Kisah UMKM – Di sebuah rumah sederhana di kawasan Malangjiwan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, aktivitas produksi bawang goreng berlangsung setiap hari. Saryati, pemilik usaha SW Brambang Goreng Jawa, menghabiskan waktunya untuk mengolah bawang merah yang dalam bahasa Jawa di kenal sebagai “brambang”.

Aroma bawang goreng yang khas sering tercium dari dapur rumah produksi tersebut. Dari tempat sederhana inilah, sebuah usaha rumahan yang lahir secara tidak terencana pada akhir 2019 berkembang menjadi produk lokal yang mampu menembus pasar lebih luas, termasuk toko oleh-oleh premium hingga gerai di bandara.

Pada awalnya, Saryati hanya mencari aktivitas tambahan setelah anak-anaknya beranjak dewasa. Ia tidak memiliki latar belakang bisnis kuliner, tetapi ia berani mencoba usaha kecil berbasis rumah untuk membantu perekonomian keluarga.

Tantangan Produksi dan Proses Belajar Mandiri

Perjalanan usaha tidak berjalan mulus sejak awal. Saryati menjalankan seluruh proses produksi secara manual, mulai dari mengupas hingga mengiris bawang merah. Tantangan terbesar muncul pada tahap penggorengan karena kadar minyak sering berlebih.

Tanpa alat peniris minyak, bawang goreng cepat melempem, tidak tahan lama, dan meninggalkan minyak di wadah penyimpanan. Kondisi ini membuat Saryati sempat ragu untuk menawarkan produknya ke pasar yang lebih besar.

Perubahan mulai terjadi ketika ia memutuskan membeli mesin spinner berkapasitas kecil melalui pembelian daring. Mesin ini membantu mengurangi minyak berlebih dan meningkatkan kualitas produk secara signifikan.

Saryati terus melakukan eksperimen waktu penirisan agar hasilnya lebih optimal. Ia memperpanjang durasi proses agar bawang goreng menjadi lebih kering dan renyah. Perubahan ini membuat produk lebih ringan, lebih tahan lama, dan lebih layak masuk pasar ritel.

Namun, peningkatan kualitas ini juga memengaruhi biaya produksi karena berat bahan menyusut setelah proses penirisan.

Komitmen Kualitas dan Bahan Alami Tanpa Pengawet

Di tengah persaingan produk bawang goreng yang cukup ketat, Saryati memilih strategi berbeda dengan fokus pada kualitas bahan. Ia tidak menambahkan tepung atau bahan pengawet dalam produknya.

SW Brambang Goreng Jawa hanya menggunakan bawang merah asli dan garam. Proses penggorengan juga memakai minyak berkualitas tinggi agar hasilnya tetap higienis dan aman di konsumsi.

Saryati menekankan prinsip empati dalam menjalankan usahanya. Ia ingin menghasilkan produk yang aman seperti yang ia harapkan sebagai konsumen. Prinsip ini menjadi dasar utama dalam menjaga konsistensi kualitas produknya.

Perluasan Pasar dan Legalitas Usaha

Seiring meningkatnya permintaan, Saryati mulai melengkapi legalitas usaha. Ia mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat PIRT dari Dinas Kesehatan, serta sertifikasi halal dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal di bawah Kementerian Agama.

Kelengkapan legalitas ini membuka peluang lebih luas bagi produknya untuk masuk ke pasar modern. Saat ini, SW Brambang Goreng Jawa sudah tersedia di sekitar lima jaringan ritel, termasuk pusat perbelanjaan dan toko oleh-oleh di bandara.

Omzet usaha juga mengalami peningkatan. Dalam kondisi normal, Saryati mencatat pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan. Pada periode tertentu seperti bulan Ramadan dan menjelang Lebaran, omzet dapat meningkat hingga Rp7–8 juta per bulan.

Menariknya, Saryati memilih tidak mencantumkan kontak pribadi secara langsung pada kemasan produk maklon. Ia menerapkan prinsip etika bisnis untuk menjaga batas antara kehidupan pribadi dan aktivitas usaha.

SW Brambang Goreng

Saryani menerapkan konsep zero waste dalam menjalankan produksi brambang gorengnya.

Transformasi Digital dan Dukungan Program UMKM

Saryati mengikuti berbagai program pendampingan UMKM yang membantu pengembangan bisnisnya. Salah satunya adalah program BRIncubator yang memberikan pelatihan terkait kemasan, storytelling produk, hingga pengelolaan keuangan digital.

Ia mulai memisahkan pencatatan keuangan usaha dan kebutuhan rumah tangga agar pengelolaan bisnis lebih terstruktur. Dalam transaksi, ia juga memanfaatkan sistem pembayaran digital seperti QRIS dan aplikasi perbankan digital untuk mempermudah operasional.

Penggunaan teknologi membantu Saryati mengelola usaha dengan lebih efisien, terutama saat mengikuti pameran atau menjual produk di luar kota.

Inovasi Zero Waste dalam Produksi

Salah satu keunikan utama SW Brambang Goreng Jawa terletak pada penerapan konsep zero waste. Saryati berusaha memanfaatkan seluruh bagian produksi agar tidak ada limbah yang terbuang sia-sia.

Minyak goreng bekas proses pertama tidak langsung dibuang, tetapi diolah menjadi produk turunan berupa minyak aroma bawang merah dan bawang putih. Produk ini memiliki aroma kuat dan banyak digunakan untuk memasak seperti menumis, membuat sambal, atau nasi goreng.

Selain itu, kulit bawang merah yang biasanya menjadi limbah juga diolah menjadi produk bernilai jual. Setelah di bersihkan dan di keringkan, kulit bawang tersebut dijual sebagai bahan alami untuk berbagai kebutuhan.

Produk ini dimanfaatkan oleh pelaku katering, pengrajin batik, hingga mahasiswa yang membutuhkan bahan penelitian. Permintaan datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Sumatera dan Palembang.

Kolaborasi Akademisi dan Pengembangan Usaha

Perkembangan usaha Saryati juga mendapat dukungan dari dunia akademik. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) membantu mengembangkan mesin spinner berkapasitas lebih besar untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Kolaborasi ini menunjukkan hubungan positif antara UMKM dan institusi pendidikan dalam mendorong inovasi produk lokal.

Kesimpulan

Perjalanan Saryati melalui SW Brambang Goreng Jawa menunjukkan bagaimana usaha rumahan dapat berkembang menjadi produk berdaya saing tinggi. Dengan ketekunan, inovasi, dan komitmen pada kualitas, ia berhasil membawa produk sederhana berbahan bawang merah menembus pasar modern.

Kisah ini menjadi contoh nyata bahwa UMKM dapat tumbuh kuat ketika pelaku usaha berani belajar, beradaptasi dengan teknologi, dan menjaga nilai keberlanjutan dalam proses produksinya.