahwa mereka akan terus mengevaluasi arah bisnis ke depan. Perusahaan berkomitmen untuk mendiskusikan langkah strategis bersama Sony dan Honda.
Selain itu, mereka berencana mengumumkan visi jangka menengah dan panjang dalam waktu dekat. Fokus utama tetap pada kontribusi terhadap masa depan mobilitas, meskipun tanpa Afeela sebagai produk utama.
Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan masih mencari bentuk terbaik untuk bertahan di industri yang sangat kompetitif.
Awal Mula Ambisi Sony di Industri Otomotif
Ketertarikan Sony terhadap dunia otomotif sebenarnya sudah muncul sejak 2020. Pada ajang Consumer Electronics Show (CES), perusahaan memperkenalkan konsep mobil Vision-S yang langsung menarik perhatian global.
Mobil tersebut menampilkan berbagai teknologi canggih. Layar besar memenuhi dasbor, sistem audio 360 derajat meningkatkan pengalaman berkendara, dan puluhan sensor terpasang di seluruh bagian kendaraan.
Selain itu, Vision-S dibangun di atas platform dari Magna, pemasok otomotif ternama. Fakta ini menunjukkan bahwa konsep tersebut bukan sekadar prototipe visual, melainkan kendaraan yang dapat berfungsi secara nyata.
Dari Vision-S ke Afeela
Seiring waktu, Sony mulai menunjukkan keseriusan mereka di industri otomotif. Pada 2022, Sony menjalin kerja sama dengan Honda untuk mengembangkan kendaraan listrik secara komersial.
Kolaborasi ini kemudian melahirkan merek Afeela pada 2023. Banyak pihak melihat langkah tersebut sebagai upaya ambisius untuk menggabungkan teknologi hiburan Sony dengan keahlian otomotif Honda.
Namun, dinamika pasar berubah dengan cepat. Kebijakan pemerintah, tekanan ekonomi, dan kegagalan sejumlah startup EV turut memengaruhi arah industri secara keseluruhan.
Kesimpulan: Industri EV yang Semakin Menantang
Penghentian Afeela mencerminkan betapa dinamisnya industri kendaraan listrik saat ini. Perusahaan besar sekalipun harus beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan regulasi dan persaingan global.
Sony Honda Mobility masih memiliki peluang untuk bangkit dengan pendekatan baru. Namun, mereka perlu strategi yang lebih matang agar mampu bersaing di pasar yang terus berkembang.
Ke depan, industri EV akan semakin kompetitif. Oleh karena itu, hanya perusahaan yang mampu berinovasi dan beradaptasi yang dapat bertahan dalam jangka panjang.